Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Daily News

PMK HKBP Diskusi Damai Aceh Dan Papua

Posted : 05 Maret 2010
logo_h12.jpg
PMK-HKBP Jakarta menjadi  fasilitator pertemuan antara mahasiswa Papua dan Aceh. Pertemuan yang diadakan di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh belum lama ini ditujukan untuk membagi cerita dan pengalaman para aktivis politik dan sosial dari Liga Inong Aceh (Lina). Pengalaman dan cerita yang dimaksudkan adalah menggam-barkan bagaimana terwujudnya perdamaian di Aceh. Keseluruhan dari diskusi tersebut dijadikan sebuah catatan penting yang tertuang dalam “Rekonsiliasi Gerakan Demokratis Aceh-Papua”.
Dalam acara tersebut Amiruddin Usman dari FKK membagikan pengalaman tentang pembelajaran dari Aceh untuk Papua. Amiruddin mengungkapkan bahwa setiap penyelesaian konflik tidak mesti diselesaikan dengan perang. Amiruddin menegaskan bahwa perang tidak akan menyelesaikan suatu permasalahan, untuk itu semestinya suatu permasalahan dapat diselesaikan dengan cara-cara pendekatan yang persuasif. Amiruddin menambahkan bahwa bahkan banyak negara telah menerapkan cara-cara persuasif untuk menyelesaikan beberapa konflik internal.
Hadir juga dalam pertemuan ini seorang aktifis asal Papua, Jeffrey Papare. Pada diskusi tersebut Jeffrey memaparkan dan menggambar-kan situasi dan kondisi Papua terkini. Jeffrey mengungkapkan, bahwa membicarakan satu persoalan di Papua, berarti membicarakan persoalan di Negeri Cendrawasih itu secara keseluruhan. “Intinya yang diinginkan oleh rakyat Papua, salah satunya meluruskan kembali. Bahkan masukan dari kami agar konflik di Papua bisa diredam, setiap ada dialog, dilibatkan masyarakat atau tokoh Papua. Tapi yang selama ini dilakukan tidak pernah dilibatkan tokoh dari Majelis Rakyat Papua (MRP) atau tokoh masyarakat lain,” kata Jeffrey.
Jeffrey menegaskan bahwa titik temu konflik di Papua tak kunjung terselesaikan. Menurutnya persoalan yang paling mendasar dari konflik salah satu faktornya karena ketidak-terbukaan masalah otonomi khusus (otsus). “Otsus di Papua masih sangat kurang dibandingkan dengan Aceh. Demikian pula halnya dengan sektor lainnya, seperti pendidikan, ekonomi dan sektor-sektor lainnya, Papua masih jauh tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain,” ungkap Jeffrey. Jeffrey pun sempat mengemukakan bahwa orang-orang penting dari Papua seperti Bennig Wenda, di Inggris, Okto Mote di Amerika dan Okto Ondawame di Australia, terus mencari cara agar gejolak di Papua dapat diselesaikan. Jeffrey juga menyinggung tentang sektor pekerjaan dan mayoritas penduduk di Papua saat ini. Menurutnya data yang diperoleh dari BPS pada 2009 terdapat sebanyak 43 persen pendatang. Dan pada 2011 prediksi BPS sebut Jeffrey, diperkirakan ada 53 persen penduduk di luar rakyat Papua, baik itu transmigrasi maupun migrasi.
Sementara itu saat ditanyai lewat mengapa memilih Aceh untuk berbagi cerita tentang situasi dan kondisi di Papua, Jeffrey Papare mengungkapkan bahwa situasi dan kondisi antara Aceh dan Papua tidak jauh berbeda. Situasi yang panas akibat adanya konflik penduduk setempat dengan pemerintah diperparah dengan adanya konflik senjata. Aceh terlebih dahulu mengalami dan berhasil menemukan jalur perdamaian untuk menyelesai-kan konflik. Jadi ada baiknya mendengar pengalaman dan belajar dari Aceh. Termasuk bagaimana membangun hubungan politik internasional seperti apa yang sebelumnya pernah dibangun oleh Aceh.              
 Jenda

58
10 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 16.7652 sec | TOP
Online Support :