Search
Translator
Laporan Utama
Selebaran-KristenisasiPicu-Penutupan-Rumah-Ibadah.jpg
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
Login
User ID :
Kata Sandi :
Laporan Khusus
Menanti-Mayat-Hidup-Kembali.jpg
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Konsultasi Keluarga

15 January 2010

Jangan Menikah! Jika Takut Ada Masalah

marriage-symbol.jpg

Bersama: Bimantoro Elifas

Reformata.com - SAYA mau bercerai tapi suami tetap ingin mempertahankan pernikahan. Usia saya 22 tahun dan suami 31 tahun. Usia pernikahan kami 1 tahun, dan sudah 6 bulan ini saya kembali ke rumah orang tua. Kami sudah melakukan konseling dan rasanya memang rumah tangga kami sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Saat ini saya bekerja di biro perjalanan. Suami saya terlalu mengekang dan selalu keberatan dengan pergaulan saya. Sebagai tour guide saya sering melakukan perjalanan dan tentunya memperlakukan tamu tamu saya dengan sebaik mungkin. Ibu saya mendukung keputusan saya, tapi keluarga suami tetap ingin mengupayakan kami bersatu. Keinginan bercerai semakin kuat ketika suami mengancam akan melaporkan saya ke polisi dengan tuduhan berzinah kecuali saya kembali. Dia mendapatkan foto saya sedang mengantar seseorang ke kamar sebuah hotel. Sebuah tuduhan yang mengada-ada karena memang itu salah satu bagian pekerjaan saya. Saya tahu bercerai itu dosa tapi bagaimana lagi? Saya ingin bercerai secara baik-baik
J  di Medan

 SAUDARI  “J” yang terkasih, bercerai secara baik-baik merupakan ungkapan yang bisa muncul ketika permasalahan yang tejadi tampaknya tidak bisa lagi diatasi. Tapi apakah betul bercerai secara baik-baik bisa terjadi? Karena dalam perceraian pasti ada pihak yang merasa disakiti. Perceraian tentunya tidak terjadi begitu saja tanpa ada latar belakang masalah sebelumnya. Saya menghargai keputusan Anda untuk bercerai, apalagi Anda merasa sudah berupaya dengan konseling. Tetapi mari kita coba pikirkan kembali beberapa hal sebagai berikut:  
1) Ketika Anda mau menikah apa yang menjadi pertimbangan Anda?. Saya tidak tahu berapa lama Anda berpacaran dan menge-nal calon suami Anda. Ada orang yang menikah karena merasa yakin bahwa calon pasangan merupakan calon yang sangat mengerti di mana dia merasa aman. Tetapi ada juga yang menikah karena tuntu-tan ekonomi, atau ada juga yang menikah karena tuntutan masyara-kat, atau ada yang menikah karena sudah melakukan hubungan sek-sual, dan banyak lagi pertimbangan kenapa orang mau menikah.


2) Apakah ada alasan lain selain dari apa yang telah Anda utarakan, yang membuat Anda begitu yakin bahwa hubungan ini tidak bisa dipertahankan dan ingin bercerai. Apakah sikap suami yang menurut Anda terlalu mengekang tidak bisa dilihat dari sisi lain? Misalnya apakah tidak mungkin sikap suami muncul dari rasa sayang dan keinginan untuk menjalin relasi yang lebih personal dengan  Anda? Dan apa-kah ancaman yang dilakukan bisa saja muncul dari keputusasan karena melihat keinginan kuat dari Anda untuk bercerai? Mengapa hal ini saya petanyakan? Karena kepu-tusan untuk menikah tentunya sudah dilandasi dengan sebuah kesadaran bahwa pernikahan membutuhkan penyesuaian peran dari setiap individu di dalamnya. Saya tidak tahu sejauh mana Anda sudah mengerjakan penyesuaian peran ini. Penyesuaian peran yang saya maksudkan salah satunya adalah dari wanita “bebas” menjadi wanita yang mengikatkan diri pada komitmen tertentu.


3) Sikap saya sebagai konselor Kristen adalah Anda dan suami tetap menjalani  pernikahan dan mengupayakan segala kemungki-nan yang bisa diambil untuk mem-pertahankan sebuah pernikahan. Sikap ini dilandasi sebuah kesadaran bahwa di dunia yang tidak sem-purna karena dosa ini, setiap indi-vidu juga tidak sempurna dengan memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing (Roma 3: 23). Karena tidak ada individu yang sempurna maka tidak ada pernika-han yang sempurna. Oleh sebab itu, permalasahan yang terjadi dalam pernikahan tidak bisa hanya merupakan tanggung jawab salah satu pihak. Ada banyak perbedaan yang bisa terjadi dalam pernikahan. Perbedaan dalam melihat masalah, perbedaan dalam menyelesaikan masalah, perbedaan dalam cara hidup, perbedaan dalam mengu-tarakan perasaan dan lain-lain. Oleh sebab perbedaan-perbedaan ini maka setiap pihak dalam per-nikahan berkontribusi dalam setiap masalah yang muncul.  Melihat kenyataan pernikahan ini, ada pen-dapat yang mengatakan: “Kalau tidak ingin mengalami masalah pernikahan, satu satunya cara adalah jangan menikah!” 
Kiranya Tuhan menolong dalam menentukan sikap atas permasala-han yang terjadi dalam kehidupan pernikahan Anda.v

LIFESPRING COUNSELING CENTER
68199933 / 22
www.my-lifespring.com

 

Post your comment

* Your Name :
* Your Email :
* Description :
 
Enter the Verification Code shown!

Others