| Laporan Utama |
|
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
|
| Laporan Khusus |
|
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
|
| YM Support |
| Redaksi Reformata |
|
| lidya |
|
|
Kredo
15 December 2009 Terang yang Mengalahkan Kegelapan
Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div. Makna Kegelapan KITAB Perjanjian Lama tidak secara langsung menggunakan kata “kegela-pan” ketika manusia jatuh dalam dosa, namun ketika Alkitab mem-beritakan mengenai kedatangan Kristus ke dunia, keberadaan ma-nusia langsung dikaitkan dengan gambaran kegelapan atas keber-dosaannya: “Sebab sesungguh-nya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” (Yesaya 60: 2). Ayat ini menegaskan bahwa kegelapan itu telah menutupi selu-ruh bumi dan atas semua bangsa-bangsa, tidak ada pengecualian, sebagaimana tertulis dalam kitab Roma “semua manusia telah ber-buat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan akan mengalami maut” (Roma 3: 23; 6: 23). Pada kedua ayat tersebut Paulus tidak hanya menegaskan aspek keberdosaan manusia saja, tetapi juga penegasan kontras yang sungguh luar biasa yang menggambarkan betapa besarnya anugerah Allah kepada manusia. Sangat indah dan menarik pene-gasan Paulus terhadap kebinasaan dan kematian kekal atas semua umat manusia dibandingkan de-ngan karunia keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus yang mem-berikan hidup yang kekal kepada manusia berdosa. Memang pada dasarnya Allah tidak pernah meng-hendaki kebinasaan umat-Nya, sejak semula Allah telah menyedia-kan sebuah rencana keselamatan umat-Nya: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunj-ukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (Roma. 3: 25-26). Terang telah datang Setelah masa kegelapan yang dibiarkan Allah terjadi atas seluruh hidup manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa, maka pada waktu yang ditetapkan-Nya sendiri kemudian Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyatakan keadilan dan kasih-Nya yang besar kepada manusia. Kedatangan Yesus ke dunia merupakan kemenangan terang atas kegelapan itu, Yesus berkata: “Akulah te-rang dunia; barang-siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, me-lainkan ia akan mem-punyai terang hidup… Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kege-lapan” (Yoh. 8: 12, 12: 46). Fokus utama kesela-matan umat manusia sangat jelas hanya pada pribadi dan karya Yesus Kristus, karena memang hanya Dialah yang sanggup memenuhi segala persyaratan penebusan dosa umat manusia. Kepada setiap orang yang percaya dan telah menerima peng-ampunan dosa dalam Kristus dinya-takan oleh Allah sebagai terang: “Memang dahulu kamu adalah kege-lapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan, Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (Ef 5: 8; Mt. 5: 14). Di dalam statusnya sebagai terang itulah semua orang Kristen diperin-tahkan oleh Tuhan supaya jangan tinggal dalam kegelapan. Hal ini berarti agar orang Kristen tidak tinggal dalam cara hidupnya yang lama atau supaya tidak hidup di dalam cara hidup dunia yang tidak mengenal Allah, termasuk harus melepas diri dari segala bentuk perbuatan dosa. Menjadi terang di dunia yang gelap berarti dalam totalitas hidupnya sebagai orang Kristen menunjukkan suatu cara hidup yang sesuai dengan prinsip-prinsip nilai kebenaran Firman Tuhan. Semua orang Kristen dipanggil untuk menolak semua bentuk perilaku hi-dup yang jahat, setiap orang Kristen harus hidup dalam kejujuran dan penuh tanggung jawab. Orang Kris-ten harus menolak semua perbua-tan-perbuatan dosa dan kejaha-tan seperti penipuan, percabulan, perzi-nahan, pembunuhan, korupsi, dsb., di dalam seluruh aspek kehidupan-nya. Dengan kata lain orang Kristen wajib hidup dalam kekudusan Allah karena menjalami kehidupan yang kudus adalah satu-satunya cara menjadi orang Kristen yang otentik sebagaimana dikehen-daki oleh Allah. Rencana keselamatan digenapi oleh Kristus di kayu salib agar umat-Nya memiliki kekudusan di surga kelak, namun penebusan itu juga dimaksudkan agar umat-Nya hidup dalam kekudusan di dunia ini: “Hen-daklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Pet. 1:15-16). Karya penebusan Kristus di kayu salib bukan hanya untuk pengampunan tetapi juga untuk menguduskan secara total seluruh hidup umat-Nya. Natal dan salib Kristus Di masa-masa perayaan Natal seperti sekarang ini, hal-hal apakah yang paling menarik bagi Anda? Apakah kemeriahan dekorasinya dan pohon-pohon natal yang indah? Apakah pada kemeriahan perayaan-nya? Apakah pada indahnya lagu-lagu natal? Jikalau hal-hal tersebut yang menjadi fokus perhatian kita dalam merayakan Natal, maka kita kehilangan makna Natal yang sesungguhnya. Makna Natal yang sesungguhnya harus dilihat sebagai suatu relasi pribadi yang intim dengan Allah yang sudah menyata-kan terang-Nya yang besar sehingga kege-lapan telah sirna dari hidup kita. Makna Natal terletak pada kela-hiran Kristus di dalam diri setiap orang Kris-ten yang digenapi melalui penebusan Kristus di kayu salib (baca 1 Pet 1:18-19). Karena semua dosa dan pelanggaran telah diampuni maka seharusnya damai se-jahtera dan sukacita dari Kristus meme-nuhi seluruh kehidu-pan orang Kristen. Na-mun hal ini ternyata bukanlah sesuatu yang secara otomatis terjadi pada setiap orang Kristen, karena sangat bergantung pada kehidupan yang bagaimanakah yang dijalankan orang Kristen tersebut. Mengutip perkataan Mahatma Gandhi: “I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.” Apakah ini juga yang dikatakan orang-orang terhadap kualitas kekristenan kita? Apakah Allah puas melihat kualitas kerohanian kita, apakah Dia puas melihat dampak dari penebusan yang dilakukan Anak-Nya bagi kita? “Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegela-pan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran” (1Yoh.1: 6). Maka dari itu kita harus hidup kudus, tanpa kekudusan tidak seor-ang pun berkenan kepada Allah, tanpa kekudusan tidak mungkin seseorang mampu menyenangkan Allah, tanpa kekudusan tidak mungkin seseorang mampu memuliakan Allah dalam hidupnya. Natal hanya betul-betul bermakna bagi mereka yang menghidupi Natal tersebut dengan terus meng-hidupi kebenaran Kristus dan de-ngan terus-menerus memancar-kan terang Kristus dalam semua perilaku hidupnya. Betapa kita harus bersyukur atas besarnya dan berlimpahnya kasih Allah kepada kita yang ter-cermin dalam nubuat Allah terha-dap Yohanes pembaptis: “Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi untuk menyi-nari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Luk 1: 76-79). Marilah kita memberikan diri kita sebagai pemancar kasih, sukacita dan damai sejahtera Kristus bagi setiap orang di sekitar kita dengan menghadirkan kehidupan yang penuh terang ilahi dalam pikiran, perkatan dan perbuatan-perbua-tan kita. Allah tidak berhenti di Gol-gota untuk menggenapi rencana penyelamatan dan pengudusan umat-Nya, hingga saat ini Allah masih mencari domba-domba-Nya: “Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserah-kan pada hari berkabut dan hari kegelapan” (Yeh 34:12). Inilah keajaiban Natal bagi semua orang yang dikasihi-Nya, Puji Tuhan! Selamat Natal dan Tahun Baru. Gloria in excelsis Deo! v
Penulis melayani di GSRI Kebayoran Baru, Dosen STTRII.
Others
|
|