Selamat Hari Natal Pak Dewan

LEBARAN berlalu sudah, sementara Natal menanti di depan mata. Semangat saling memaafkan dikumandang-kan dalam suasana Lebaran yang lalu, tapi tidak jelas apakah anggota dewan yang bertikai itu telah saling memaafkan secara utuh atau malah saling memanfa-atkan . Hari Lebaran dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa mere-ka cinta damai, tidak suka bertikai, tidak ambisius, dan bahwa semua yang mereka kerjakan adalah untuk rakyat Indonesia semata, sekalipun dalam kenyataan sebagai rakyat, kita tak kunjung merasa-kannya.

Mungkin, karena Lebaran hanya-lah ajang yang dimanfaatkan , bukan murni suara hati. Maklum, semakin hari manusia semakin canggih bermain sandiwara. Bahkan, Tuhan pun, diajak bersan-diwara-ria. Ayat suci, slogan suci sampai pakaian suci juga turut dijadikan komoditi, dimanfaatkan demi tujuan pribadi. Tentu hara-pannya sederhana saja: Supaya Anda tahu bahwa saya orang suci yang layak dipilih dan tidak perlu diamati apalagi dimaki.

Nah, kini Natal akan tiba. Natal adalah sebuah kisah nyata, bukan legenda, yaitu, Tuhan turun ke bu-mi menjadi sama seperti manusia. Peristiwa besar oleh Tuhan yang mahabesar untuk manusia yang mahakecil. Sebuah demonstrasi cinta kasih yang melintasi batas pikir dan batas rasa anak manusia. Sungguh berbeda dengan para anggota dewan yang bukan dewa. Mereka hanya manusia kecil dengan nafsu yang sangat besar, yang bertingkah pola bak raja dengan segala kuasa dan kepongahan-nya. Menghardik ke sana ke mari tanpa ada waktu memerik-sa diri sendiri. Mem-bentuk koalisi dengan sejuta ambi-si. Tampil penuh aksi, kehabisan rasa toleransi. Sayang-nya, lebih banyak yang begini ketim-bang yang asli, yang mumpuni, yang punya hati nurani dan semangat mengabdi, yang betul-betul wakil rakyat sejati.

Selamat hari Natal Pak Dewan. Itu pun kalau Anda mengerti makna Natal, lho. Mungkin, Anda berkata, Saya umat kristiani juga, yang tentu saja mengerti tentang hari Natal. Atau bahkan Anda pernah mengkhotbahkannya. Ah, maaf, saya hampir lupa kalau banyak di antara Anda anggota dewan yang bukan saja umat biasa melainkan para petinggi gereja. Ya, sekali lagi maaf, saya agak bingung karena hanya menyaksikan perti-kaian guna memperebutkan ke-kuasaan, dan nyaris semua terlibat termasuk para rohaniawan yang ada di dewan. Sementara yang bersuara benar, seingat saya, bukan petinggi gereja. Tetapi, entah di mana dia kini berada, sebagai juru damai yang memberi sejahtera. Tiadanya si juru damai yang selalu bersuara benar ini, maka yang terde-ngar adalah aksi gugat-menggugat dengan isu pengge-lapan keuangan dan bukan terang du-nia. Sampai-sampai saya agak malu dengan tetangga yang baru belajar mengenal kekristenan. Mereka bilang, Kok, tidak sama dengan iklannya, ya?

Ah, saya sempat semaput, karena ingat betul, betapa manis-nya bunyi iklan para politikus Kristen saat berkampanye untuk sampai ke Senayan (DPR pusat), legislatif tingkat provinsi maupun kabupa-ten/kota madya.

Sekalipun muncul dari berbagai partai, tetap saja terasa sangat sulit mencari saksi kebenaran dan kejujuran yang sejati. Padahal saya diminta berdoa siang dan malam agar muncul Daniel Daniel baru. Kenapa ya? Kok tidak muncul Daniel yang cerdas, berwawasan luas dan iman yang tegas. Yang ada justru Daniel yang membi-ngungkan, berwawasan sempit, mengikut arus, cari aman, menjadi ekor, bukan kepala.

Sungguh layak dipertanyakan. Tetapi waktu dipertanyakan mereka malah menjawab, Emangnya dikira gampang jadi anggota dewan? Saya tentu saja tambah bingung. Lha, kalau susah, ya, kok mau. Malah, pakai biaya tinggi dan berebut lagi.

Ah, sudahlah, rasanya gigi menjadi kering dan hati penat membicarakannya, apalagi me-nyaksikannya. Harapan yang tersisa adalah momentum Natal ini. Semoga saja mereka masih ingat apa yang mereka mengerti terutama yang pernah mereka khotbahkan tentang Natal. Selamat hari Natal, Pak Dewan. Semoga Anda mengingat bukan bagaimana menjadi dewa, melain-kan bagaimana menjadi pelayan. Bukan bagaimana berbicara dan membela diri tetapi bertindak dan menjadi saksi. Kalau memang tidak mampu, tidak apa-apa, asal Anda dengan rela dan jujur mengaku, bukan menyanyi apalagi berkhot-bah, Ini salibku.

Pengakuan jujur itu juga repu-tasi, lho. Harapan kami akan peru-bahan itu besar - sebesar ambisi Anda yang seringkali tidak ingin berubah.

Selamat Natal, dan maaf kalau saya harus berkata jujur.

Mata Hati Index