| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Laporan Utama
17 January 2010 Dipicu Sentimen Politik
REFORMATA.COM - REFERENDUM masyarakat Swiss yang menghasilkan keputusan agar dibatalkan pembangunan menara masjid di Swiss menuai protes dan kecaman dari berbagai penjuru dunia, khu-susnya dunia muslim, termasuk Indonesia. Bagaimana persisnya rencana pendirian menara masjid itu dan bagaimana harmonisasi dialog antara muslim Eropa/Barat de-ngan masyarakat Eropa, berikat petikan wawancara dengan Pdt. Martin Sinaga yang kini bekerja di Lutheran World Federation di Ge-newa, Swiss, tepatnya di Depar-tement Theology and Study.
Bagaimana persisnya masa-lah pelarangan pendirian menara masjid di Swiss? Kebetulan saya tengah berada di Genewa, Swiss. Sehingga masa-lah itu saya amati dari dekat. Duduk perkaranya ialah ada usulan dari beberapa masjid besar—misalnya masjid di daerah Petit-saconnex di Geneva—untuk mendirikan me-nara. Karena di Swiss berlaku demo-krasi-langsung maka usulan itu dijadi-kan bahan untuk inisiatif publik oleh partai SVP (Partai Rakyat Swiss, Partai Kanan) seba-gai kampanye politik mereka. Jadi partai PSV memanfaatkan demokrasi langsung tadi untuk membangun sentimen anti-pembangunan menara mesjid itu. Jadi ini soal khusus.
Tanggapan pemerintah Swiss atas hasil referendum? Ya, di pihak lain, pemerintah Swiss sebenarnya kecewa atas kemenangan referendum itu (sebab berarti semakin kuatnya partai SVP tadi). Malah pemerintah Swiss berinisiatif mengunjungi duta duta besar di Swiss ini agar me-mahami bahwa pemerintah tetap toleran. Yang menjadi masalah ialah sentimen yang dibangun oleh partai SVP itu, yang rupanya diserap oleh 57% rakyat swiss.
Jadi isunya ialah mengapa rakyat Swiss semakin phobia (xenopobia) terhadap imi-gran muslim? Ini yang jauh menjadi inti masa-lah sekarang ini. Sehingga jalan keluar yang sehat yang diajukan kaum muslim ialah mengajukan soal ini ke Mahkamah Konstitusi Eropa agar duduk perkaranya diangkat sebagai masalah HAM. Kalau ini berhasil dicapai, itu berati Minerat boleh dibangun.
Bila larangan pendirian menara masjid di Swiss menuai protes, bagaimana dengan gereja-gereja di Indonesia yang makin gencar ditutup? Soal membandingkannya de-ngan banyaknya gereja yang dirusak di Indonesia, tentu memiliki kemiripan, terutama menyangkut sentimen intoleran masyarkat (atau sebagian politisi) terhadap mino-ritas. Jadi duduk perkaranya lebih baik dilihat sebagai berkembang-nya sikap eksklusif dalam masya-rakat mayoritas terhadap kehadiran the others. Sehingga soalnya ialah membangun proses dialog dan saling belajar satu dengan lain di level masyarakat, sambil tentu membangun aktivitas publik agar sentimen politik yang intoleran dapat di-counter dan ditolak.
Kembali ke Swiss atau Eropa/Barat umumnya. Bisa dijelaskan gambaran dialog antara Barat dan Islam di sana? Dialog antar Barat dan Islam merupakan sesuatu proses yang memang kompleks. Katakanlah ketegangan akhir-akhir ini, mulai dengan kasus “kar-tun Denmark” itu, di mana majalah di Denmark dan Eropa secara terus terang melukiskan foto wajah Nabi Muhamad (sesuatu yang dilarang di Islam Sunni). Ini adalah bukti ke-sulitan Eropa memahami psikologi kaum muslim yang sensitif meng-ingat proses sejarah penguasaan Eropa (dalam kolonialisme) masih berbekas di dunia dan hati Islam. Juga tentu psikologi kaum imigran Islam di Eropa yang semakin ter-tekan mengingat sulitnya men-cari pekerjaan sekarang ini di Eropa. Kalau kita ingat kerusuhan di Paris tahun lalu, itu adalah keru-suhan akibat banyaknya kaum muda keturunan Arab (Aljazair khususnya) yang menganggur, dan mereka pun tinggal di ping-gir kota yang rada kumuh (di Orly, pinggir Paris). Juga dalam kasus Belanda, proses “inte-grasi” yang dicanangkan ter-nyata sungguh sulit mengingat para imigran malah tidak bisa berbahasa Belanda. Pembunuhan atas sineas van Gogh di Belanda, adalah puncak gagalnya integrasi tersebut. Plus provokasi anggota DPR Belanda, Geert .Wilders, yang menya-makan Islam dengan terorisme, semakin mempertajam syak wasang-ka antara imigran Islam dan kaum “pribumi” (autochton) Belanda. Di pihak lain, kaum Islam di Inggris, semisal kelompok di Kota London, malah secara agresif—karena mereka diberi kebebasan—ingin memasuki Downing Street 12 (tempat tinggal Perdana Men-teri Inggris. Artinya tujuan kebeba-san yang diberi Inggris ke mereka hendak dimanfaatkan untuk me-nguasai pemerintah di Inggris. Jadi sebagian warga Islam di Inggris berniat beroperasi dalam ranah politik, sehingga mendatangkan prasangka.
Itu artinya dialog antara Islam Eropa dan masyarakat Eropa masih sulit? Jadi antara Islam Eropa dan ma-syarakat Eropa—yang masih “im-plisit” Kristen—memiliki kesuli-tan serius dalam berdialog. Seorang teolog Islam Swiss, bernama Tarik Ramadan ingin menerobos kebe-kuan ini dengan misalnya berjuang ingin menjadi orang muslim Swiss (Eropa), dengan demikian ia ingin agar terjadi kontekstualisasi Islam dalam bumi Eropa. Sebab baginya, sekarang Eropa adalah “lahan dak-wah”, dan kalau Islam hendak “menginjili” Eropa, Tarik Ramadan berpenda-pat bahwa Islam perlu beradaptasi dengan kultur Eropa, dan dari situ akan muncul model Islam yang baru. Tentu ini tidak terlalu mudah, mengingat apakah memang Eropa mau menerima dakwah Islam. Sejauh ini, sistem sekular diang-gap Eropa cukup memadai: ada kebebasan, namun harus berprin-sip sekular, di mana nilai agama dibatasi dalam pengaruhnya atas Eropa. Artinya agama ditaruh dalam ranah privat. Dibutuhkan memang terobosan baru, agar konflik “Minerat” tidak perlu terjadi lagi.Stevie Agas
Comments
Jerry Massie Se,ma,mth, 20.01.10 19:37
menurut saya masyarakat yang ada diswiss berbeda dengan diindonesia,apalgi disana didominasi oleh kaum lutheran jerman yg adalah kelompok mayoritas yg radikal pd keyakinan mereka serta ,militan dan militansi. . |
Post your comment
Others
|
|