PAGI itu, Daniel Charnesto Saragih (8) pamit berangkat ke sekolah. Sang ibu, Eva Siregar, menebar senyum lebar kepada buah hati satu-satunya itu. Sementara, sang ayah hanya memberi pesan singkat kepada Daniel agar tidak nakal dan belajar sungguh-sungguh. Begitulah setiap pagi aktivitas keluarga yang tergolong prasejahtera itu.
Namun, jika ditelusuri, beban hi-dup mereka begitu berat. Eva dan suami tak hanya pusing memikir-kan biaya hidup sehari-hari, mereka pun harus menanggung penderi-taan batin berkepanjangan memi-kirkan penderitaan anak semata wayang yang mengalami kelainan di sekitar alat kelamin.
Menurut Eva, di bagian belakang alat kelamin anaknya ada lubang kecil. Dari lubang kecil itu keluar banyak air jika si anak buang air kecil. “Lubang itu sudah ada sejak dia lahir. Saya tidak tahu kok bisa begitu. Padahal, saat mengandung, saya tak pernah makan sembara-ngan. Saya kasihan melihat anak saya harus jongkok kalau mau pipis. Jika tidak jongkok, celana dalamnya basah karena dari lubang kecil itu keluar air juga,” keluh Eva.
Di lain sisi, cara Daniel buang air kecil, dipandang aneh oleh banyak orang seperti tetangga, teman-teman sekolah dan teman-teman bermainnya di rumah. Orang-orang yang belum mengerti masalahnya, semula merasa geli melihat Daniel buang air seperti perempuan. Teman-teman Daniel yang tidak mengerti kondisi Daniel malah mengolok-oloknya. Sampai kini, Daniel tidak merasa terganggu oleh ocehan teman-temannya. “Mung-kin karena dia masih kecil, jadi tidak tersinggung. Saya sedih dan kha-watir jika dia sudah besar,” kata Eva.
Eva dan suaminya sudah ber-upaya keras mengobati Daniel de-ngan membawa berobat ke sejum-lah dokter ahli, namun harapan agar anaknya sembuh belum juga kesampaian. Padahal, proses operasi sudah berjalan tiga kali dan uang puluhan juta sudah dihabis-kan. Kini, kedua orang tua Daniel pasrah dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan Yesus lantaran uang mereka sudah tidak ada. “Kondisi Daniel akan seperti itu terus jika tidak menjalani operasi besar. Ope-rasi itu membutuhkan biaya besar juga. Saya berharap mendapat bantuan dari siapa pun agar anak kami bisa normal seperti anak-anak lainnya,” kata jemaat HKBP Tanjungpriok, Jakarta Utara, ini.
Sudah tak berdaya
Keluarga Daniel tergolong miskin. Mereka menyewa rumah kecil. Sehari-hari Eva berjualan kue dan kerupuk ke rumah-rumah jemaat dengan mengendarai sepeda mini yang sebenarnya tak layak pakai. Sementara, sang suami hanya bisa mendapat penghasilan jika ada yang memakai tenaganya mem-perbaiki listrik. Penghasilan Eva tiap hari hanya cukup untuk makan satu hari. “Untung jualan saya cuma Rp 10 ribu. Sementara jika suami ada sampingan memperbaikan listrik tetangga dikumpulin untuk mem-bayar sewa rumah,” ucap Eva.
Eva dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. Apa pun dia sanggup kerjakan asal mendapat-kan upah untuk mencukupi segala kebutuhan hidup keluargannya. “Yang penting anak saya bisa makan dan sekolah. Hanya dia harapan saya satu-satunya. Kami sangat sayang Daniel. Dia anak yang baik dan nurut sama orangtua,” kata Eva dengan mata berbinar.
Tak putus asa mengarungi situasi hidup yang terus terjepit, Eva hanya bisa menyerahkan segala persoalan hidup keluarganya kepada Tuhan Yesus semata. Baginya, hadirnya seorang anak adalah anugerah Tuhan yang tak bisa diukur dengan nilai apa pun,” kata Eva yang rajin beribadah ini. ?Herbert Aritonang