Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Ungkapan Hati

Wanita Terhilang Yang Ditemukan Kembali

Posted : 01 Maret 2010
Wanita-Terhilang-yang-Ditemukan-Kembali.jpg
Titi Margareta, Koster dan Tukang Cuci
Reformata.com - HIDUP tanpa tujuan,  bagaikan hidup dalam  kematian. Bagaikan perahu tak bernakhoda, terombang-ambing tanpa arah yang jelas. Hal ini disadari oleh Titi Margareta, wanita kelahiran Cepu, Jawa Tengah 22 Agustus 1955. Dia merasa cukup lama hidup tanpa arah, dihiasi banyak pria yang kepincut dengan daya tariknya.
Dalam usia yang masih tergolong kanak-kanak, 13 tahun, Titi sudah menikah. Tapi hanya empat tahun dia hidup dalam pernikahan. Dia diceraikan suami. Tidak lama setelah menjanda, tepatnya di usia ke-20 tahun, Titi menikah lagi dengan pria lain. Sebagai wanita yang masih berusia muda waktu itu, Titi memang belum matang dari segi kejiwaan. Jika ada persoalan dengan suami, dia meninggalkan rumah, dan menjadi tukang cuci atau pembantu rumah tangga di rumah orang, masih di wilayah itu. Namun sang suami, dengan kesabarannya selalu menjemput dan membawa Titi pulang ke rumah. Namun pada 1982, Titi meninggalkan rumah. Kali ini dia menuju Jakarta.

Hidup   
Di Jakarta, Titi bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun selalu berpindah-pindah tempat karena dia cepat merasa jenuh di satu tempat. Sadar kalau dirinya masih muda dan memiliki daya pikat yang cukup kuat, Titi meninggalkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Dia tinggal sendiri di tempat kos, dan menghabiskan uang simpanannya selama menjadi pembantu rumah tangga.
Hingga suatu saat, demi memenuhi kebutuhan hidup, Titi terjerumus dalam kehidupan lembah hitam, menjadi pekerja seks komersial (PSK), pada 1985. Bergonta-ganti  pasangan, menenggak minuman keras, menjadi kesehariannya. Sampai di situ Titi sebenarnya bingung tentang apa yang telah dia lakukan. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya dia cari dengan kehidupan semacam itu. Dalam ketidaktenangan, Titi menjalani semuanya. Penghasilan yang dia peroleh setiap hari dari pria-pria hidung belang, langsung dia habiskan Titi bersama teman-temannya. Akhirnya pada 1989, Titi memutuskan berhenti menjadi PSK.  
Titi hidup dalam kesepian, kekosongan, dan kebingungan. “Apa yang sedang saya cari. Hidup saya tanpa arah,” aku Titi. Waktu berputar, Titi akhirnya bertemu dengan seorang pria, dan hidup bersama tanpa ikatan pernikahan dengan pria itu selama tujuh tahun. “Saya ingin menitipkan hidup saya. Selama 7 tahun, saya membiayai hidupnya, dengan harapan akan hidup selamanya dengan pria itu, namun ternyata dia pulang ke kampung dan menikah dengan wanita lain,” kisah Titi.
Titi semakin putus asa dengan kehidupannya, dan ingin mati. “Tuhan saya capek, ambillah nyawa saya. Segala sesuatu saya sendiri. Bukankah, saya telah banyak melakukan dosa, mengapa Engkau membiarkan saya tetap hidup?” Begitu doa dan pertanyaan Titi yang sudah pasrah.  
Perjalanan hidup Titi semakin tidak menentu. Mulai dari kehidupan rumah tangga yang berantakan, melakukan per-selingkuhan, menjadi tukang cuci, PSK, hingga kumpul kebo. Titi baru tersentak, betapa hidupnya tidak berarti dan kotor.

Terang yang menghidupkan
Suatu ketika, dalam sebuah kondisi tak terduga, Titi yang sedang belanja di warung, seperti merasa terpana memandang salib yang dipajang di dinding rumah warung itu. Sejak itu ada kerinduan dalam hatinya untuk ke gereja. Dia pun bertanya kepada pemilik warung. “Apakah Bapak, orang Kristen? Saya seperti ayam kehilangan induk. Saya mau ke gereja, tapi tidak tahu harus dibawa melalui siapa?” aku Titi polos dan mengisahkan masa lalunya. Singkat cerita, pemilik warung menerima Titi menjadi tukang cuci, dan mengantarnya ke gereja.  
Dia mulai menjalani sejumlah proses seperti katekisasi, pembaptisan, dan pelayanan diakonia, Juni 2004. Namun ternyata semua itu tidak langsung membuat Titi berubah. Boleh dikata dia masih buta dengan tuntutan hidup dari seorang yang sudah memberikan hidupnya menjadi pengikut Yesus. Dia masih menjadi tukang cuci, namun  terjebak dalam hutang. Hingga di suatu kesempatan, Titi diajak mengikuti ibadah kaum wanita di Gereja Urapan Kristus yang kini menjadi Gereja Isa Almasih Jatinegara (GIA Janet).
Kerinduan untuk melayani melalui mencuci piring, mengepel, membersihkan ruang ibadah, mendorong Titi menawarkan bantuan dengan tulusnya. Kesempatan ini diterima baik oleh pihak gereja, sehingga Titi dipercayakan dalam bidang ini.
Latar belakang yang gelap dan kotor, tidak menjadi penghalang bagi Titi untuk melayani di gereja. Perlakuan baik oleh gereja, menghantar Titi melayani sebagai seorang koster di gereja. “Betapa baiknya Tuhan pada saya. Kehidupan saya yang gelap tidak menghalangi kasih-Nya, dan kasih orang gereja kepada saya. Saya bukan hanya bisa beribadah kepada Tuhan, tapi saya diijinkan tinggal dirumah-Nya dan melayani Dia,” kisah Titi penuh keharuan.
Kini Titi melayani fulltime di GIA Janet, dan tetap menjadi tukang cuci di salah satu rumah jemaat. Kebahagiaan terbesar Titi, adalah bangun pukul 03.30 WIB untuk masak air dan mempersiapkan ruangan ibadah, untuk ibadah subuh pukul 05.00 setiap harinya. Dia membuka pintu dan membuat kopi bagi setiap jemaat yang hadir. Dia juga membuat catatan kegiatan, mempersiapkan lagu-lagu sebagai operator infokus, dan beribadah bersama.  
“Walau hanya sempat menikmati pendidikan di kelas 4 SD, tapi saya benar-benar mau belajar. Waktu saya belum bisa mengoperasikan laptop/infokus, setiap malam saya belajar mengutak-atik sendiri sambil meminta Tuhan memberikan hikmat-Nya pada saya, serta belajar dari orang lain, akhirnya saya bisa. Benar-benar membuat saya bersuka, puji Tuhan,” dengan penuh semangat Titi mengurai kemajuannya.

Perkembangan Titi membuat banyak orang bersuka cita. “Dia rajin, riang-gembira, pekerja keras, tidak mengenal lelah. Baik sekali, saya melihat pertum-buhannya. Tapi karena sakit teroidnya, kadang membuat dia sulit mengontrol emosinya,” tutur Dian Kar-melia, ibu gembala di mana Titi melayani.
Titi, wanita terhilang yang kem-bali dite-mukan. Kasih dan pengharapan dalam Kristus membuat dia menemukan harapan dan ke-bangkitan untuk maju. Penerimaan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya, mem-buat Titi kembali hidup dalam perbaikan yang lebih baik. Titi membuat kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan anak-Nya tersesat. Tuhan mendengarkan doa anak-Nya.  
Peran gereja dalam kasih, adalah dukungan terbesar kepada Titi, menemukan keluarga dan kasih yang dia cari selama ini. “Saya tidak ingin apa yang saya lakukan sia-sia, tidak berkenan kepada Tuhan. Tidak ada artinya saya bangun setiap pagi, dan melayani semua orang, jika itu tidak berkenan di hati-Nya. Bertahun-tahun saya tidak bertemu keluarga saya, namun tidak ada kerinduan sebesar kerinduan saya kini. Kerinduan untuk selalu ingin bertemu jemaat dan pelayan Tuhan di gereja. Kerinduan untuk dapat beribadah bersama di gereja-NYA,” demikian harapan Titi dengan mata berbinar.
Lidya

66
25 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 5.8703 sec | TOP
Online Support :