Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Khusus

"Gus Dur Minta Membangun Persaudaraan Sejati!"

Posted : 03 Februari 2010
123pasfotormbenny.jpg

Romo Benny Susetyo Pr., Sekretaris Komisi HAAK KWI:

Pasca kerusuhan Situbondo, Jawa Timur pada 10/10/1996, hubungan antara romo Benny Susetyo dengan Gus Dur mulai terjalin. “Romo Mangun Wijaya yang mempertemukan saya ke beliau. Sejak itu, kami berjalan bersama dalam membangun persaudaraan yang sejati,” cerita romo Benny.
Apa pesan Gus Dur dalam pembicaraan terakhir bersama aktivis demokrasi ini, berikut perbincangannya.  

Bagaimana awalnya Anda menjadi “orang dekat” Gus Dur?
Awalnya saya dikenalkan oleh Romo Mangun Wijaya, beberapa saat setelah tragedi Situbondo 10-10-1996 dimana banya gereja dibakar. Waktu itu kita memang dibantu Gus Dur untuk menyelesaikan kasus Situbondo itu. Makanya gereja-gereja di Situbondo dapat kembali dibangun pada  saat itu. Peran Gus Dur sangat besar dalam rekonsiliasi di Situbondo itu.
 
Lalu hubungan Anda dan Gus Dur menjadi begitu akrab?
Relasi dengan Gus Dur itu karena kita dengan Gus Dur itu kebetulan bertemu di gelombang yang sama dalam rangka Indonesia ke depan. Gus Dur itu kan orang yang memahami dan konsisten tentang kebhinekaan, menghargai perbedaan, dan  memahami bahwa Indonesia ke depan itu dibangun dengan bersama-sama dengan menciptakan persaudaraan sejati.

Apa yang paling kuat dari Gus Dur?
Paling kuat adalah penjagaan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila. Sebenarnya Gus Dur itu melakukan segala sesuatu sesuai dengan konstitusi. Maka orang-orang yang merusak konstitusi itu dia lawan dengan tegas dan keras.

Ia sangat kuat dalam pembelaan terhadap minoritas, apa dasarnya?
Dasarnya Gus Dur itu semuanya konstitusi. Dia ingin agar semua warga Negara itu sama kedudukannya di depan hukum. Dia tidak ingin semua didiskriminasi. Misalnya hak untuk mendapatkan hak dasar. Konstitusi sebenarnya memberikan jaminan. Maka yang dilakukan Gus Dur sebetulnya adalah melaksanakan konstitusi secara murni dan konsekuen.
Nah, dia berani pasang badan untuk membela hak dan kebebasan konstitusional warga Negara itu. Jadi yang dilakukan Gus Dur itu sesuai dengan konstitusi itu.

Banyak pastor dan pendeta yang mengatakan bahwa selama ada Gus Dur, mereka merasa terlindungi. Sekarang sudah pergi, apakah masih ada penggantinya?
Gus Dur itukan melahirkan sebuah konsep pemikiran yang mendalam di PBNU sehingga nanti akan dilanjutkan oleh teman-teman BPNU. Tapi kita tidak bisa mencari orang yang sama persis seperti Gus Dur, itu tidak bisa. Tetapi sebagian besar pengurus NU itu rohnya seperti Gus Dur, jadi ya akan muncul “Gus Dur-Gus Dur” kecil di masing-masing daerah.
Memang mencari tokoh sebesar Gus Dur memang membutuhkan waktu tahunan. Dan itu tidak akan ada. Tapi pemikirannya itu akan muncul di kalangan kaum NU dan  orang yang mengikuti pemikiran Gus Dur.

Gus Dur didukung oleh kenyataan dirinya sebagai anak pendiri NU dan pahlawan nasional. Adakah orang NU yang bisa seperti itu?
Saya katakan tadi, kalau menyamai Gus Dur memang tidak ada. Tapi orang yang pikiran-pikirannya seperti Gus Dur mulai muncul. Misalnya Gus Soleh (Solahuddin Wahid) adiknya, KH. Siad Aqil Siraj, Dr. Komaruddin dan sebagainya. Memang ada banyak warga NU yang pikirannya seperti Gus Dur, tapi yang sebesar Gus Dur memang belum ada.

Beberapa hari sebelum meninggal, Gus Dur sempat berkomunikasi dengan Anda. Apa saja pesannya? 
Yang pertama, beliau sampaikan secara sungguh-sungguh adalah masalah keindonesiaan kita. Beliau berharap agar keindonesiaan kita itu kita jaga dengan sekuat tenaga, keberanian, dan kejujuran. Kata “kejujuran” itu diulanginya berkali-kali seolah untuk menunjukkan betapa kejujuran dalam ber-Indonesia selama ini sudah benar-benar diabaikan, utamanya dalam politik kekuasaan.
Yang kedua, beliau menegaskan bahwa pluralisme itu harga mati. Pluralisme itu  mutlak untuk membangun Indonesia kita yang memiliki banyak suku bangsa dan agama. Pluralisme menjadi cara pandang paling baik untuk bersikap dan bertindak. Sudah tidak ada tidak ada lagi yang bisa ditawar, pluralisme harus menjadi cara pandang untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.
Yang ketiga, beliau berpesan tentang sikap yang sebaiknya dilakukan agar dalam menghadapi tantangan dan tentangan yang datang dari kaum yang memiliki fanatisme sempit dan fundamentalisme. Menurut Gus Dur, itu semua harus dihadapi dengan cinta. Kekerasan tidak bisa dilawan dengan kekerasan karena ia hanya akan melahirkan lingkaran kekerasan. Untuk mewujudkan perdamaian, cinta adalah dasar dari nilai-nilai kemanusiaan dan humanisme universal.   Paul Makugoru

 

58
12 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 4.6097 sec | TOP
Online Support :