Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suluh

Pdt. Imanuel Kristo, Jadilah Gereja yang Sadar Media!

Posted : 15 Januari 2010
Pdt.-Imanuel-Kristo,-Jadilah-Gereja-yang-Sadar-Media!.jpg
PERASAAN diterima dan dicintai, melalui perhatian serta teguran lembut orang lain, dapat menjadi pemicu peru-bahan seseorang, yang berkepriba-dian keras sekalipun. Hal ini dialami oleh Pdt. Imanuel Kristo. Pria kela-hiran Cirebon, 31 Desember 1966 ini, mengenang masa remajanya di SMA. Di masa remaja itu, dia tidak pernah takut, dan merasa bisa melakukan apa saja, apalagi dia menyandang predikat sebagai pemenang karate tingkat nasional. Hal ini membuat Imanuel muda tidak peduli dengan orang lain.  
Di suatu kesempatan Imanuel melakukan kesalahan. Waktu itu dia berpikir akan diadili atau dima-rahi di depan kelas oleh gurunya. Namun seorang guru yang bijak-sana memanggilnya seusai jam se-kolah dan berkata dengan lembut, “Boleh saya berdoa buatmu?” Pertanyaan yang sangat lembut ini mampu menghancurkan kekerasan pribadinya. Itu menjadi titik perubahan bagi Imanuel, di mana dia mampu melihat kebaikan seorang guru yang mengasihinya.
Imanuel mulai berpikir, “Jika se-orang guru yang juga anggota mejelis gereja bisa sebaik itu, apalagi seorang pendeta”. Inilah yang menuntun Imanuel memiliki kerinduan untuk menjadi seorang pendeta. Padahal sebelumnya dia bercita-cita menjadi pegawai kan-toran, berpenampilan rapi, bekerja di ruangan bersih dan ber-AC.

Jejak awal kependetaan
Tahun 1990, Imanuel menyele-saikan studi teologi di STT Duta Wacana, Yogyakarta. Setelah itu dia melayani di GKI Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada 1991. Imanuel menikmati pembelajaran dengan bertemu banyak orang yang berpotensi. Melayani bersama pendeta-pendeta senior dan rekan-rekan pelayan/penatua de-ngan beragam kemampuan. Tahun 1992, Imanuel melanjutkan pelaya-nan menjadi calon pendeta. Sete-lah ditahbiskan menjadi pendeta pada 1994, Imanuel tetap melayani di pelayanan konsistorium, pelaya-nan sinodal, sebagai anggota komisi pengajaran teologi, dan pendeta konsulen di GKI.
Tahun 2004, Imanuel mendapat kesempatan untuk menyelesaikan S2, di STT Duta Wacana. Hal ini memperlengkapi suami Rosy Nilam ini, untuk terus melayani Tuhan dengan lebih maksimal. Imanuel kembali mendapat tanggung jawab di tingkat klasis, sebagai salah satu ketua hingga tahun 2006 terpilih menjadi ketua umum klasis, GKI Jakarta Selatan.
Di samping kesibukan melayani di gereja, Imanuel menjadi nara-sumber tetap di Radio Pelita Kasih (RPK) melalui acara “Moment Ins-pirasi” dan “Monday Spirit”, sebagai motivator. Selain itu dia menulis di beberapa media, antara lain surat kabar harian sore Suara Pembaruan.
“Gereja itu panggilan saya, mirip keluarga besar. Di sini, saya telah diberi kesempatan banyak untuk belajar. Selain itu saya dapat me-nikmati pelayanan di luar rutinitas gereja, termasuk di media. Tuhan memberi banyak hal, kesempatan, dan keluarga yang mendukung,” urai Imanuel.

Teologi dan Media
“Setiap hari, harus ada satu  tulisan yang saya hasilkan,” itulah tekad Imanuel. Selain untuk me-ngasah kemampuannya dalam menulis, tulisan itu juga akan digu-nakan sebagai stock yang siap dipa-kai kala perlu. Imanuel menjadikan ini sebagai gaya hidupnya. Tak heran jika dia selalu bangun lebih pagi dan tidur paling malam, untuk mempersiapkan seluruh tugas, dan menghasilkan tulisan.  
“Pendeta jangan ada pada domain Anda. Tapi belajarlah pada domain lain, karena kalau tidak, pendeta menjadi sendirian terting-gal. Perlu belajar banyak hal. Sehingga apa yang disampaikan akan relevan,” pesan Imanuel dengan sangat antusias. Belajar dari tiap orang, adalah cara yang dipakai Imanuel untuk menggali banyak hal. “Belajar dan meniru, namun menjadi peniru yang lebih baik dari yang ditiru,” ungkap Imanuel sambil tersenyum.  
Ada hal sederhana yang diguna-kan Imanuel dalam mempertahan-kan bahasa khotbah di media, yakni dengan senang bercerita. “Hidup adalah cerita, dengan bercerita dapat menghubungkan banyak orang, tidak pernah out of date. Selanjutnya hidup adalah belajar, dengan banyak membaca tidak ketinggalan perkembangan dan berita”. Walaupun disadari, tidak ada yang baru, namun Imanuel ber-tekad membuat setiap hari harus baru dengan sesuatu yang baru, melalui tulisan, khotbah, kata-kata motivasi, serta wujud pelayanan yang dilakukannya. Istri dan anak adalah pendukung utama bagi Imanuel, dalam menjalankan selu-ruh pelayanan.
Menyangkut media dan teologi, Ketua 1 PPK Tabitha (yayasan kedukaan) ini, berucap, “Media bagian dari seni. Teologi tanpa seni akan menjadi gersang. Seni tanpa teologi akan menjadi miskin, dan tidak dapat dinikmati banyak orang. Maka, media seharusnya menjadi perpaduan seni dan teologi. Inilah yang membuat gereja harus sadar akan media”.
Imanuel menyadari titik pijak adalah jemaat. Sehingga ada banyak hal yang tetap dilakukan di jemaat. Kesukaannya akan media, membuat dia tetap bertahan di media. Inilah kesempatan untuk menghadirkan yang bermakna/berarti, sebagai kebahagiaan yang tak ternilai dirasakannya. “Hidup menjadi berarti bagi banyak orang, membuat orang lain bahagia. Maka, kita akan paling bahagia,” ungkap ayah dari Josua Theo ini.
Dalam setiap kepercayaan dan kesempatan yang diterimanya, Ima-nuel pun menyadari kemungkinan menjadi orang angkuh, karena merasa berhasil dan mampu. Inilah ketakutan yang terus membuat dirinya sadar, masih dalam proses belajar. “Semakin belajar, semakin kita merasa tidak terlalu banyak tahu. Kita sadar masih kurang dalam banyak hal,” tutur Imanuel.

Menyoroti perkembangan gereja di perkotaan seperti Jakarta, Ima-nuel berkomentar, “Setiap keluar-ga orang percaya, harusnya men-jadi eklesiola di dalam eklesia. Men-jadi gereja kecil dalam gereja”. Sejujurnya keluarga modern sangat sibuk. Perjumpaan menjadi tidak efektif, tidak intens walau banyak alat komunikasi.
“Komunikasi dengan hati dan perjumpaan itu sangat kurang. Waktu, kesibukan, jarak, kemace-tan membuat keluarga menjadi pilar-pilar yang harusnya mendu-kung pertumbuhan seseorang. Mem-buat pembinan-pembinaan keluarga lebih banyak. Menjadikan hari minggu, untuk keluarga berkumpul dan melibatkan keluarga dalam pelayanan,” tambah Imanuel.
Imanuel menggores pengala-man melalui pelayanan, yang menghantarnya menjadi berkat. Ada banyak pesan yang membuat gereja belajar dari hal kecil untuk menjadi besar, namun tetap terikat menjadi kekuatan yang dapat menerangi dunia ini.Lidya

44
17 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 5.1732 sec | TOP
Online Support :