Pdt. Dr. Ir. Mangapul Sagala
Reformata.com - JIKA mengikuti kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, maka saya kira Anda semua setuju jika saya menulis dengan sangat me-ngecewakan. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang geram dan marah. Hal itu disebabkan oleh mencuatnya kejahatan ke permukaan, muncul sedemikian vulgar dan telanjang, membuat mata kita terbelalak. Ya, kita semua, kecuali mereka yang masa bodoh terhadap kondisi bangsa ini.
Sebenarnya, apa sih masalah utama bangsa ini, sehingga kita terus terpuruk? Ada yang menga-takan bahwa sesungguhnya, sis-tem pemerintahan yang ada sudah baik. Semua itu sudah dapat digu-nakan untuk membangun sebuah bangsa yang bersih dan terhormat. Sebagai contoh, kita memiliki ins-titusi kepolisian yang dapat me-nangkap penjahat atau koruptor. Selain itu, kita juga memiliki ins-titusi kejaksaan untuk menuntut penjahat sebagaimana seharusnya. Kita juga memiliki institusi kehakiman untuk memutuskan perkara orang tersebut, agar dia dihukum dan diganjar seadil-adilnya. Dengan demikian, tidak ada seorang pun di republik ini yang dapat bermain-main dengan kejahatan, entah itu kejahatan ‘kecil’ seperti mencuri tiga buah kakao atau kejahatan besar dengan melakukan suap, merampok bank dengan jumlah triliunan rupiah!
Tetapi apa yang terjadi jika maling atau koruptor tersebut berkawan dengan oknum-oknum yang be-kerja di kepolisian? Memang men-jadi masalah, karena yang seharus-nya menangkap, tidak melakukan-nya, sebaliknya melindunginya. Namun, masih ada harapan, karena kita memiliki kejaksaan yang dapat menuntut perbuatan koruptor ter-sebut. Lalu bagaimana jika ternyata oknum di kejaksaan itu pun ter-nyata berteman dengan koruptor tersebut? Tentu saja masalah menjadi semakin buruk. Dan kon-disi negara akan semakin mengeri-kan jika oknum kehakiman pun tidak memutuskan perkara si jahat dengan adil. Saya sangat yakin, jika masalah besar itu tidak diatasi, maka dapat dikatakan, tidak ada lagi harapan bagi bangsa kita.
Masalah seperti itulah sesungguh-nya yang sedang dihadapi oleh bang-sa kita, yang membuat orang kecewa, geram dan marah. Masalah ketidakberesan dalam pilar-pilar negara kita tidak dapat disangkali lagi, khususnya ketika Mahkamah Kons-titusi menayangkan secara nasional hasil sadapan rekaman yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Rekaman berisi percakapan antara seorang yang bernama Anggodo dengan orang-orang tertentu menunjukkan betapa buruknya moral dan perilaku peja-bat-pejabat institusi penting di negara kita. Seorang berkata: “Saya muak menyaksikan kebo-brokan pejabat-pejabat penegak hukum tsb”. Yang lain, bahkan tidak hanya mengatakan muak, tapi “saya mau muntah melihat wajah-wajah para perusak tsb”.
Jadi, sekalipun kita telah memiliki sistem pemerintahan dan pene-gakan hukum yang baik, jika sis-tem itu dikerjakan oleh orang-orang yang tidak benar (baca: orang-orang jahat dan bejat moral), maka itu hanyalah seperti omong kosong, seperti menyaksikan singa ompong, yang tidak dapat berbuat apa-apa. Atau meminjam istilah Tuhan Yesus Kristus, “Itu seperti kubur yang dicat putih. Luarnya indah, bagus, tapi dalam-nya berisi mayat busuk”. Betapa bau dan menjijikkan. Tidak indah dan tidak bagus.
Apa yang kita lakukan?
Semua kita anak-anak Tuhan, harus bertindak secara bersama-sama. Masa bodoh, lepas tangan terhadap permasalahan bangsa sebagaimana disebutkan di atas, tidak sejalan dengan status kita sebagai anak-anak Tuhan. Tind-akan seperti itu adalah sebuah kebodohan, kemunafikan dan dapat disebut sebagai kejahatan juga. Disebut kejahatan, bukan semata-mata karena kita melaku-kannya, akan tetapi karena kita membiarkan kejahatan itu. Firman Tuhan sangat jelas: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan” (Efesus 5:11a). Tetapi Firman Tuhan, bukan hanya memerintah-kan agar tidak terlibat dalam per-buatan kejahatan. Selanjutnya, kita membaca: “... tetapi sebalik-nya, telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11b).
Itulah sebabnya, kita menyam-but dengan syukur seminar yang bertema “Integritas” yang dise-lenggarakan oleh sekelompok alumni, bekerja sama dengan yayasan dan gereja lain. Seminar yang dihadiri oleh kurang-lebih 900 orang itu diadakan pada Sabtu 28 November 2009 lalu di GKY Mangga Besar, Jakarta. Se-sungguhnya, seminar itu, bukan hanya bersifat reaktif, atau sekadar menjawab masalah yang ada, tetapi merupakan seruan Alkitab itu sendiri. Hidup bertintegritas, dalam arti hidup konsisten, jujur, lurus, atau “satu kata dengan perbuatan”, merupakan panggilan hidup semua orang-orang per-caya, termasuk semua alumni. Sangat disayangkan, jika ada yang memisahkan antara ibadah di satu sisi dengan moralitas di sisi lain. Maksudnya, seolah-olah tidak ada hubungan antara hidup beriman dengan kehidupan yang jujur dan lurus tiap-tiap hari.
Masalah integritas terjadi juga di negara kita. Itulah sebabnya, berbagai masalah yang terjadi pada alumni-alumni non-Kristen, atau Kristen yang belum bertobat (Kristen KTP), juga terjadi di dalam alumni-alumni yang sudah mengikuti persekutuan. Kita menemukan adanya alumni yang non-Kristen atau Kristen KTP yang menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, ber-selingkuh, bercerai, dan sejenis-nya. Dengan sedih kita menga-mati bahwa masalah yang sama juga ditemukan pada alumni yang pernah dibina dalam persekutuan.
Hal seperti itu, tidak boleh terjadi. Untuk itu, kita harus saling mendoakan, memperhatikan, mendorong, dan melakukan ber-bagai usaha yang penting dan berkesinambungan, demi mence-gah pembusukan rohani di dalam diri para alumni. Untuk itulah seminar tsb di atas diadakan. Selain itu, kita juga melakukan berbagai upaya yang strategis dan berke-sinambungan. Semua hal itu dila-kukan, untuk membangun alum-ni yang sungguh-sungguh hidup jujur, takut akan Tuhan dan men-cintai negeri tercinta. Kita bersyu-kur untuk banyak alumni yang dengan tekun mengikuti kegia-tan tsb dan menerapkannya dalam kehidupan nyata mereka. Ya, kita sangat mengharapkan dan mendoakan agar barisan alumni yang berintegritas tinggi mema-suki dan mewarnai berbagai bidang kehidupan: baik peradilan/hukum, pendidikan, politik, bisinis dan lain lain.
Ada yang mengatakan bahwa bisinis penuh penipuan. Karena itu, jangan bicara tentang inte-gritas jika ingin berhasil. Namun Charles Handy, seorang yang mengabdikan dirinya dalam bisinis dan menjadi pengajar yang sa-ngat terkenal menegaskan bahwa menjadi konsisten adalah sesuatu yang sangat dituntut di dalam dunia bisinis. Itulah sebabnya dia berpendapat bahwa “Pemimpin tidak hanya harus bisa merancang pernyataan visi atau misi, tetapi juga harus bisa menjalaninya de-ngan konsisten”. Dengan perka-taan lain, semua bidang menun-tut orang-orang yang dapat diper-caya. Kita semua harus meng-aminkan bahwa “Honesty is the best policy”. Dengan demikian, berjuang bersama-sama menerap-kan hidup yang benar, jujur di dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan kita. Seorang alumni pernah mengatakan: “Saya tidak pernah mau menerima uang sogok. Itu harga mati”. Seorang istri alumni mengatakan begini: “Bang, rahasia hidup kami seder-hana saja, saya mengatakan kepada suami agar jangan pernah membawa uang haram ke rumah, anak-anak tidak akan sehat memakannya”.
Kiranya, semakin banyak barisan alumni yang mau hidup jujur demikian, dimulai dari hal-hal kecil. Dengan demikian, negara kita tidak semakin terpuruk. Sebalik-nya, semakin dipulihkan, karena mendapat sentuhan dan peruba-han dari ribuan bahkan jutaan anak-anak Tuhan yang tersebar di seluruh Nusantara.
Selamat Hari Natal 2009 dan Tahun Baru 2010.v