Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

News

Bernhard Berkomplot Ingin Gulingkan Soekarno

Posted : 02 Desember 2009
Bernhard Berkomplot Ingin Gulingkan Soekarno.jpg

Almarhum Pangeran Bernhard, suami Ratu Belanda Juliana, terlibat penyelundupan senjata dan membantu rencana kudeta yang diprakarsai Kapten Raymond Westerling di Bandung tahun 1950. Kalau kudeta ini berhasil Bernhard jadi Raja Muda di Hindia Belanda.

Komplot tingkat tinggi terhadap Presiden Soekarno itu, tidak rela melihat Belanda kehilangan jajahan Indonesia. Demikian simpul sejarawan Harry Veenendaal dan wartawan Jort Kelder berdasarkan penyelidikan selama delapann tahun terhadap sejumlah laporan Marsose dan kesaksian sekretaris pribadi istana, Gerrie van Maasdijk. Buku berjudul ZKH singkatan Zijne Koninkelijke Hoogheid, artinya Paduka Yang Mulia Pangeran, diluncurkan di Hotel des Indes, Senin malam, 30 November 2009.

Sarat puja puji
Raymond Westerling, kapten pasukan elit Belanda, di Indonesia tahun 1940an itu, memang tokoh legendaris. Di Hilversum, di pelbagai sekolah dasar dan sekolah menengah, anak-anak didik, setiap pagi menyanyikan lagu-lagu yang sarat puja puji bagi komandan KST, Korps Speciale Troepen, ini. Westerling tahu, Pangeran Bernhard pun tahu benar, bahwa di Belanda, sebagian besar masyarakat tidak ingin Kerajaan Belanda kehilangan jajahan terbesarnya di Asia.

Tapi baru sekarang, 60 tahun kemudian, kita tahu, bahwa keduanya, Westerling dan Pangeran Bernhard, ternyata bekerjasama secara mendalam dan terlibat penyelundupan senjata, antara lain bagi pemberontak Daroel Islam di Jawa Barat, dan rencana kudeta menjatuhkan Presiden Soekarno pada tahun 1950.

Ada delapan Laporan Marsose (semacam polisi) dan sejumlah buku harian Sekretaris Pribadi Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard, Gerrie van Maasdijk. Semua itu menunjuk pada hubungan baik dan intensif antara Bernhard dan Westerling, demikian sejarawan Harry Veenendaal.

Jadi, meski pun tak ada smoking gun, atau perintah tertulis dari Bernhard, namun kerjasama Pangeran Belanda dan Westerling itu tak bisa dibantah lagi. Salah satu dokumen menyebutkan ada "upaya mati-matian Paduka Pangeran untuk, bersama Westerling dan kawan-kawan, membalikkan situasi di Indonesia".

Khawatir terlibat
Buku harian Gerrie van Maasdijk, demikian Harry Veenendaal, dengan jelas memerinci hubungan antara Bernhard dan Westerling. Dalam laporan-laporan Marsose, tapi juga dikonfirmasi lagi oleh banyak kesaksian dan korespondensi. Misalnya ada Jenderal yang waktu itu bertugas di Batavia membenarkan semua itu. Bahkan jenderal yang berteman dengan Sultan dari Pontianak (Sultan Hamid, red.) ini khawatir sekali terhadap keterlibatan Pangeran Bernhard. Selain itu, tiga staf yang setiap hari mendampingi Bernhard juga menegaskan adanya hubungan kuat antara Bernhard dan Westerling.

Laporan-laporan Marsose itu sebenarnya bukan dalam rangka pro-iustitia, jadi, tidak mempunyai kekuatan hukum. Laporan-laporan itu disusun justru dalam rangka memperingatkan bahaya permainan bisnis senjata ilegal dan politik tingkat tinggi dengan Westerling. Maksudnya, laporan itu akan ditunjukkan kepada Bernhard dengan permintaan agar sang pangeran segera menghentikan peranannya.

Saat itu, tahun 1949, Kerajaan Belgia dilanda krisis, dan Rajanya harus turun. Jadi, di Belanda orang pun sadar akan risiko petualangan politik Pangeran Bernhard bagi Dinasti Oranje. Apalagi, saat itu, dilangsungkan persiapan bagi sebuah kejadian politik terpenting, itulah souvereniteitsoverdracht, atau penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia.

Main politik bagus
Bayangkan saja, demikian sejarawan Veenendaal, semua itu tentu saja jatuh pada PM Willem Drees. Terjadi panik, panik! Akhirnya, Drees berhasil menyelamatkan kerajaan Belanda. Dia memainkan politiknya dengan bagus sekali dan kemudian berhasil mengatasi masalah bersama dengan Sekretaris Jendral Cees Fock. Drees berembug dengan Pangeran Bernhard dan mengkonfrontasi Bernhard dengan laporan-laporan (Marsose) tadi, lalu meminta agar Bernhard "mengendalikan diri" ("zich inhouden"). Demikian Harry Veenendaal.

Padahal, andaikata kudeta itu jadi dan berhasil, Pangeran Bernhard akan dijadikan Onderkoning, yaitu Raja Muda yang mewakili Ratu Juliana di Hindia-Belanda. Betapa bahaya main api Bernhard-Westerling itu disadari oleh Bernhard sendiri. Maka Bernhard tidak hanya mengirim orang kepercayaannya, yaitu professor Jan Willem Duyff, untuk bertemu presiden Amerika Serikat Dwight Eisenhower, tapi juga meminta agar Amerika memberi bantuan dari pangkalan Surabaya, jika terjadi perang saudara di Indonesia.

Surat-surat Bernhard itu pada intinya meminta Panglima pasukan Amerika di Pasifik Jenderal Douglas MacArthur agar bekerjasama. Demikian Harry Veenendaal. Itu logis. Kalau kudeta Westerling berhasil, ada kemungkinan pecah perang saudara. Nah, Anda punya pasukan. Jadi, datanglah, bantulah kami. Begitu sejarawan muda Belanda ini.

Dampak politik?
Kini, enam dasawarsa kemudian, buku ZKH dan kisah cemar Pangeran yang mau mendongkel Presiden Soekarno itu, tak akan membawa dampak politik apapun, bagi hubungan baik antara Belanda dan Indonesia. Bagi publik Belanda, petualangan sang pangeran itu bukan hal baru. Paling-paling, kisah itu hanya menambah warna kelam pada citra pangeran itu.

 sumber:Ranesi

64
5 votes
1 2 3 4 5

Lainnya

Arsip :20112010200920082007
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 7.3766 sec | TOP
Online Support :