Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Daily News

Pohon Natal Dilarang Dipasang Terbalik

Posted : 15 Januari 2010
122Serba-serbi.jpg
Reformata.com - PERAYAAN Natal secara “resmi” memang sudah selesai pada 25 Desember lalu. Namun aromanya masih semerbak hingga bulan Januari ini. Buktinya masih ada gereja atau komunitas yang merayakan hari kudus itu.  Pohon natal masih berdiri anggun.
Natal adalah suka cita karena umat manusia di seluruh dunia merayakan lahirnya Yesus Kristus, Tuhan dan juru selamat semua orang yang berkenan kepada-Nya. Untuk melambangkan rasa suka cita tersebut, setiap orang yang merayakannya selalu menghiasi rumah dan gereja dengan aneka macam pernak-pernik yang membuat suasana lebih semarak. Salah satu aksesoris di hari bahagia itu, yang rasanya tidak bisa dile-paskan dari perayaan sepanjang bulan Desember itu adalah pohon natal. Pohon yang satu ini dise-but juga pohon terang, karena di sekeliling pohon itu ditaruh lilin atau lampu-lampu hias yang ketika dinyalakan pada malam hari menciptakan suasana terang yang sangat indah dan syahdu.
Banyak pihak mempertanyakan tentang asal-usul pohon natal ini, terutama bagaimana benda ini menjadi semacam icon Natal. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, berikut kami sajikan tulisan yang kami sarikan dari berbagai sumber.

 Sejarah pohon natal dimulai dari Jerman. Konon bangsa Jerman kuno memiliki kebiasaan memasang batang pohon (lengkap dengan cabang-cabang dan daun-daunnya) di tempat tinggal mereka untuk mengusir roh jahat, dan sebagai simbol agar musim semi cepat tiba. Kebi-asaan ini telah dimiliki pada zaman dahulu bahkan sebelum kitab-kitab suci dibawa oleh para nabi.
Pada saat Kristen menyebar di Jerman, gereja tidak menyukai kebiasaan tersebut dan mela-rangnya. Sekitar abad ke-12, seorang pemilik bakery menaruh batang pohon tersebut dalam keadaan terbalik, dan hal ini disetujui gereja Katolik.

Setelah Protestan muncul, Martin Luther mempopulerkan pohon natal ini dengan posisi natural seperti pohon pada umumnya dan dihiasi dengan lilin-lilin untuk menunjukkan pada anak-anaknya bagaimana bin-tang-bintang berkilauan di langit yang kelam. Dan seiring dengan waktu, pohon natal pun dideko-rasi dengan hiasan-hiasan menarik seperti lampu-lampu, angel, bahkan cokelat dan apel.
Pohon natal pertama datang di Inggris karena Raja Georgian yang berasal dari Jerman. Pada saat itu rakyat Inggris kurang bersimpati pada monarki Jerman sehingga trend tersebut tidak merakyat di kalangan mereka. Pada 1846 Ratu Victoria dan pangeran Jermannya, Albert, digambarkan oleh London News berdiri beserta kedua anak mereka me-ngelilingi pohon natal. Karena Ratu Victoria sangat populer di hati rakyat, segeralah pohon natal menjadi trend di kalangan rakyat Inggris bahkan menyebar hingga ke pantai timur Amerika. Pohon natal pertama di Amerika konon bermula di Pennsylvania yang dipopulerkan oleh penda-tang yang berasal dari Jerman.
Secara tradisional, pohon natal di Jerman dipasang dan dihias pada 24 Desember saat malam Natal, hingga 6 Januari. Tetapi ada juga pendapat bahwa kebia-saan memasang pohon natal pertama kali di Amerika dipo-pulerkan oleh tentara Jerman Hessian.

Hidup terus
Informasi lain seputar asal-usul pohon natal ini adalah lagenda berdasarkan penga-laman “supranatural” St. Bo-niface. Dia pendeta Inggris yang memimpin beberapa ge-reja di Jerman dan Perancis. Suatu hari dalam perjalanan dia melihat sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada Dewa Thor di sebuah pohon oak.     Untuk menghentikan perbua-tan jahat mereka, secara ajaib St. Boniface merobohkan po-hon oak tsb dengan pukulan tangannya. Setelah kejadian yang menakjubkan tersebut di tempat pohon oak yang roboh tumbuhlah sebuah pohon cemara, yang men-jadi cikal bakal pohon natal. Pohon ini juga melambangkan “hidup kekal”, sebab pada umumnya di musim salju hampir semua pohon rontok daunnya, kecuali pohon cemara, selalu hijau daunnya.
Cerita lain mengisahkan kejadian saat Martin Luther, tokoh Refor-masi Gereja, sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu malam. Ter-kesan dengan keindahan gemer-lap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-ca-bang pohon cemara di hutan, Martin Luther menebang sebuah pohon cemara kecil dan memba-wanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan ge-merlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, Martin Luther memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut.  

Terlepas dari kebenaran kisah-kisah di atas, hingga hari ini pemasangan pohon natal masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Kristen. Bagi orang-orang yang tidak berkenan dengan pohon natal, ada kisah bahwa pada jaman dahulu bangsa Romawi menggunakan pohon cemara untuk perayaan Saturnalia, mereka menghiasinya dengan hiasan-hiasan kecil dan topeng-topeng kecil, karena 25 Desember adalah hari kelahiran Dewa Matahari. Inilah sebabnya ada beberapa aliran gereja tertentu yang mengharamkan tradisi pohon Natal, sebab mereka menganggap ini sebagai pemujaan Dewa Matahari.  
HPT/dbs

58
8 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.8567 sec | TOP
Online Support :