Reformata.com - PERJALANAN spiritualitas seseorang jika dicermati pastilah sangat menarik. Ada kalanya menunjukkan grafik menurun ada kalanya menanjak dan semakin progresif ke atas. Dalam perjalanan kehidupan spiritualitas orang, tentu ada satu momen di mana ia mendapatkan satu inspirasi, ilham atau petunjuk tertentu yang membuatnya dapat memiliki satu pegangan yang kuat - hingga mampu mendorong orang keluar dari keterpurukan. Titik balik itulah sebenarnya yang harus terus diperhatikan, bahkan diingat, dan kalau perlu terus-menerus menjadi semacam romantisme yang mendorong, bahkan cenderung memaksa spiritualitas menjadi lebih baik.
Seperti itu juga yang pernah dialami oleh AW. Tozer, seorang pendeta yang concern terhadap kehidupan spiritualitas. Kalimat kunci yang terus terngiang di telinga Tozer, menjadi romantisme sepanjang hidupnya adalah: “Jika kamu tidak tahu bagaimana supaya diselamatkan, berserulah kepada Tuhan”. Kalimat yang pernah didengar Tozer dari seorang penginjil di suatu sore itu menjadi pendorong titik balik kehidupan spiritualitasnya, hingga mampu membuahkan suatu komitmen bagi dia untuk menjadi seorang hamba Tuhan.
Impian itu pun menjadi kenyataan, ketika pada 1919 dia dipanggil untuk menjadi pendeta di sebuah gereja kecil di Virginia Barat. Kesempatan melayani pun disambut Tozer dengan antusias, bahkan mampu menggairahkan semangat pelayanannya beserta istri, Ada Cecelia Pfautz, selama 44 tahun bersama The Christian and Missionary Alliance.
Sebagai seorang pelayan Tuhan, Tozer memandang kehidupan doa yang baik menjadi suatu keharusan. Menyembah dan mengagungkan Tuhan menjadi kerinduannya sepanjang hari. Bahkan khotbah dan tulisan-tulisan Tozer pun merupakan perluasan kehidupan doanya. Tak heran jika pelayanan pria kelahiran 21 April 1897di daerah pertanian kecil Pennsylvania Barat ini begitu hebat. Berbeda dari banyak hamba Tuhan yang semakin populer semakin lupa keluarga, Tozer memiliki kedekatan dan komunkasi yang baik dengan anak dan istrinya. “Yang paling aku ingat dari ayahku adalah cerita-cerita yang sangat indah yang dia ceritakan,” kata Son Wendell, putranya, yang sangat bangga terhadap ayahandanya itu.
Tozer memiliki karakteristik tersendiri dalam pelayanan. Dia tak hanya mengajak orang agar kembali ke posisi alkitabiah yang otentik, ia juga mengajak jemaat yang dilayani untuk selalu romantisme pada jemaat mula-mula, menyimak baik-baik kehidupan mereka, lantas membawa budaya tersebut pada kekinian, dengan menyelaraskannya terhadap konteks.
Warisan besar dari seorang Tozer yang abadi adalah dua buku karyanya yang oleh banyak orang dianggap sebagai buku rohani klasik: “The Pursuit of God” dan “The Knowledge of the Holy”.
Yang menarik dalam pelayanannya adalah kecintaanya berlutut memasrahkan diri ke hadapan Tuhan, berserah sepenuhnya dan tak segan-segan menangis memohon curahan rahmat dan kebijakan dari Tuhan. Tak heran jika Tozer dikenal banyak orang sebagai seorang penginjil yang militan, penuh dengan anugerah Tuhan dan wibawa ilahi.
Tahun-tahun terakhir pelayanan Tozer dihabiskannya di Avenue Road Church, Toronto, Kanada. Tanggal 12 Mei 1963, merupakan akhir dari seluruh aktivitas keduniawiannya. Tozer meninggal akibat serangan jantung dalam usia 66 tahun, tepat 1 minggu setelah menyampaikan khotbah terakhirnya. Slawi/dbs