Reformata.com - TAHUN 90-an ia menjadi master of ceremony (MC) pada sebuah wedding organizer. Lewat kesempatan sebagai pembawa acara itu pula pria yang dikenal dengan nama Wawan Yap ini tampil sebagai penyanyi dalam acara pernikahan. Kesempatan itu ia pergunakan untuk membangun jaringan seluas-luasnya. Makin banyak yang mengenalnya lewat pe-nampilannya dalam acara pernikahan.
Pria kelahiran Cimahi, Jawa Barat, ini mengungkapkan bahwa ia sudah cukup lama menggeluti dunia entertain, namun hal itu tidak terjadi begitu saja. Ia cukup lama menyanyi dari satu acara ke acara lainnya. Sampai pada tahun 1999 ia merilis album perdananya. Sebelum membuat album rekaman hingga kini ia aktif dalam pelayanan puji-pujian di gereja. Ia pun mengaku bahwa dunianya yang sibuk dengan penyelenggara acara pernikahan tidak menghentikan langkahnya untuk tetap aktif dalam pelayanan di gereja. Kesibukan tersebutlah yang menghantarkannya pada posisinya saat ini. Karena lewat pelayanan di gereja, dia dapat ber-temu dengan banyak orang. Hal ini tentu sangat berarti bagi seseorang yang ingin tetap aktif dalam dunia hiburan.
Baginya pelayanan dalam dunia tarik suara adalah bagian dari pelayanan pribadi yang memang harus ia serahkan secara total pada Tuhan. Begitu juga dengan keter-libatannya sebagai penyanyi dalam tiap acara pernikahan, bagi Wawan hal tersebut adalah kesenangan tersendiri dapat menghibur banyak orang dengan talenta yang ia miliki. Karena baginya, dalam setiap pujian ada kekuatan yang dapat menguat-kan dan menghibur siapa saja. Hal ini ia alami sendiri bahwa dalam keadaan jatuh, lagu-lagu pujian yang ia dengar maupun ia nyanyikan dapat menjadi kekuatan baginya untuk bangkit lagi.
Dunia tarik suara dan pertemuan-nya dengan banyak orang meng-hantarkan putera dari Yap Tan Kie dan Wawa Kwee ini kepada seseorang yang memberinya kesempa-tan membuat album rohani. Sejak itulah ia semakin terlibat dalam dunia tarik suara. Tawaran pun makin banyak.
Wawan melihat bahwa padatnya tawaran nyanyi adalah anugerah yang tak boleh ia lewatkan. Hal ini dikarenakan sebagian besar relasinya dalam acara yang ia isi adalah orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Karena itu ia merasa dapat menjadi terang bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Bahkan tidak jarang orang-orang tersebut me-mintanya menyanyikan lagu rohani. Karena itu ia sering mempersiapkan lagu-lagu pujian yang lebih bersifat universal agar dapat diterima orang banyak.
Wawan mengungkapkan ia lebih tertarik untuk lebih mengembang-kan talentanya dengan terjun ke dunia musik sekuler. Karena baginya menjadi terang tentunya tidak hanya pada satu tempat saja. Tuhan bisa saja menempatkan setiap orang pada bidang-bidang yang tak pernah terpikirkan. Akan tetapi tentunya hal itu memerlukan persiapan lebih matang. Ia juga menegaskan bahwa segala sesuatunya biarkan mengalir apa adanya dan tetap belajar berserah pada Tuhan dalam segala situasi dan kondisi. Hal tersebut ia pelajari dari setiap pergumulan yang ia alami sebelumnya. Ia seringkali jatuh dan terpuruk dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Namun setiap kali ia jatuh ia belajar untuk mengerti bahwa Tuhan selalu punya rencana besar di balik setiap pergu-mulan yang ia alami. Ia juga mengerti bahwa dalam setiap rencana yang Tuhan berikan ia juga harus tetap belajar membayar harga.
Bungsu dari tujuh bersaudara ini berharap bisa memberi masukan positif pada banyak orang. Ia ingin dapat lebih total dalam setiap bidang yang dipercayakan Tuhan kepada-nya. Hal tersebut tentu membutuh-kan totalitas diri, mengingat aktivitas yang ia geluti cukup banyak, apalagi ia juga harus sering pergi-pulang Jakarta Bandung, mengingat keluar-ga besarnya berdomisili di Bandung. ?Jenda