Bersama:
Bimantoro Elifas
Konselor yang terhormat, usia saya 32 tahun dan suami 35 tahun. Saya ingin bertanya apakah mungkin suami sudah tidak mencintai saya lagi? Pikiran ini terus ada dalam diri saya, terutama sejak saya melahirkan anak pertama kami 2 tahun lalu. Kami sudah menikah selama 5 tahun dan sejak kelahiran anak saya, kami jadi sering sekali bertengkar. Akhir akhir ini dia semakin sibuk dengan pekerjaannya, pulang selalu malam. Sementara saya saat ini mulai kembali bekerja sebagai fotographer freelance di sebuah media. Memang pertengkaran menjadi berkurang, karena setiap pulang kami lebih banyak diam dan langsung tidur.
Pertanyaan saya, apakah kondisi ini memang normal terjadi pada pasangan yang menikah lebih dari lima tahun? Lalu apakah normal setelah beberapa tahun keinginan untuk berhubungan intim semakin berkurang?
N di Surabaya
Reformata.com - PERTANYAAN apakah pasangan masih mencintai kita memang bisa muncul ketika respon pasangan sepertinya tidak seperti dulu lagi. Seperti dulu itu bisa saja seperti tahun-tahun pertama menikah, atau seperti ketika berpacaran dulu. Ketika pertanyaan ini muncul, kita kemudian bisa menjadi lebih sensitif terhadap respon dari pasangan, dan hal ini kemudian bisa memicu kekhawatiran yang semakin bertambah, yang membuat pikiran pasangan tidak mencintai semakin berkembang.
Kondisi ini bisa semakin bertambah ketika kemudian komunikasi antara keduanya menjadi macet sehingga masing-masing kemudian mengembangkan pikiran-pikiran negatif yang semakin menyulitkan keduanya untuk menjalin relasi dan memicu pertengkaran.
Apakah hal ini normal? Jawabannya adalah YA, KETIKA PERNIKAHAN TIDAK DIKERJAKAN. Hanya saja efeknya bisa berbeda secara fenomena luar. Ada pasangan yang secara emosi semakin dingin tapi tampak luar oke oke saja, karena keduanya memilih untuk saling menjaga privasi dan sibuk dengan dunia masing-masing, serta membatasi komunikasi pada hal-hal yang aman. Yang penting masih menjalankan tanggung jawab dalam peran sebagai orang tua. Ada yang kemudian terus-menerus bertengkar sampai tercipta kondisi “rasanya kalau tidak bertengkar tidak normal”.
Pernikahan “seharusnya” merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Dalam pernikahan kita diberikan kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih matang, dan pasangan merupakan cermin yang terbaik dalam membantu kita untuk bertumbuh. Tujuan TUHAN menciptakan manusia kedua adalah supaya menjadi penolong yang sepadan (Kejadian 2 : 18), dan TUHAN mengerjakan ini dalam konteks pernikahan (manusia laki-laki dan perempuan).
Sayangnya dalam memulai pernikahan seringkali kata “sepadan” tidak dilihat dalam konteks saling melengkapi dan saling mendorong kematangan individu, melainkan lebih kepada “apakah calon pasangan ini kira kira bisa memenuhi harapan-harapan saya”. Harapan ini bisa dalam berbagai bentuk, di antaranya memberikan kemapanan, rasa dicintai, rasa hormat dan lain lain. Ketika harapan akan pasangan tidak terwujud dalam pernikahan, munculah pikiran negatif terhadap pasangan dan bahkan terhadap diri sendiri.
Kondisi seperti ini, jika dibiarkan, akan menyebabkan kebuntuan dalam komunikasi dan kemudian akan menghambat terjadinya proses saling mengenal secara pribadi dan proses pertumbuhan setiap individu di dalamnya. Efek yang bisa terjadi jika kondisi ini terus-menerus dibiarkan adalah tidak ada lagi ketertarikan untuk mengerjakan pernikahan dan biasanya yang paling pertama terpengaruh adalah kualitas dan kuantitas hubungan seksual. Kualitas dalam arti masih terjadi hubungan seksual namun hanya basa basi atau sekadar melampiaskan kebutuhan biologis (karena takut akan dosa kalau melakukan masturbasi atau selingkuh). Kuantitas dalam arti semakin jarang bahkan akhirnya tidak pernah lagi melakukan hubungan seksual.
Kiranya Tuhan membantu Saudara N dalam mencoba mengerjakan pernikahan.