Jakarta, reformata.com - Hari kedua aksi demonstrasi mahasiswa dalam mengawal Rapat Paripurna DPR terkait kasus Bank Century(3/2) kembali ricuh. Bentrokan antara massa pendemo dan aparat kepolisian yang terjadi di depan gedung DPR pada hari sebelumnya pun terulang. Bahkan pada hari kedua rapat paripurna DPR berlangsung, aksi mahasiswa terlihat seolah lebih terkordinasi secara nasional. Hal ini dibuktikan dengan aksi yang terjadi di berbagai penjuru wilayah Indonesia. Sebagian besar aksi di daerah pun dikabarkan menimbulkan bentrokan antara aparat dan mahasiswa.
Bentrokan di depan gedung DPR RI berawal dari merapatnya barisan mahasiswa ke gerbang gedung DPR. Polisi yang berdiri di balik gerbang pun berdiri berhadapan langsung dengan mahasiswa. Tidak lama berselang mahasiswa dan Polisi sudah terlibat adu dorong dengan mahasiswa. Aparat kepolisian pun turun ke jalan guna mengamankan mahasiswa, namun hal ini justru dibalas dengan lemparan batu oleh mahasiswa. Polisipun membalas dengan tembakan gas air mata serta peluru karet. Bahkan ada oknum polisi yang memungut batu lalu melemparkannya ke arah mahasiswa. Beberapa orang polisi yang terdesak sempat berlari ke arah wartawan yang saat itu sedang mengambil gambar. Hal tersebut membuat para mahasiswa melempar batu ke arah wartawan.
Situasi semakin memanas ketika personil polisi di tambah untuk mengamankan massa yang terus melempari polisi dengan batu. Jumlah polisi yang bertambah banyak, dirtambah tembakan gas air mata dan peluru karet membuat mahasiswa berhamburan dikejar polisi. Beberapa orang mahasiswa yang tidak sempat lari memilih untuk duduk dan tiarap di jalan. Namun diantara mahasiswa tersebut justru mendapat pukulan dari oknum aparat. Pada bentrokan ini empat orang polisi mengalami luka akibat terkena lemparan batu dan empat orang mahasiswa mengalami luka akibat terkana peluru karet. Polisi juga menangkap dua pendemo untuk dimintai keterangan. Jenda Munthe