Hidup memang unik, putarannya pun tak jarang membuat orang terseok-seok mengikutinya. Siapa pun orangnya pasti pernah mengalami krisis iman, yang terekspresi dalam sikap yang apatis dan skeptis terhadap gereja dan agama. Pada dasarnya persoalan iman, berhubungan erat dengan soal pertanyaan dasar tentang pribadi dan subyek besar pengatur seluruh jagad raya ini. Misteri besar tentang kebenaran tertinggi – Tuhan, menjadi suatu hal yang perlu “diragukan”, sebagai pemenuhan kebutuhan atas iman yang bertanggung jawab – bukan iman buta.
Karena itulah, teolog besar seperti, Francis Schaeffer (1912--1984) pun pernah mengalaminya. Francis Schaeffer hidup antara tahun (1912--1984). Pria kelahiran Philadelphia, Pennsylvania, tahun 1912, sejak kecil memang dikenal sebagai anak cerdas lagi kritis. Berpikir kritis ini pun kemudian terus terbawa sampai dia dewasa. Pergumulan teologis dan pertanyaan fundamental tentang misteri dan kebenaran tertinggi telah tertambat dalam benaknya sejak masih remaja. Buku-buku filsafat dan Alkitab pun menjadi menu hariannya. Tak heran, pada masa sekolah menengah, Schaeffer pun menjadi seorang agnostik (orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan dapat diketahui).
"Sementara saya merenungkan kembali alasan mengapa saya menjadi orang Kristen, saya melihat kembali bahwa ada banyak alasan yang memadai untuk mengetahui bahwa Allah Yang Mahakuasa yang bersifat pribadi benar-benar ada dan bahwa kekristenan itu benar." Kalimat itulah yang kemudian menjadi ekspresi verbal, titik balik spiritualitas Schaeffer. Keyakinannya sebagai seorang agnostik semasa remaja membuatnya kembali menggumulkan hal itu dan mencari jawaban atasnya.
Alumni Westminster Theological Seminary, yang belajar di bawah bimbingan J. Gresham Machen dan Cornelius Van Til ini, secara serius menggumulkan persoalan tentang praduga dan pemikiran religius. Menurutnya, filsafat bukanlah suatu fungsi akademik yang terpisah, tetapi bahwa setiap orang mempunyai pandangan hidup masing-masing. Dengan ini, Schaeffer seolah telah mendorong banyak orang untuk mengikuti dengan saksama implikasi dari praduga religius mereka, sekaligus memaksanya untuk menghadapi sudut pandang dunia yang mereka pegang.
Perkembangan intelektuaitas Schaeffer kemudian mengarahkannya untuk condong pada pengajaran yang lebih bersifat sosiologis dan politis. Dia melontarkan serangkaian analisis tentang subjek besar, seperti ekologi, gereja, kemurnian doktrin, aborsi, eutanasia, perang dan damai, dan hak warga negara. Dia juga menulis banyak buku yang diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Schaeffer adalah seorang pengkritik yang sangat konsisten dalam memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Salah satu yang dikritiknya adalah tentang penginjilan kontemporer yang begitu marak masa itu yang kemudian di publikasikan dalam "True Spirituality" dan tulisan lainnya. Surat-suratnya pada masa itu memperlihatkan suatu kesadaran akan banyak kesalahan yang dilakukan oleh para pemecah dan semakin kuatnya kenyataan rohani dalam hidupnya. Ia membimbing rekan-rekannya yang ikut memisahkan diri untuk memerlihatkan kasih dan juga membela kebenaran. Ia juga memasuki suatu pengertian baru tentang hubungan antara berjuang untuk mempertahankan iman dan dipimpin Roh Kudus. Schaeffer banyak memengaruhi perkembangan gereja-gereja presbiterian konservatif di Amerika.
Tema besar dari banyak karya Schaeffer adalah tentang "ketuhanan Kristus dalam totalitas kehidupan". Baginya, hidup tidak dapat dibagi menjadi suatu bagian "rohani" dan bagian "bukan rohani". Jika Yesus Kristus benar-benar Tuhan, Ia harus menjadi Tuhan dari segala hal, dalam segala bidang. Jika pada awalnya, dari Schaeffer menekankan ketuhanan Kristus secara intelektual dan seni. Namun, karena kemerosotan kultur Barat, ia kemudian mengarahkan keprihatinannya ke arah ketuhanan Kristus atas isu-isu sosial. ? SLAWI/dbs