Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suluh

Kecil Namun Berpengaruh

Posted : 05 Maret 2010
124Suluh.jpg
Pdt. Adieli Zendrato, M.Th, Pembimas Kristen
Pdt. Adieli Zendrato, M.Th, Pembimas Kristen
 
Reformata.com - KETELADANAN dan jejak  pendeta yang melayani di  kampungnya, menjadi daya tarik yang luar biasa bagi Adieli Zendrato. Tak heran jika pria kelahiran Nias, 20 Juni 1965 ini ingin menjadi seperti mereka. 
Di tahun 1980-an, Adieli mene-mukan hal berbeda yang dihadir-kan oleh pendeta di kampungnya. Kehidupan yang sangat seder-hana, dengan Ketulusan melayani walau tanpa gaji. Pemberian je-maat, seperti hasil kebun dan ternak peliharaan berupa babi itu yang selalu mereka terima. Namun, tidak menjadikan pendeta kekura-ngan, apalagi kurang semangat. Sebaliknya Tuhan selalu mencukup-kan kehidupan mereka. Pendeta dikagumi dan disegani oleh masya-rakat, melalui peran yang dapat mereka tampilkan. Hal inilah yang mendorong, suami Nurna Wahyu-ningsih, S. Pd ini, untuk melayani dan ingin menjadi seorang pen-deta, walaupun saat itu dia berpendidikan STM.
Gambaran berbeda terjadi di tahun 1990-an, pendeta tidak lagi melayani fokus. Sebaliknya pen-deta bisa bekerja di mana-mana. Tak heran muncul pendeta pengu-saha yang kaya raya, bahkan ada yang sangat miskin. Semua per-kembangan ini membentuk para-digma Adieli, untuk bergumul men-jadi guru agama selama 15 tahun, dengan status  honorer di Jakarta.

Perantauan menuju harapan
Tujuan hidup Adieli, membuat dirinya bertarung untuk dapat menggapainya. Anak bungsu dari 8 bersaudara ini, berangkat dari Medan-Jakarta-Solo-hingga ke Malaysia-Singapura sejak tahun 1978. Namun waktu dan tuntunan Tuhanlah yang mengantar dirinya membangun harapan di Jakarta.
Bekerja  sebagai guru agama, dengan predikat honorer selama 15 tahun di DKI Jakarta, tidak memudarkan impian Adieli untuk dapat terus berkembang. Maka di tahun 1999, pada masa Pre-siden B.J Habibi, Adieli ikut PNS dan melamar menjadi penyuluh dan ditetapkan di Jakarta tahun 2000. Adieli juga dipercayakan sebagai dosen di Universitas Kristen Indonesia (UKI Jakarta) dan menjabat sebagai sekretaris jurusan PAK dari tahun 2005-sekarang. 
Tuntunan Tuhan tak dapat dimengerti dan sulit diduga oleh ayah 5 orang anak ini. Tepatnya 1 September 2008, Adieli dilantik menjadi Pembimas Kristen Kanwil Depag Provinsi DKI Jakarta. “Itu mukjizat, jarang kejadian seperti ini. Tidak ada faktor siapa pun, hanya Yesus. Tidak masuk akal bagi saya. Saya harus bertanggung jawab dengan kepercayaan besar ini. Waktu pengangkatan pertama banyak yang tidak setuju, dan menganggap ini KKN karena dirjennya orang Nias. Tapi mereka akan tahu melalui apa yang saya lakukan,” ungkap Adieli.
Keaktifan Adieli memberi sebuah penilaian khusus atas kepercayaan yang diterimanya kini. Selain seba-gai penyuluh dan dosen, Adieli juga seorang penulis (buku PAK-PGI Terbitan BPK Gunung Mulia, bahkan majalah AKRAB-internal). Dia tampil vokal dalam menyampai-kan setiap aspirasinya, dan low profile. Hal ini dapat terlihat ketika bertemu dengan dirinya, dan melihat respon setiap staf yang bekerja bersamanya.

Sosok sederhana dan ramah ini begitu yakin dengan tuntunan Tuhan atas dirinya. Dia selalu ketat untuk urusan apa pun. Setiap permohonan diteliti dengan baik, agar tidak salah dalam pengam-bilan kebijakan. Membangun pen-dekatan dengan pemerintah dae-rah. Berkoordinasi dan memba-ngun komunikasi dengan lem-baga-lembaga terkait. Mengada-kan komunikasi dengan gereja-gereja. Melakukan pendataan guru, pengawas, STT, bahkan gereja. Adalah agenda yang telah dilakukan dan sedang dikerjakan Adieli dengan team sepanjang 2008-2010 nanti.

Kesadaran dan nilai kristiani
Sosok yang suka ngobrol, dis-kusi, dan bertukar pikiran ini menyadari fungsinya untuk dapat terus memberi gambaran kepada gereja-gereja tentang apa yang sedang terjadi. Kekacauan dalam pola keberimanan. “Sesungguhnya tidak ada perkembangan kekriste-nan. Orang Kristen harus fokus bahwa dirinya adalah terang dunia, sebagai apa pun dia. Dalam ber-bagai hal, saat berpikir, bertindak, dan berkata-kata,” tutur Adieli pasti.
Adieli menyadari posisinya dan rekan-rekannya sebagai aparat pemerintah saat ini: “Muatan kami ada 10 ton. Mesin hanya dapat membawa 200 kg. Maka mobil kami tidak bisa jalan. Namun, seke-cil apa pun kita, harus berguna bagi Allah, sesama, dan diri sendiri! Kita bisa memberi arahan, pola pikir, metode-metode apa yang benar. Banyak gereja mainstream yang mencibir kita, siapa kita? Sekecil apa pun kita harus saling menghargai. Lembaga-lembaga gereja dan Bimas Kristen itu adalah mitra kerja,” seru Adieli tegas.
“Munculnya berbagai sinode tidak menjadi jawaban atas kebu-tuhan jemaat/gereja. Malah seba-liknya menjadi masalah. Ada 329 sinode, Khusus di Jakarta ada 119 sinode. Ada 15% yang tidak jelas. Sinode-sinode yang tidak aktif, agar segera menyerahkan diri supaya ditutup. Sudah diserukan sejak 2006, namun tetap sulit memba-ngun kerja sama antara gereja-gereja tersebut dengan pembimas di Indonesia,” ungkap Adieli dengan rasa prihatin. Hal prinsip yang muncul lainnya adalah dengan banyak pendapat teologi/pemaha-man pribadi yang dianggap itu dok-ma/teologia. Selain muncul banyak dogma/gereja, muncul juga banyak STT dan Yayasan Kristen. 

“Banyak STT tidak punya ke-kuatan apabpun. Minimnya sumber daya manusia, dan dasar teologi yang lemah. Banyak disinyalir hanya dengan proposal, yang hanya meminta-minta. Akhirnya gulung tikar. Gelar sarjana teologia diidentikkan dengan pendeta, ini pembodohan. Ada lagi kegiatan penginjilan ke daerah-daerah. Dan mulai membangun gereja hanya dari kumpulan keluarga. Itulah kelemahan-kelemahan yang ter-jadi,” tambah Adieli dengan sedih. Tak heran ini memberi dampak terhadap minimnya peningkatan kualitas pelayan dan pertumbuhan umat di Indonesia.
Perbaikan ke dalam, mening-katkan pendidikan, dan banyak membaca adalah cara Adieli mempertahankan kualitas diri. Tak ketinggalan Adieli menyampaikan harapannya: “Mulailah dari kesada-ran. Tanpa kesadaran tidak mung-kin muncul pemikiran baru tentang apa yang akan kita lakukan ke depan. Kesadaran tentang nilai-nilai kristiani kita, di mana pun posisi kita. Bagaimana kita mengasihi Tuhan diwujudkan dalam kehidupan, sebagai umat kristiani. Tetap fokus pada Tuhan, mewujudkan kera-jaan Allah di bumi,” tandas Adieli dengan semangat.
Berguna bagi Allah adalah tujuan hidupnya. “Karena Dari DIA, Oleh DIA, dan bagi DIA” adalah moto hidupnya.
  Lidya



65
51 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.7263 sec | TOP
Online Support :