Tokoh Nasional seperti Sultan Hamengku Buwono X, Surya Paloh, Syafii Maarif, Khofifah Indar Parawansa, dan Siswono Yudo Husodo, bergabung dalam Organisasi Kemasyarakatan Nasional Demokrat.
Ormas ini dideklarasikan Senin kemarin di Istora Senayan, Jakarta. Manifesto ormas ini adalah untuk menciptakan demokrasi Indonesia yang matang. Apa sebenarnya tujuan pendirian Nasional Demokrat? Apakah ini akan menjadi cikal bakal partai baru? Dan apakah Indonesia masih membutuhkan ormas semacam ini? Radio Nederland menghubungi Hamdi Muluk, Guru Bessar Psikologi Politik di Universitas Indonesia mengenai hal ini.
Jika berbicara tentang meningkatkan demokrasi di Indonesia maka ormas semacam ini sah-sah saja didirikan. Niatnya untuk lebih membuat demokrasi Indonesia menjadi lebih matang memang tidak salah. Pertanyaan yang masih belum bisa dijawab adalah apakah pembentukan ormas, partai atau semacamnya ini direspon oleh masyarakat.
Sakit hati
Para pendukung Ormas Nasional Demokrat kebanyakan adalah tokoh partai yang pada pemilu yang lalu kalah lawan SBY. Banyak spekulasi skeptis yang menyatakan ini adalah sebuah gerakan membentuk kelompok baru karena 'sakit hati' kalah dalam pemilu dan memang pada kenyataannya kita tidak bisa tahu dengan pasti apakah maksud mereka benar-benar demikian. Namun tindakan merangkul tokoh-tokoh besar seperti ini adalah suatu hal biasa yang dilakukan untuk mendapatkan legitimasi moral atau dukungan semua kalangan.
Tujuan ormas ini pun masih belum jelas. Terlalu dini untuk berspekulasi ormas ini nantinya akan menjadi partai walau sudah pernah terjadi sebelumnya, contohnya PAN. Menurut Hamdi sudah terlalu banyak partai politik di Indonesia. Adalah lebih baik untuk demokrasi Indonesia apabila partai-partai itu berkonsilidasi menjadi tiga, empat, atau lima partai saja. Supaya sistem kita menjadi lebih sederhana. Kalau terlalu banyak partai akan terlalu menjadi fragmented atau terpecah-pecah. Jika begini akan sulit mengambil kesulitan. Indonesia jadi tidak semakin maju.
sumber:Ranesi