Reformata.com - TIDAK semua menu “pinggir jalan” hanya dijual di pinggir jalan saja dan dinikmati oleh kelas menengah ke bawah. Memindahkan menu “pinggir jalan” ke restoran kelas menengah ke atas merupakan kerjaan Linny Surjana dengan keempat temannya. Mereka memindahkan masakan Jawa, utamanya khas Semarang, yang biasa dijual di pinggiran jalan, menjadi menu bagi kelas menengah ke atas.
Memasak memang sudah menjadi hobinya sejak di sekolah menengah pertama. Kebetulan, orang tua dan bahkan nenek dari wanita kelahiran Semarang 20 Oktober 1948 ini juga jago dalam masak-memasak ini. Setelah dewasa, istri dari Andi Surjana ini sempat bekerja di sebuah restoran Korea, sekitar tahun 1980-an.
Dia ditawari menjalankan “Warung Kopi” di Lantai V, Sogo, Plaza Senayan, Jakarta. “Kebetulan seluruh fasilitas telah mereka siapkan, termasuk dekorasi yang bagus sekali. Tapi tidak bisa mereka jalankan, sehingga dia tawarkan ke saya. Jadi kita masuk hanya dengan membawa kompor, istilahnya,” cerita Linny. Ia pun keluar dari tempat kerjanya dan menjalankan warung kopi yang tak memiliki dapur itu bersama empat orang anggota keluarga dan sahabatnya.
Awalnya memang sangat sulit mendatangkan pelanggan. Soalnya, lantai V itu adalah tempat penjualan barang-barang antik dan tradisional mulai dari patung, batik, tikar anyaman. Karena itu sangat sedikit pengunjung yang datang, paling-paling turis asing atau orang Indonesia yang gemar pada barang antik.
Dengan variasi menu yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, peminat pun berdatangan. “Hampir semua masakan Jawa yang biasanya dijual di pinggir jalan ada. Tapi ini kita jual di mal,” kata ibu yang sempat mengenyam pendidikan psikologi di Universitas Indonesia ini. Perlahan tapi pasti, akhirnya “Warung Kopi” yang dikelolanya itu makin populer. Sampai-sampai ada banyak orang yang naik ke lantai V Sogo hanya untuk menikmati makanan di warungnya. Namanya kemudian berubah menjadi “Warung Kita” – bukan “Warung Kopi” lagi dan menyebar di 12 lokasi.
Kerja sama
Setelah 5 tahun, ada yang mengajak kerja sama. “Dia punya tempat, saya dan teman-teman hanya mengelola. Jadi penghasilan kita dipotong beberapa persen untuk dia,” kata umat Katolik Paroki Maria Kusumah Karmel, Meruya, Jakarta Barat ini. Mereka pun membuka beberapa restoran yang memang diperuntukkan bagi kelas menengah ke atas tapi dengan menu asli Indonesia, yang menurut istilahnya “menu pinggir jalan” tadi.
Kini, sambil terus menjalankan “Warung Kita”, mereka mengelola restoran untuk kelas menengah ke atas seperti “Merah Delima” di bilangan Pondok Indah yang kemudian berpindah ke Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, “Kembang Gula” di Sudirman dan “Bunga Rampai” di Cik Di Tiro, Jakarta Pusat.
Kerja sama antara kelima pendiri menjadi pilar dasar usaha yang mereka jalani. Kebetulan masing-masing mereka memiliki kelebihan sendiri-sendiri. “Saya di dapur, karena dari dulu memang hobi saya adalah memasak. Jadi saya jadi direktur produksi. Untuk dekorasi, ada saudara saya yang satu. Untuk melebarkan sayap, promosi dan pemasaran, ada saudara saya yang satu lagi yang memang ahli dalam bidang itu. Begitupun dengan keuangan. Jadi kita masing-masing memiliki kemampuan tanggung jawab. Ketika kami bersinergi, jadinya bagus sekali,” kata ibu tiga orang anak ini. “Kunci keberhasilan kami adalah karena kami punya kelebihan masing-masing dan kami bersatu,” tukasnya.
Kunci keberhasilan kedua adalah menyuguhkan menu khas. Memang, katanya, di Jakarta ini ada banyak restoran. Tapi tak ada yang menyajikan menu tradisional. Karena itu, ia lebih memilih menu Indonesia sebagai sajian utama di restorannya. “Saya pilih masakan Indonesia, khususnya Jawa Tengah, karena saya memang hanya mampu masakan yang saya bisa. Saya tidak bisa tergantung. Saya harus mengerti dan sanggup mengolahnya,” katanya.
Festival makan daerah
Untuk memperkaya menu masakan di restoran mereka, sekaligus untuk promosi daerah, setiap tahun, pihaknya menggelar festival makanan daerah. Selain makanan daerah, dipamerkan juga adat istiadat daerah dan kerajinan dari daerah tersebut. “Melalui festival yang digelar selama seminggu itu, selain mengenal menu-menu makanan di salah satu daerah, para tamu pun mengenal kekayaan budaya daerah tersebut,” katanya.
Menu-menu yang ditampilkan dalam festival itu kemudian dijadikan menu makan di restoran mereka. “Tentu kita pilih yang sanggup kita kerjakan, dan sesuai dengan sentuhan rasa kita,” kata Linny sambil menyebutkan beberapa daerah yang pernah menggelar masakan daerah di restorannya, antara lain Cirebon, Padang, Makassar, Manado dan Jambi.
Dengan semakin terwakilinya makanan khas di restorannya, pengunjung pun makin banyak. Orang yang ingin menikmati makanan khas daerahnya dapat restorannya. “Biasanya, kalau sudah malam, tamunya banyak orang asing. Kadangkala kalangan atas yang ingin menjamu tamunya itu bingung. Apalagi bila tamunya mau makanan tradisional. Mau dibawa ke pinggir jalan bagaimana, jadinya mereka sangat antusias dengan kita buka restoran yang pantas untuk menjamu tamu mereka itu,” jelasnya sambil menambahkan bahwa segi kualitas dan ketekunan sangat diperhatikan.
Selain menjaga mutu makanan, pemasaran pun digelar dengan beragam teknik. Selain melalui festival makanan daerah itu tadi, para ibu ini sering turun ke tempat parkir, membagi-bagi flyers. “Kita juga sering mengundang orang makan cuma-cuma. Tentu orang yang potensial, seperti tukang makan bisa bawa orang lain datang ke tempat kita,” katanya.
Ketika orang merasa puas menikmati makanan di restoran yang mereka kelola, otomatis akan direferensikan pada teman-teman mereka juga. “Jadi kuncinya di menu dan kualitas masakan,” kata Linny sambil menambahkan bahwa untuk urusan yang satu ini dia memang ahlinya. “Itu memang anugerah yang diberikan Tuhan pada saya,” katanya.
Paul Makugoru.