Konflik yang terjadi di Lampung kebanyakan bukan karena agama. Demikian kata Pendeta Kristanto Budi Prabowo, asisten direktur Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (GKSBS) kepada Radio Nederland Wereldomroep.
Pendeta Kristanto selanjutnya mengatakan, GKSBS bercikal bakal dari Gereja Kristen Jawa (GKJ). Karena, tambahnya, yang membawa gereja ini adalah orang-orang Jawa yang pindah ke Sumatera.
Meski mayoritas jemaatnya berasal dari Jawa, namun ada juga yang dari Bali dan Sumatra Utara. Warga lokal Lampung belum banyak yang bergambung dengan gereja ini. Namun di Bengkulu, ada orang asli sana yang bergabung di gereja ini.
Kristanto: "Kalau orang Lampung asli itu mungkin baru beberapa saja, karena pernikahan." Namun mereka, tambah Kristanto, tidak begitu menonjol.
Pendeta Kristanto aktif dalam dialog antar iman bersama Interfidei, pimpinan Elga Serapung. Kegiatan mereka juga meliputi pemberdayaan kapasitas pendeta, tandas pendeta yang mengaku murid Sumartana, pendiri Interfidei tadi.
Forum Kerja Lintas Agama
Di Lampung sudah banyak pertemuan informal antara umat beragama. Dan belakangan juga sudah ada forum dialog resmi, kata pendeta yang berdomisili di Metro ini.
Kristanto: "Di bawah program identitas dan pluralitas GKSBS kami membentuk Forum Kerja Lintas Agama (FKLA) yang hampir di semua kabupaten di Lampung ini telah dibentuk simpul-simpulnya."
Kepengurusan forum terdiri dari tingkat provinsi sampai ke kecamatan. Anggota forum ini bukan hanya Islam dan Kristen saja, tapi juga ada yang dari Hindu. Mereka mendirikan forum ini tentu saja mempunyai motivasi.
Kristanto: "Motivasi awal sebenarnya untuk meningkatkan kapasitas para pemimpin umat. Jadi, baik pendeta, majelis jemaat di kalangan gereja, tetapi juga kiai-kiai di kalangan muslim atau para pemimpin umat di kalangan Hindu, Budha dan masyarakat di sini untuk mewacanakan tentang pluralitas."
Bukan karena konflik
Kristanto menambahkan, pembentukan forum antar umat ini bukan didorong karena adanya konflik. Ini berbeda dengan tempat-tempat lain, di mana pembentukan forum dialog didorong oleh konflik yang terjadi.
Namun ini tidak berarti bahwa di Lampung tidak ada konflik, tambah pendeta yang pernah studi Belanda ini. Konflik terjadi di kawasan Sumatra paling selatan ini adalah karena masalah etnis.
Kristanto: "Makanya di forum ini didiskusikan hal-hal yang sifatnya menjadi akar dari persoalan-persoalan munculnya konflik."
Sebagai contoh Kristanto menyebut persengketaan tanah.
Banyak konflik terjadi memang bukan karena agama. Penyebabnya biasanya soal ekonomi dan sosial, tapi agama sering dibawa-bawa. "Di sini agama jarang dibawa ketika konflik terjadi, "tandasnya.
Kristanto menandaskan pula, konflik lahan bukan pula pendorong dialog di sana. Tapi ia mengaku bahwa kasus tanah memang penyebab persenketaan paling menonjol di Lampung.
Kristanto: "Pertama yang paling banyak memang kasus tanah antara para pendatang dan penduduk asli. Lalu yang kedua antara perusahaan-perusahaan dan penduduk di sekelilingnya. Lalu juga perusahaan-perusahaan dengan penduduk yang tidak punya lagi lahan, yang pengen lahan milik perusahaan-perusahaan itu."
Karena perusahaan makin banyak punya lahan, maka jumlah penduduk yang tidak punya lahan meningkat. Dan ini berdampak bagi kependudukan di provinsi Lampung.
Kristanto: "Kalau dulu Lampung adalah provinisi penampung transmigrasi terbesar, sekarang sudah menjadi provinsi yang harus mengirim orang keluar."
sumber:Ranesi