Hendrik Lim, MBA*
Reformata.com - BANYAK orang yang ingin jadi entrepreneur. Dan sebagian merasa bisa melakukannya kalau punya modal. Sebagian lagi merasa kalau punya waktu. Fakta menunjukkan pada saat kedua hal tersebut tersedia pun, sangat besar persentasenya yang gagal. Resources-nya telah tersedia, tapi orangnya belum siap. Dalam arti mentalitasnya belum siap. Mental-nya masih belum mental entrepreneur. Apa saja mentalitas entrepreneur itu? Mari kita lihat kunci utamanya.
Amat sering seorang entrepreneur bukan seseorang yang lebih cerdas, lebih kreatif daripada orang orang lain. Dia juga tidak harus orang yang pertama kali mencium sebuah kesempatan saat kesem-patan tersebut lewat. Namun entrepreneur umumnya adalah orang yang berani untuk mengambil inisiatif, dan membuat agar hal-hal tertentu bergerak.
Courage establish business
Courages is a non negotibles quality for an entreprenur. Ia tidak bisa ditawar-tawar, Tanpa keberanian tidak ada bisnis, selain hanya menjadi penonton di pinggir lapangan. Hal yang sama juga berlaku bila Anda ingin menjadi seorang leader. Courage establish leadership.
Terlalu sering seorang bisnismen adalah seorang yang memiliki keberanian untuk terjun terlebih dahulu, saat yang lain masih melihat-lihat, mencari kepastian dan tingkat keamanan yang lebih tinggi.
Ada begitu banyak orang besar yang memiliki pengertian dan ke-cerdasan yang amat tinggi tentang sebuah kesempatan emas yang terendus. Selain dalam bidang bis-nis, mereka mungkin tokoh organi-sasi yang amat mengerti tentang transformasi yang harus mereka jalankan bila ingin organisasi mereka mengalami perbaikan dan lompatan besar. Namun hal itu tidak banyak terjadi, bukan karena tidak memiliki hikmat atau pemahaman, namun mereka tidak memilik keberanian untuk melakukan sesuatu terha-dapnya.
Bisnismen adalah orang yang berani terjun dan menyatakannya secara terbuka, pada saat orang lain masih malu-malu dan berbisik-bisik dalam lorong. Sama sekali bukan karena ia lebih cerdas, lebih lihai atau lebih banyak memiliki informasi, tetapi semata-mata ia lebih berani bergerak, saat yang lain masih mikir-mikir dan diam.
Ekspresi keberanian yang lain Berani berkata “tidak”. Banyak orang tidak berani berkata “tidak”, karena takut jawaban itu akan membuat keadaan dan hubungan menjadi tidak nyaman. Sebagian lagi takut menjawab “tidak” karena khawatir, itu bukanlah sebuah jawaban yang diinginkan oleh orang lain.
Atau orang takut menjawab “tidak” karena takut kehilangan kesempatan, dan berbagai macam alasan dan pertimbangan. Singkat-nya ada perasaan tidak nyaman saat menjawab “tidak”.
Dengan tidak berani menjawab “tidak”, Anda akan larut dalam berbagai kegiatan, fokus menjadi tidak jelas. Dan akhirnya kesem-patan kesempatan utama malah hilang. Terlalu sering tidak sanggup berkata “tidak”, membuat orang melakukan kompromi. Misalnya sebenarnya ia tidak bisa memenuhi sebuah tenggat jadwal, namun ka-rena tidak nyaman mengatakan “ tidak’ , ia akhirnya menyanggupi-nya, dan berkata “ya”. Keadaan ini akhirnya malah membuatnya melanggar komitmen yang telah ia berikan. Hal seperti ini akan meme-rosotkan semangat, harga diri, kepercayaan diri dan membuat Anda kehilangan integritas dan rasa hormat dari orang lain.
Salah satu cara untuk melatih diri berkata “tidak”, adalah dengan membuat daftar tugas lain selain “To Do List”. Buatlah “Not To Do List”. Atau buatlah “Stop Doing List”. Dan daftar itu akan menjaga kita tetap dalam on the track dan tetap fokus.
Seorang yang memiliki jiwa entrepreneur memiliki naluri kemauan yang amat keras, karena ia tahu apa dengan jelas apa yang ia laku-kan. Ia sudah sudah bisa melihat-nya sebelum hal tersebut terben-tuk secara fisik. Meskipun ia tidak tahu kapan secara pasti bentuk fisik itu akan terwujud. Tapi ia tahu hal itu pasti akan datang. Hanya masalah waktu. Hanya masalah penempaan. Baginya beleiving is seeing. Jadi meskipun banyak se-kali hambatan, tekanan masalah, hubungan industrial, kesulitan ke-uangan, penolakan-penolakan atas apa yang hendak ia kerjakan, ia dengan mantap tetap bergerak maju.
Ia tidak terombang-ambing se-perti perahu kecil dalam samudera raya tanpa navigasi. Tetapi ia dengan penuh determinasi dan keyakinan yang kokoh, dan tegas serta sekeras baja tetap memutus-kan untuk maju. Dan karena begitu kokohnya ia berjalan, maka rinta-ngan-rintangan yang kelihatannya tidak bisa digoyang atau digedor. Kesulitan dan masalah yang kelihat-nya muskil ditaklukkan sebelumnya seperti gunung tegar yang berdiri diam itu, akhirnya mulai bergeser dan dapat ditaklukkan dan tercampak ke laut. v