Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan harapan itu?
KEMATIAN Eni Juner pada 5 Januari 2010 di rumah kontrakannya di RT 04/02, Jl. Pondok Randu, Durikosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, tidak hanya menggegerkan warga sekitarnya tapi juga masyarakat luas. Ia meninggal pada hari ke-34 saat sedang menjalani puasa selama 40 hari. Yang menggegerkan masyarakat, mayat wanita asal Kapuas, Kalimantan Tengah itu baru diketahui lima hari kemudian setelah tubuhnya membusuk.
Menurut pengakuan tiga rekan Eni yang juga sama-sama menjalani puasa, yaitu Andri asal Bandung, Elizabeth Tita Wahyu Arinda asal Malang, dan Ani Minarti asal Blitar, mereka sengaja tidak memberitakan kematian Eni kepada tetangga atau keluarga karena berkeyakinan bahwa jasad Eni akan hidup lagi pada hari kelima terhitung dari hari kematiannya. Sejak ia meninggal, ketiga rekannya meletakkan jasad Eni di atas selembar karpet merah, di salah satu kamar rumah kontrakan mereka. Sejak itu pula, ketiga rekannya itu terus berdoa yang dilandasi keyakinan penuh bahwa Tuhan akan kembali menghidupkan Eni pada hari kelima.
Keyakinan mereka seperti dituturkan Eli kepada polisi, jasad perempuan kelahiran Kapuas, 10 Februari 1974 ini sengaja tidak dilaporkan kepada siapa pun karena diyakini Eni akan hidup lagi. Keyakinan itu didasarkan pada wahyu yang turun tiba-tiba saat itu. “Saat dia meninggal dunia, saya mendapat wahyu. Saya didatangi Tuhan bersama dua malaikat-Nya dan berseru bahwa Eni bisa bangkit lagi jika didoakan,” tutur Ani. Karena itu, lanjutnya, kami terus berdoa sepanjang hari agar jasad Eni itu hidup kembali. Namun, hingga hari yang ditentukan, jasad anggota jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI), Jakarta Barat, ini tak juga hidup. Malah jasad Eni kian membusuk hingga akhirnya diketahui warga sekitar, yang kemudian menjadi peristiwa yang menyentakkan publik.
Tujuan puasa
Eni bersama ketiga rekannya berpuasa sejak 27 November 2009 lalu. Mereka berpuasa hendak mendoakan bangsa Indonesia agar luput dari segala bencana. “Banyak korban bencana yang meninggal sia-sia. Sebab itu, dengan puasa itu, bisa mengurangi bencana yang terjadi di Indonesia ini,” tutur mereka. Bersamaan dengan keinginan mendoakan bangsa Indonesia luput dari bencana, pada awal 2010, Eni dan rekan-rekannya berkeinginan pergi ke Inggris dan Vatikan. Di sana mereka berencana melakukan doa bagi bangsa Indonesia dan jiwa-jiwa yang tidak tenang. “Dan untuk bisa ke sana, terlebih dulu harus melakukan ritual puasa,” ujar Eli.
Diketahui bahwa, Eni yang dikenal sebagai pendoa untuk orang-orang sakit ini bersama ketiga temannya itu melakukan ritual puasa mutih; puasa yang hanya makan nasi putih dan minum air putih, dan itu pun hanya sekali makan dan minum dalam sehari. Mereka menetapkan makan dan minum hanya dilakukan pukul 03.00 dini hari. Pada hari ke-33, tepatnya Senin malam, 4 Januari 2010, Eni mengaku lemas dan tidak enak badan. Meski demikian, dia tetap melanjutkan ritual puasanya hingga keesokannya meninggal dunia. Disinyalir, Eni meninggal karena dia sudah tidak tahan lagi menahan lapar.
Salah paham
Meninggalnya Eni saat sedang menjalani puasa dan bentuk dari praktek puasa yang mereka lakukan mendatangkan tanggapan berbeda. Ada yang menilai bahwa, praktek ritual yang mereka lakukan sudah termasuk aliran baru yang dianggap sesat. Tapi ada juga yang menanggapi sebaliknya. Seperti dikatakan Pdt. Fu Kwet Thiong, bahwa apa yang dilakukan Eni dan kawan-kawannya bukan termasuk aliran sesat. “Mereka hanya terjebak ke dalam pemahaman yang salah tentang praktek puasa dan wahyu,” ujar gembala sidang GSRI Citra 2, Cengkareng, Jakarta Barat ini. Ketiga rekan Eni, kata dia, memahami secara salah tentang wahyu. “Mereka kira bahwa sesuatu yang datang ke mereka itu yang membeitahukan bahwa Eni akan bisa hidup lagi asalkan terus didoakan adalah wahyu. Itu sebetulnya bukan wahyu. Wahyu dari Tuhan itu sudah terjadi dan sudah lengkap, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru,” jelasnya.
Wahyu dari Tuhan, lanjut Pdt. Fu, sudah diberikan kepada para nabi dan rasul untuk menuliskan firman-Nya. Wahyu Tuhan yang disampaikan melalui para nabi dan rasul untuk kita itu mengatakan bahwa Tuhan sungguh mengasihi dunia ini yang definitifnya terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Di luar wahyu adalah pencerahan. “Jika ketiga rekan Eni merasakan sesuatu dan sesuatu itu kemudian dirasakan atau dianggap dari Tuhan, itu sebetulnya pencerahan, dan bukan wahyu,” tandasnya.
Stevie Agas