DUNIA pendidikan adalah panggilan jiwa saya”. Inilah ungkapan Rektor Institut Theologia dan Keguruan Indonesia (ITKI) Petamburan, Pdt dr. Gernaida KR Pakpahan. Wanita sederhana namun cerdas ini kini dipercayakan memimpin 550 mahasiswa dari seluruh program studi yang ada di ITKI, dan 40 staf dosen karyawan. Jabatan itu dia emban sejak November 2008. Latar belakang keluarga yang kuat dalam pendidikan telah memben-tuk istri Dr. Frans Pantan ini menjadi sosok yang unggul membangun dan mencintai pendidikan. Kedua orang tuanya adalah guru. Sang ayah bahkan anggota majelis gereja dan guru sekolah Minggu yang setia hingga akhir hidupnya. Pengaruh inilah yang membekas, dan membentuk Gernaida menjadi wanita yang terjun ke dunia pelayanan, namun tetap fokus pada pendidikan.
Jejak awal pendidik
Setelah melalui pertimbangan matang, Gernaida mendaftarkan diri jadi mahasiswa ITKI, pada 1989. Dia menyelesaikan perkulia-han pada 1992. Tahun 1993 dia diutus sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) sebagai misionaris ke Cina. Akhir 1994 dia kembali ke Indonesia, dan menjadi asisten dosen hingga menjadi dosen Biblika Perjanjian Lama.
Dia tetap melanjutkan pelajaran hingga menyelesaikan program S-2 di Sekolah Tinggi Teologi Ja-karta (STTJ) dan mendapat gelar master theologi. Belum cukup, dia kemudian melanjutkan ke program S3 di Seminari Theologia Baptis Indonesia (STBI) Sema-rang, dan mendapatkan gelar doktor.
Walau dia seorang misionari, dan menjalankan tugas penggem-balaan di gereja, namun pendidi-kan menjadi titik penting yang terus dilakukan Gernaida. “Men-ciptakan manusia yang utuh melalui pendidikan. Sebagaimana Yesus datang memanusiakan manusia. Pendidikan membuka cakrawala berpikir yang luas, untuk mengubah bangsa ini. Berpikir apa yang harus kita lakukan untuk bangsa ini, dengan global minded. Sepuluh tahun mendatang mau menjadi apa? Itu tergantung apa yang kita tanamkan dalam pendidikan,” tutur Gernaida.
Gernaida mengumpamakan 100 SDM yang diolah, apakah 10 tahun mendatang dapat leading di masyarakat dan memberi dampak. “Kerja sama antara STT dan gereja harus dilakukan sejalan, tidak sendiri-sendiri. Perlu ada lembaga kajian penelitian untuk mengetahui apa yang dibu-tuhkan gereja 10 tahun menda-tang. Bukan hanya warga gereja yang baik atau lulusan STT sebagai manusia-manusia eksklusif, dengan jargon-jargon berilmu, tapi akan jadi apa di masyarakat. Apa sum-bangsih pendidikan teologi bagi masyarakat gereja? Perlu ditinjau ulang mendirikan STT. Pendidikan STT yang berkualitas dan melahir-kan SDM yang berguna,” ulas ibu dua anak ini.
“Menjadikan mahasiswa berin-telektual tinggi tapi berkarakter adalah tantangan terbesar, yang membutuhkan ekstra energi. Latar belakang mahasiswa yang berbeda dari berbagai daerah, menyebabkan shock cultur, membutuhkan pena-nganan yang tepat,” aku wanita kelahiran Tapanuli, 4 Juni 1967 ini. Setiap tantangan dan proses yang panjang tetap dijalani Gernaida untuk semakin maju.
Pemimpin yang melayani
Alumni yang melayani, itulah sosok Gernaida. Selain mengajar sebagai dosen, merintis beberapa jemaat, mendewasakan jemaat bersama suami, membantu bidang pengajaran dan pelatihan-pelatihan di gereja, serta men-support departemen teologi di sinode GBI, Gernaida dipercaya memimpin ITKI selama setahun ini.
Hal yang membahagiakan, selain melihat seluruh tanggung jawab sebagai panggilan, Gernaida melihat ITKI seperti rumah sendiri. Dia dibesarkan dari sana dan berada pada sinode GBI di mana dia ber-gereja. “Di ITKI saya feel at home, teman-teman seperti keluarga. Jadi tidak ada friksi-friksi dan perbedaan-perbedaan yang terlalu jauh. Yang ada adalah hubungan orang tua dan anak. Sebuah situasi kekeluar-gaan, sehingga komunikasi yang dibutuhkan dalam kepemimpinan, tidak harus bertele-tele, hanya dengan kekeluargaan,” tandas Gernaida.
Memimpin bukan hal baru bagi Gernaida. Selain didukung situasi dan suasana kerja yang kondusif, ITKI juga sudah memiliki aturan dan arah yang jelas, posisi kerjasama dengan stakeholder sehingga banyak kemudahan bagi Gernaida dan tim untuk terus melanjutkan dan memperbaharui ITKI agar lebih baik ke depan.
Perbaikan mutu internal dan manajemen, ada target-target yang harus dicapai, menjadi konsentrasi Gernaida dan tim saat ini. Mengubah image ITKI dari sekolah yang tradisional menjadi berkualitas. Mahasiswa yang berpribadi unggul, alumnus yang cerdas, serta berkarakter yang baik di era yang sangat sulit ini, adalah harapan Gernaida.
Bagaimana Gernaida mengem-bangkan dirinya? Bertemu ba-nyak orang, berdiskusi, mengikuti setiap seminar/training, banyak membaca. Itulah cara-cara Ger-naida untuk meng-upgrade dirinya. Belajar menemukan titik temu manajemen gereja dengan pendidikan adalah hal baru yang terus memperkaya dirinya.
Gernaida, seorang pendidik yang memimpin dan melayani, sekaligus juga adalah seorang istri dan ibu rumah tangga. Tanggung jawab besar yang diembannya, tidak membuat dia kewalahan, sebaliknya sosok suami yang mencintai dan selalu mem-back up dirinya dengan setiap ide dan support, membuat dirinya terus menjadi berkat.
Akhirnya Gernaida menutup kisahnya dengan sebuah keyaki-nan: “Tuhan adalah pribadi yang memperkenalkan diri kepada saya dan menjadikan saya adanya. Yang oleh karena kasih-Nya, Saya diijinkan mengabdi pada-Nya melalui talenta dan kemampuan yang diberikan kepada saya. Maka dipanggil untuk melayani sebagai pelayan Tuhan, sebagai hamba, menjadi moto hidup saya,” ujarnya. Lidya