Karena merasa tak puas dengan apa yang ada, timbul kecenderungan untuk mencari sesuatu yang baru.
Reformata.com - MENINGGALNYA Eni Juner pada 5 Januari 2010 di kamar kontrakannya, Jl. Pondok Randu, Jakarta Barat, disesalkan oleh banyak kalangan, termasuk para pimpinan agama Kristen. Mereka menilai, praktek puasa serta kerinduan ketiga rekan Eni yang mengharapkan agar Eni bisa hidup lagi pada hari kelima, tak sesuai dengan ajaran Kristen. Meski bukan termasuk fenomena aliran sesat, tapi ada pimpinan agama Kristen menilai kegiatan itu terlampau meyakini apa yang sedang mereka lakukan.
Lepas dari bingkai ajaran Kristen, teropongan psikologis tentu berbeda lagi atas munculnya keyakinan Eni dan rekan-rekannya, juga termasuk terus timbulnya aliran-aliran baru dewasa ini dalam agama-agama yang disinyalir sebagai aliran sesat. Tentang hal ini, berikut petikan wawancara dengan Primus Domino, dosen beberapa universitas di Jakarta dan peneliti psikologi agama dan sosial, alumnus UGM.
Bagaimana komentar Anda terhadap praktek puasa dan keyakinan ketiga rekan Eni bahwa Eni akan hidup lagi pada hari kelima?
Fenomena ini dominan dipengaruhi ketidakpuasan psikologis (psychological dissatisfaction) seseorang. Itu bisa dimengerti karena, kodratnya manusia itu tak pernah puas dengan segala yang telah dimilikinya. Terjadinya ketidakpuasan itu karena kebutuhan manusia selalu bertambah dan berkembang. Kita tahu bahwa ketika umur seseorang bertambah, dia cenderung untuk semakin banyak memuaskan kebutuhannya. Dengan kata lain, selama masih hidup, seseorang tak akan pernah puas dengan hidupnya. Karena itu, dia akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya itu yang selaras dengan perubahan kebutuhan itu sendiri.
Termasuk memenuhi kebu-tuhan rohani?
Betul. Secara psikologis, apa yang dilakukan Eni dan rekan-rekannya itu lahir dari ketidakpuasan mereka terhadap satu cara yang sudah ada misalnya. Cara lama berpuasa atau jalan berpuasa sebagaimana yang diajarkan dalam agamanya, mereka rasakan tidak tepat. Cara lama dalam agama itu dianggap tidak memuaskan kebutuhannya mendekatkan diri pada Tuhan. Makanya, mereka cari bentuk lain. Mereka terus menggali satu cara yang menurut mereka tepat. Apalagi, seperti dikatakan Abraham Maslow, kebutuhan paling tinggi manusia adalah mendekatkan diri dengan ilahi (peak experience). Ketiga rekannya yang meyakini Eni hidup lagi sebenarnya wujud dari sebuah ketakutan mereka yang berlebihan atas kematian Eni sendiri, lalu amat mendambakan Eni hidup lagi. Itu mustahil terjadi.
Bagaimana dengan feno-mena aliran-aliran baru yang dianggap sesat?
Alasannya sama saja. Munculnya sekte-sekte baru—yang kemudian ada yang menyebutnya aliran sesat—disebabkan berkembangnya kebutuhan-kebutuhan pada dua komponen yang berkepentingan di dalamnya, yaitu kebutuhan pendiri sekte dan para pengikutnya.
Hemat saya, jarang sekali sebuah sekte baru dibentuk karena kesepakatan di antara anggota-anggotanya. Sekte baru hampir selalu terbentuk karena kemampuan seorang pendirinya. Biasanya pendirinya memiliki kharisma atau kemampuan tertentu untuk menarik minat orang lain, membuat orang lain tunduk dan kagum terhadap perbuatan dan perkataannya, yang kemudian orang-orang itu masuk menjadi anggotanya. Pendiri aliran baru ini tentu orang luar biasa. Ambil contoh, ketika tahun 1978 seorang pendeta gereja Methodist, Jim Jones, mendirikan pople’s temple dan yang menyebabkan proses bunuh diri masal 913 pengikutnya, pengikut-pengikutnya yang masih hidup mengatakan, “Jones adalah orang yang penuh kharisma. Dia memiliki visi yang jelas, bahkan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan Tuhan”.
Apa sebab ketidakpuasan seseorang akan kebu-tuhannya, lalu harus berwujud mendirikan aliran baru dalam agama?
Beberapa kebutuhan—yang disebabkan ketidakpuasan tadi—seseorang mendirikan aliran baru. Yang pertama, kebutuhan kekuasaan, di mana, pendiri aliran baru berniat mendominasi orang lain. Kedua, kebutuhan akan otonomi. Kebutuhan ini lahir karena pendirinya merasa terkekang dengan aturan-aturan lama dalam agamanya. Ketiga, kebutuhan menonjolkan diri. Pendirinya bangga dan puas bila khotbahnya didengar orang.
Lalu alasan orang-orang mengikuti aliran itu?
Alasannya juga beragam. Katakanlah, adanya kebutuhan sikap hormat. Pengikut aliran baru itu menemukan rasa aman dengan tunduk pada pemimpinnya. Juga adanya kebutuhan untuk dicintai. Artinya, seseorang akan merasa diakui keberadaannya bila ia dicintai. Kemudian, juga adanya kebutuhan afiliasi. Artinya, dia akan merasa lebih senang bila menjalin relasi dengan sesamanya yang memiliki pengalaman yang sama. Bila dalam satu aliran baru sudah ada pengikut yang memiliki penglaman hidup yang sama, dan dilihatnya bahagia, pasti dia akan ikut juga dalam aliran itu.
Namun, harus diingat jika seseorang ikut aliran baru hanya karena ketakutan/kekhawatiran, maka mereka tidak akan bisa bebas sepenuhnya dari ketakutan itu sendiri. Bahwasannya, ketakutan yang berkelanjutan akan menimbulkan rasa tidak berdaya, dan ini akan membuat seseorang menjadikan segala kegiatan yang dilakukannya, termasuk beribadah dalam aliran baru itu, sebagai obyek pelarian diri.
Stevie Agas