BANYAK alasan seseorang rajin ke gereja atau menghadiri kegiatan ber-sama di lingkungan gereja. Ada yang beralasan karena kewajiban beragama, tapi ada juga yang beralasan karena telah mengalami karya Tuhan dalam hidupnya. Valentinus Sutiadji, seorang penyandang cacat netra, termasuk yang terakhir. “Pertolongan Tuhan benar-benar nyata dalam hidup saya. Karena itu, sikap yang paling tepat adalah senantiasa bersyukur,” ujar jemaat Gereja Katolik Santa Helena, Tangerang ini.
Rasa syukur itu senantiasa diaktualisasikan suami dari Maria Immaculata Kamsiyah ini dengan beberapa cara. Setiap bangun pagi, yang terucap dari mulutnya adalah bersyukur. “Bersyukur karena Dia membimbing selama istirahat malam. Juga bersyukur karena di-beri kesempatan untuk menikmati hari yang baru. Kemudian, pukul 12.00 dan pukul 18.00—sesuai ma-sa liturgi—berdoa Angelus atau Ratu Surga,” ungkap pria kelahiran Ma-lang, Jawa Timur 21 Mei 1947 ini.
Ungkapan syukur itu kemudian dinyatakan dalam upaya untuk selalu mendahulukan “Kerajaan Allah” seperti disabdakan dalam Ma-tius 6: 33, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Menurut dia, kerajaan Allah itu berarti firman Tuhan atau pimpinan Tuhan. Dan yang ditam-bahkan itu bukan hanya materi, tapi hal-hal lain. “Hal spiritual pun bisa dimasukkan dalam kategori itu. Katakanlah misalnya ketenangan hati, ketenangan pikiran, juga keharmonisan dalam kehidupan keluarga sehingga kita dapat melewati aktivitas dengan lebih baik dan maksimal,” jelasnya.
Ayah dari Yohana Irma Sumarseh ini selalu mengutamakan Tuhan. Setiap hari Minggu tak pernah absen bertemu Tuhan dalam misa kudus. “Apabila terlambat tiba di gereja menghadiri misa, saya dan istri memutuskan pulang ke rumah dan menunggu giliran misa berikut-nya. Misalnya, kami memutuskan ke gereja pada hari Sabtu sore dan ternyata tiba di gereja terlambat, maka kami tunda menunggu misa hari Minggu pagi. Apabila terlambat juga maka kita harus lanjutkan perjalanan ke gereja lain, misalnya ke Gereja St. Agus-tinus, Karawaci, Tangerang. Apa pun alasannya harus mengikuti misa hari itu,” tukasnya.
Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) Depdiknas Jakarta ini mengaku terkadang terlambat tiba di Gereja Santa Helena menghadiri misa. Adakalanya terlambat lima menit, sepuluh menit atau lima belas menit. “Kalau sudah terlambat meski baru lima menit misalnya, ya kami pulang saja. Tidak baik kalau tidak mengikuti misa dari awal. Meng-hadiri misa harus mencakup dari awal hingga selesai,” lanjutnya. Diakuinya, terjadinya keterlamba-tan itu bila air di rumahnya ma-cet. “Ini alasan utama. Makanya, kalau air macet dan terjadi pada hari Sabtu sore atau hari lain, yang kebetulan ada kegiatan di gereja, kepala sudah pening. Kita memang selalu antisipasi kejadian itu. Tapi, yang namanya tak terduga, apa boleh buat. Kita pasrah saja. Paling kami tinggal berencana ke-mungkinan akan mengikuti misa di gereja mana yang masih pas waktunya,” tutur Valentinus yang diamini istrinya.
Sejak lahir
Terganggunya indra penglihatan Valentinus sudah sejak lahir. Awal-nya, matanya buram. Dia melihat segala sesuatu di sekitarnya tidak jelas. Berbagai pengobatan alter-natif yang diupayakan orang tua-nya tak membuahkan hasil. “Harapan orang tua, mata saya bisa normal sebagaimana mestinya. Tapi nyatanya gagal,” kisahnya. Saat memasuki usia sekolah, meski indra penglihatannya tak kunjung mem-baik, dia tetap bersekolah. Oleh gurunya di sekolah rakyat (seka-rang SD—Red), Wonogiri, Jawa Tengah, dia duduk di bangku paling depan. “Agar tulisan guru di papan tulis terlihat jelas,” katanya.
Namun, hal itu tidak membantu. Tulisan guru di papan tulis dilihat-nya masih buram. Karena itu, untuk mencatat setiap tulisan di papan tulis ke bukunya, dia terpaksa maju ke dekat papan tulis sekitar 10-30 centimeter. Hal itu dilaku-kannya setiap hari di sekolah. Guru-guru dan teman di sekolah me-makluminya. Sehingga setiap kali di mendekati papan tulis, guru dan teman-temannya tak berkomentar apa-apa. Saat ujian, dia selalu didampingi seorang guru memba-cakan soal-soal. “Jadi guru mem-baca soalnya, saya langsung menjawab,” lanjutnya.
Keprihatinan orang tuanya atas kondisi Valentinus tak surut. Orang tuanya senantiasa mencari infor-masi mengenai pengobatan yang tepat untuk mengobati matanya. Memasuki kelas 3 SD tahun 1956, ia dibawa orang tuanya ke seorang dokter ahli mata di Yogyakarta. “Setelah diperiksa, dokter tak mengatakan apa-apa tentang kondisi mata saya. Saya hanya disuruh menggunakan kaca mata tebal. Maka sejak saat itu saya sudah mulai menggunakan kaca mata,” kenangnya.
Sebagai manusia yang meng-hendaki indra penglihatannya berkembang normal, cukup sulit menerima kenyataan itu. Tapi, Valentinus tetap menguatkan dirinya. Tiada kekuatan lain selain dia hanya berdoa pada Tuhan. Dan memang dirinya terus dikuat-kan oleh-Nya. Rumahnya yang cukup dekat dengan gereja, dia manfaatkan untuk selalu hadir di gereja mengikuti misa. Setiap minggu minimal dia mengikuti misa di gereja dua kali, yaitu hari Ming-gu dan Senin. “Sebelum berang-kat ke sekolah pada hari Senin pagi, saya ikut misa di gereja dulu. Kebetulan, saat itu, di gereja paroki saya ada misa pagi hari Senin. Jadi, saya menyikapi keter-batasan indra penglihatan saya, harapan penyembuhan yang tak kunjung tiba, dengan menguatkan diri di hadapan-Nya,” katanya.
Meski aktivitas sekolahnya terganggu, tapi dari tahun ke ta-hun Valentinus melewati seko-lahnya dengan baik. Setiap tahun, ia tetap naik kelas hingga lulus sekolah menengah atas (SMA). “Itu mustahil terjadi jika hanya me-ngandalkan kekuatan saya sendiri. Itu kehendak Tuhan semata. Tuhan yang selalu membuat saya lulus sekolah dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Lulus tes PNS
Setelah tamat SMA Negeri Wonogiri, 1969, Valentinus berangkat ke Jakarta. “Tujuan ke Jakarta sebenarnya mengambang. Mau dibilang cari kerja, itu tidak mungkin. Kondisi mata saya tak berubah. Malah yang terjadi adalah tanda-tanda menurun. Tapi yang pasti, saat itu, saya dibawa orang tua ke Jakarta dan tinggal bersama saudara,” katanya.
Tahun 1972, Valentinus atas suruhan keluarganya mengikuti tes menjadi PNS. Dia ikut tes PNS itu tak sepenuh hati karena bayangan pesimis lebih kental, karena kondisi fisiknya. “Ketika hasil tes PNS diumumkan, saya hampir tak per-caya bahwa nama saya tercantum di sana,” ujarnya. Perasaan bahagia tak terlukiskan dengan kata-kata. “Tuhan menambah lagi satu karya mukjizat-Nya atas diri saya,” ujarnya.
Selama 32 tahun bekerja sebagai PNS, hampir tak ada kendala berarti yang dialami Valentinus. Sebagai manusia lemah, kesulitan tertentu di tempat kerja pasti ada. Tapi, masalah itu selalu terselesai-kan. “Dalam iman, saya percaya, itu terjadi karena Tuhan. Saya berkeyakinan bahwa Tuhan telah memampukan saya melewati terjalnya pendidikan. Dia juga yang menghendaki saya bekerja sebagai PNS. Karena itu, ketika ada masa-lah apa pun, saya juga berkeyaki-nan bahwa Tuhan pasti akan menyelesaikannya,” tegasnya.
Sejak pensiun 2003 lalu, Valentinus menempati rumahnya di Perumahan Binong Permai. Meski kondisi penglihatannya makin menurun, tapi menghadiri acara di lingkungan gereja dia tetap berse-mangat. Ke mana pun dia pergi, istri tercinta senantiasa mendampingi. Istrinya selalu menuntunnya ke gereja, dan ke tempat di mana acara berlang-sung, dan terutama kebersamaan di komunitas lanjut usia (lansia).
“Beberapa kegiatan lingkungan dan terutama kebersamaan di lansia, saya berusaha hadir. Keha-diran saya sebagai ungkapan syukur pada-Nya. Betapa tidak, kendati saya me-ngalami keterbatasan indra peng-lihatan, tapi DIA terus membimbing. Dia yang senantiasa menenangkan pikiran, menyejukkan hati, dan membukakan realitas bagi saya,” ujarnya.Stevie Agas