Penekanan puasa bukan pada pembatasan makan dan minum, tapi keterbukaan hati untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan
Reformata.com - TERLAMPAU meyakini apa yang dikonsepkannya terhadap suatu tindakan iman, dapat membawa dirinya, atau bisa jadi juga orang lain pada bahaya. Seperti yang dilakukan Eni Juner dan tiga rekannya, karena berangkat dari pemahaman yang salah tentang pelaksanaan dan tujuan berpuasa, akhirnya meninggal dunia. “Puasa yang mereka lakukan bukan lahir dari sebuah pemahaman yang benar tentang pelaksanaan dan tujuan berpuasa dalam Kristen,” kata Pdt. Fu Kwet Khiong.
Menurut Gembala Sidang Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Citra 2, Cengkareng Jakarta Barat ini, berpuasa dalam Kristen tidak diajarkan dalam patokan berapa kali makan dan minum sehari, sebaliknya yang ditekankan adalah keterbukaan hati dan kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Sejalan dengan itu, saat hari-hari kita berpuasa, tidak berarti juga kita menutup diri dari pergaulan dengan sesama dalam masyarakat. Juga tidak menghentikan aktivitas kerja. Dia mencontohkan, ketika kita masuk ruang kerja, dan kita berhadapan dengan komputer, sementara pada hari tersebut kita mendekatkan diri pada Tuhan dengan berpuasa, maka sebelum mulai bekerja, yang kita lakukan terlebih dahulu adalah berdoa atau menghapal satu ayat Alkitab. Siang hari, ketika rekan-rekan kerja pergi makan siang, kita bisa manfaatkan waktu itu untuk sekali lagi berdoa puasa.
“Namun lagi-lagi berpuasa bukan hanya sekadar membatasi diri untuk makan dan minum, tapi keterarahan segenap pikiran pada kehendak Tuhan hingga benar-benar berdampak pada perubahan, yakni perubahan kedekatan dengan Tuhan itu sendiri,” lanjutnya.
Karena itu, lanjut Pdt. Fu, bagi orang Kristen, berpuasa harus berlandas pada kehendak Tuhan sendiri. “Yang dikehendaki Tuhan adalah tindakan hati yang berbalik, dan keseluruhan hidup yang kembali tertuju pada-Nya. Jadi bukan soal boleh atau tidak boleh makan dan minum, atau juga bukan soal makan dan minum dibatasi ketika berpuasa,” tandasnya.
Pertobatan
Dikatakan Pdt. Fu, berpuasa bukan hal baru dalam kekristenan. Baik dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB), praktek puasa cukup banyak disebutkan. Dalam Keluaran 34: 28 misalnya, dikatakan, Musa tidak makan dan tidak minum selama 40 hari. Lalu dalam 1 Samuel 7: 6 ditulis, ketika Israel menghadapi Filistin mereka mengaku dosa dan berpuasa. Kemudian ketika Nehemia mendengar situasi Yerusalem, ia berdoa dan berpuasa (Neh 1: 4). Juga dalam Yoel 2:12 dijelaskan, bahwa Yoel menuyuruh umat bertobat dan berpuasa. “Dari cerita-cerita tersebut tampak bahwa puasa terkait erat dengan penyesalan diri dalam pertobatan, dan dikatikan dengan doa dalam usaha lebih mendektakan diri pada Tuhan,” ujar Pdt. Fu.
Lebih jauh, Pdt. Fu menjelaskan, berpuasa merupakan tindakan sukarela dan termasuk dengan sengaja tidak makan dan minum, dengan tujuan agar dapat memusatkan pikiran terhadap doa. Atau kata lain, puasa merupakan suatu keputusan tindakan yang dengan kesadaran penuh menjauhkan diri dari makanan ataupun minuman untuk menambah kuasa yang lebih besar pada doa seseorang.
Dalam PB, lanjut Pdt. Fu, tercatat Yesus berpuasa dengan tidak makan dan minum 40 hari lamanya sebagai persiapan menghadapi godaan dan ujian. Dalam Kis 13: 13 ditulis, ketika Paulus dan Barnabas diutus, mereka berpuasa. Sementara dalam Injil Matius 17: 21 dan Markus 9: 29 dinyatakan, bahwa selain dikaitkan dengan pertobatan dan upaya lebih dekat pada Tuhan, puasa juga dikaitkan dengan meminta kuasa untuk memerangi setan.
Namun, masih menurut Pdt. Fu, esensi puasa seringkali kabur dan nyaris tidak ada, ketika seseorang berpuasa bukannya ditujukan sebagai ekspresi pertobatan tetapi menjadikannya sebagai tuntutan untuk memperoleh sesuatu. “Puasa seringkali sekadar upacara ritual tanpa penyerahan diri pada Tuhan, dan berperilaku munafik hanya untuk membenarkan diri sendiri,” ungkapnya. Orang-orang seperti ini, lanjutnya, persis yang dikatakan Yesaya 58: 3b-4: “Sesungguhnya pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, …”.
Bukan aturan agama
Puasa Musa di PL, dan puasa Yesus di PB, yang tidak makan dan minum selama 40 hari, bukan karena keharusan agama, tapi sebagai masa persiapan menghadapi godaan dan ujian sebelum diutus. “Dan konteks saat itu menunjukkan suasana gurun, di mana tidak tersedia makanan maupun minuman,” lanjut Pdt. Fu.
Diingatkan pula Pdt. Fu, bahwa puasa itu juga merupakan ibadah seperti yang tercatat dalam Yesaya 58: 6-7. Karena di dalamnya terkandung relasi yang intim antara orang yang berpuasa dengan Allah. Meski demikian, lanjutnya, berpuasa bukan ditentukan oleh aturan agama, tapi komitmen dari seseorang yang mau berpuasa, termasuk ketentuan mau makan-minum atau tidak, dan juga komitmen berapa lamanya dia berpuasa.
Stevie Agas