Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*
(www.poltakypsibarani.com)
SALAH satu isu yang paling sering diperbincangkan di dunia ini sepanjang zaman adalah “keberadaan Tuhan”. Ada pihak yang meragukannya, meski-pun lebih banyak yang meyakini-nya. Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang meyakini bahwa Tuhan adalah sebuah keberadaan yang hidup, bahkan Ia adalah sebuah Pribadi. Memang mengatakan bahwa Tuhan meru-pakan sebuah Pribadi saja tidak cukup, melainkan juga perlu pem-buktiannya. Untuk itu, di bawah ini saya berusaha memopulerkan beberapa cara yang bersifat umum dalam rangka memahami kebera-daan Tuhan, dengan tujuan agar pembaca dapat memahami seka-ligus meyakini keberadaan Tuhan.
Pertama, keberadaan Tuhan didasarkan pada pandangan tentang adanya penyebab utama (causa prima). Segala sesuatu memiliki penyebab atau asal-muasal. Setiap hal ada latar belakangnya. Sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya memiliki dorongan (motivasi) dan tarikan (tujuan) dari terbentuknya atau terjadinya sesuatu. Apa saja. Apakah itu suatu makhluk, benda, rumusan, atau suatu peristiwa. Logika ber-pikir seperti ini tidak harus dimiliki oleh seseorang yang sangat cen-dekia, namun dapat dimiliki oleh setiap orang, bahkan oleh sese-orang yang dianggap terbodoh sekalipun. Sebagai contoh: Hari ini adalah kelanjutan dari hari yang lalu (kemarin); buah keluar dari sebuah pohon; anak lahir dari seorang ibu; pakaian adalah hasil tenunan kain; dan seterusnya. Nah, jika diusut secara historis semua hal di dunia ini, ujung-ujungnya akan berhenti pada suatu penyebab utama. Semua hal di dunia ini memiliki “benang merah”. Ujung dari “benang merah” inilah yang sering disebut sebagai causa prima. Causa prima tidak hanya menyebabkan atau memunculkan yang bersifat kebendaan, melainkan juga yang hidup atau bergerak-gerak. Causa prima juga dipahami sebagai sesuatu yang “hidup”. Itulah Tuhan. Causa prima adalah Tuhan.
Kedua, keberadaan Tuhan dida-sarkan pada keberadaan alam semesta yang indah, tersusun rapi, dan saling berhubungan dan saling ketergantungan (inter-connected and inter-dependent) . Karak-teristik alam semesta yang demikian membuat setiap orang mau tidak mau mengakui bahwa alam semesta merupakan ciptaan Tuhan. Artinya, alam semesta tidak ada dengan sendirinya, me-lainkan hasil rancangan, karya, sekaligus pemeliharaan Khalik-nya. Mekanisme alam dan eko-sistem yang begitu mantap de-ngan adanya hukum alam (natural law) menyatakan betapa Pen-cipta alam semesta adalah Pribadi yang hidup. Jika dipikirkan secara jernih tidak mungkin alam semesta tanpa pihak yang mengadakan dan mengurusnya. Sekali lagi, Dialah Tuhan yang melakukannya.
Ketiga, keberadaan Tuhan dida-sarkan pada pandangan umum masyarakat dunia. Harus diakui bahwa kebanyakan manusia di dunia ini percaya bahwa Tuhan itu ada dan hidup. Secara kuantitatif, jauh lebih banyak manusia di dunia ini yang mempercayai keberadaan Tuhan daripada yang tidak mem-percayainya. Kepercayaan mereka atas keberadaan Tuhan dituang-kan dalam beragam agama atau kepercayaan khusus (belief system). Bagaimanapun bentuk kea-gamaan itu (liturgi, doktrin, mau-pun etikanya), yang jelas semua agama meyakini keberadaan Tuhan. Agama atau kepercayaan khusus merupakan suatu sarana untuk mencari sekaligus mempro-mosikan keberadaan Tuhan. Karena luasnya belief system di dunia ini, dibutuhkan suatu ruang yang panjang untuk mengurai-kannya. Belief system dalam masya-rakat dunia ada yang sederhana dan ada yang rumit; ada yang sempit pengaruhnya dan ada yang luas. Dalam hal penganut, misalnya, ada belief system yang dianut oleh hanya seseorang secara pribadi, ada yang dianut oleh sebuah keluarga atau klan, ada yang dianut oleh satu suku, ada yang dianut oleh satu bangsa, dan seterusnya. Di samping belief system, ada juga pengakuan masyarakat dunia ten-tang keberadaan Tuhan sebagai bentuk pemahaman saja. Inilah yang disebut sebagai deisme, sua-tu paham pengakuan atas kebera-daan Tuhan tanpa merumuskan liturgi, doktrin, dan etikanya, me-lainkan hanya didasarkan pada logika. Betapa banyaknya manusia di dunia ini yang mempercayai ke-beradaan Tuhan, termasuk mereka yang berpikiran cerdas. Oleh sebab itu, sangatlah sulit bagi kita untuk menyangkalnya.
Keempat, keberadaan Tuhan didasarkan pada adanya peristiwa-peristiwa yang dianggap tidak lazim atau aneh atau ajaib. Peristiwa-peristiwa seperti ini disebut juga sebagai mukjizat. Mukjizat adalah peristiwa yang luar biasa yang terjadi di luar koridor hukum alam, baik dari sudut waktu terjadinya maupun materinya. Sebagai con-toh: Seseorang yang sedang sakit kanker stadium 4 mengalami kesembuhan secara mendadak tanpa obat padahal penyakit terse-but adalah penyakit yang sangat hebat. Contoh lain adalah sese-orang yang sudah mati ternyata dapat hidup kembali. Peristiwa-peristiwa seperti ini jika dipikirkan secara logika saja akan sulit dipahami penyebabnya. Karenanya, mau tidak mau, harus diterima kenya-taan akan keberadaan Tuhan seba-gai Pribadi yang mampu mengada-kan mukjizat tersebut. Sekaligus menunjukkan bahwa Tuhan hidup karena tidak mungkin sesuatu yang mati mengerjakan peristiwa tersebut.
Kelima, keberadaan Tuhan didasarkan pada ajaran Alki-tab. Alkitab adalah kumpulan dari firman Tuhan yang ditulis berdasarkan pewahyuan, ilham, dan inspirasi dari Roh Kudus dan pengalaman hidup umat Tuhan sekitar perjum-paan mereka dengan Tuhan. Dalam Alkitab banyak sekali kesaksian bahwa Tuhan adalah Pribadi yang hidup. Segala sesuatu diciptakan oleh-Nya (Kej. 1:1-2:7). Manusia diciptakan-Nya secara khusus, yakni dengan rasio, roh, dan nurani yang disesuaikan de-ngan keberadaan Tuhan sendiri (Kej. 1:26-29). Dari sekian banyak kelompok manusia di dunia, adalah bangsa Israel yang dipilih-Nya untuk lebih banyak mengalami dan me-nyaksikan keberadaan-Nya. Kebe-radaan bangsa Israel yang sangat dramatis namun tetap eksis sampai saat ini selalu mereka hubungkan dengan eksistensi Tuhan. Mereka mengakui berdasarkan pengalaman turun-temurun kebesaran dan kea-jaiban Tuhan, hingga hari ini. Bahkan, dalam Alkitab kita dapat melihat keberadaan Tuhan dalam hubungannya dengan kehidupan manusia, baik secara historis maupun secara mekanis.
Di samping kesaksian dari bangsa Israel yang demikian, keberadaan Tuhan diwujudkan oleh Yesus Kristus. Bahkan Yesus Kristus inilah Tuhan itu sendiri yang datang se-bagai manusia. Motivasi kedata-ngan-Nya ke dalam dunia adalah kasih-Nya yang besar bagi dunia ini (Yoh. 3:16-18). Tujuan kedata-ngan-Nya adalah menggantikan kematian manusia di kayu salib da-lam rangka penebusan dosa me-reka (Mat. 1: 20-23). Selama Ia ada di dalam dunia ini Yesus me-nunjukkan keilahian atau ketuha-nan-Nya, seperti menyembuhkan orang sakit, menghentikan badai atau angin ribut, membangkitkan orang yang sudah mati, membe-rikan makanan kepada ribuan orang dengan cara mengadakan mukjizat, memberikan penyema-ngatan atau pemberdayaan, me-ngampuni dan mendampingi orang berdosa, dan lain-lainnya.
Memang, kedatangan Yesus Kristus sebagai manusia ke dalam dunia ini selama 34 tahun sekitar 2.000 tahun yang lalu itu juga ada yang meresponsnya secara negatif. Menurut mereka, kedata-ngan Yesus Kristus ke dalam dunia sebagai manusia malahan mengu-rangi kualitas ketuhanan-Nya. Tetapi pandangan seperti ini masih kalah jauh dari pandangan yang justru sangat mensyukuri kedata-ngan-Nya ke dalam dunia ini. Sebe-narnya, bukti-bukti bahwa Yesus Kristus merupakan Pribadi yang berkuasa bukan hanya menurut catatan dalam Alkitab, melainkan juga kesaksian banyak pihak hingga hari ini. Sampai hari ini, banyak orang mengalami bahwa Yesus Kristus menyembuhkan penyakit mereka, menghibur duka, mencu-kupi, dan mengampuni mereka. Selamat memahami keberadaan Tuhan dalam hidup Anda sehari-hari.v
Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).