Reformata.com - ADA DUA hal utama yang mewarnai peristiwa Natal. Yang pertama adalah aktivitas malaikat (Angelic activities) yang mewarta-kan kesukaan besar bagi seluruh dunia. “Hari itu telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus, Tu-han, di kota Daud.” (Lu-kas 2: 11). Yang kedua adalah skenario pemaksaan ilahi agar kita mene-rima Yesus untuk lahir dalam kehidupan kita. Demikian intisari kotbah yang disampaikan Pdt. Mohamad Riza Solihin dalam kebaktian Natal bersama INI (Ikatan Notaris Indonesia) dan IPPAT (Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah) DKI Jakarta, pada Rabu (2/12), di Klub Kelapa Gading, Jakarta.
Acara rohani yang dihadiri lebih dari 250 jemaat yang terdiri dari para Notaris/PPAT di lingkup DKI Jakarta maupun Bekasi, Tange-rang, Depok dan Bandung ini menampilkan juga kesaksian dari Mayor Jenderal TNI Darpito Pudya-stungkoro, Sip.,MM., Pangdam V Jaya, Jakarta serta artis penyanyi Umbu Prabawa serta diiringi koor dari Notaris Ivone Sinyal dan kar-yawannya. “Perayaan ini merupa-kan kesempatan mengintegrasikan pergumulan kita dalam terang kelahiran Yesus,” kata Dr. Purban-dari, SH, M.Hum, MM, M.Kn., Ketua Penyelenggara Perayaan Natal ini.
Menurut Pdt. Riza, skenario pemaksaan Ilahi itu nampak dari kisah Injil tentang perintah Kaisar Agustus untuk mendaftarkan orang di seluruh dunia, masing-ma-sing orang di kota asalnya. “Dengan begitu, semua orang harus kembali ke Yerusalem. Maka lahirlah juru sela-mat di Bet-lehem, kota Daud seperti dinubuatkan dalam Mikha 5:1, ‘Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Ye-huda, dari pada-mu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel.’ Jadi semua orang dipaksa untuk menyaksi-kan kelahiranNya,” kata Pdt. Riza. Lantaran itu, natal harus mengubahkan kharakter kita. Natal harus membuat kita rendah hati, tidak berdalih. “Kita harus memaksa orang untuk kem-bali pada Tuhan, masuk dalam skenario keselamatan Allah,” tegasnya.
Sementara dalam kesak-siannya, Bapak Mayor Jenderal TNI Darpito Pudyastungkoro, Sip, MM, Pang-dam V Jaya, Jakarta menandaskan bahwa pemimpin yang diberkati adalah orang-orang yang mengan-dalkan Tuhan. “Ia berakar dalam Tuhan sehingga menghasilkan buah-buah terbaik dalam hidup-nya,” katanya. Dalam kesaksian-nya yang memakan waktu lebih dari sejam itu, Pangdam mence-ritakan penyertaan Tuhan yang luar biasa saat bertugas sebagai pasukan perdamaian di Timur Tengah. “Saya lolos dari ranjau karena Tuhan Yesus memperi-ngatkan saya,” katanya. Pemim-pin yang diberkati, lanjut dia, harus hidup sebagai pelaku Firman. “Itulah kunci keberhasilan dan kebahagiaan. Dia akan menjadi kuat dan diberkati,” katanya. Paul Makugoru.