Dulu tanah-tanah ladang di sekeliling desa Afghanistan, Pucha Kala, yang artinya Lima Rumah, penuh dengan tanaman opium. Sejauh mata memandang, orang hanya melihat tanaman tersebut.
Tapi itu cerita dulu, dan sekarang situasi berubah total. Gubernur Propinsi Nangahar, di mana desa itu terletak, berhasil memberantas penanaman opium dan mengubahnya menjadi pertanian lain yang menguntungkan.
Ladang opium
Orang menamakannya revolusioner. Sampai saat ini tidak ada satu pun cara yang bisa menghentikan perdagangan opium yang sangat menguntungkan itu. Dua peneliti Belanda, Tom Kramer dan Martin Jelsma, mengikuti kebijakan narkoba Afghanistan dengan seksama, atas permintaan Institut Transnasional di Amsterdam. Mereka mengenal wilayah Afghanistan itu dengan baik, dan tidak begitu yakin bahwa metoda revolusioner sang gubernur, akan berhasil.
Tom Kramer: "Saya pernah berkunjung ke sini dua tahun lalu. Ketika itu tanah-tanah ladang ini penuh dengan tanaman opium. Sekarang semuanya hilang. Beberapa tahun terakhir sang gubernur meminta penduduknya untuk tidak menanam opium lagi. Setelah berunding dengan para kepala desa, ia menawarkan bantuan sebagai gantinya, dalam bentuk uang, dan dalam bentuk program bantuan. Apakah ini kisah sukses, masih dipertanyakan. Yang penting adalah jalan keluar untuk jangka panjang. Hari ini kami akan berbicara dengan petani di desa ini mengenai persoalan mereka dan tentang masa depan. Ayo kita ke atas ..."
Industri parfum
Dauwa Jan adalah salah satu petani yang punya lahan pertanian di salah satu bukit yang mengelilingi desa Afghanistan tersebut. Pria yang energik dan baru berusia 30 tahunan ini mulai menanam opium ketika masih muda.
Sekarang ia menanam bunga mawar. Dari kelopak bunga tersebut dibuat minyak untuk industri parfum di Barat. Walaupun beberapa tetes minyak mawar bisa dijual dengan harga tinggi, penghasilan dari ladang opium jauh lebih baik.
Dauwa Jan: "Ya, ya ... opium menghasilkan uang lebih besar."
Selain itu ia tidak pernah menerima uang kompensasi yang dijanjikan. Sang gubernur memang membagi-bagikan jutaan dolar Amerika, tapi para pegawai negeri yang korup di desa Pucha Kala lebih senang mengumpulkannya untuk kantong sendiri.
Kedua peneliti Belanda ini cemas Dauwa Jan akan kembali menanam opium, kalau perlu secara diam-diam. Tapi petani Afghan ini menggelengkan kepalanya dengan takut.
Dauwa Jan: "Kami tidak melakukan itu. Aturannya sangat ketat. Pemerintah telah memperingatkan akan membakar rumah saya dan saya bisa didenda hingga 20.000 dolar."
Tambah makmur
Kelihatannya petani ini menjadi korban kebijakan anti-opium, tetapi desa tempat tinggalnya tidak kelihatan miskin. Banyak binatang peliharaan berkeliaran dan anak-anak juga berlarian dengan bebas.
Pakar Belanda Martin Jelsma menjelaskan:
Martin Jelsma: "Ini sebuah contoh desa di mana para petani tidak menerima kompensasi yang dijanjikan. Sementara sang gubernur menjanjikan uang tiga ratus dolar apabila mereka berhenti menanam opium. Penghasilan mereka memang berkurang drastis, tetapi desa ini jelas memperoleh keuntungan dari proyek-proyek kemasyarakatan yang dijalankan, misalnya listrik dan pompa air. Taraf kehidupan mereka memang jelas membaik, tetapi tidak otomatis memberikan penghasilan yang lebih besar untuk keluarga petani. Ini contoh suatu desa yang berhasil. Terutama karena desa ini terletak di wilayah subur dan ada cukup air. Sementara desa-desa lain jauh menderita."
Di Uruzgan tempat pasukan Belanda ditugaskan, perkebunan opium masih terus dilakukan, demikian Tom Kramer. Di sini, lahan-lahan pertanian opium tidak dibakar habis, dan ini suatu perkembangan positif. Tetapi proyek rencana tumbuhan lain belum juga dilaksanakan. Para pakar Institut Transnasional ini menyimpulkan, Belanda akan meninggalkan Uruzgan yang penuh dengan perkebunan opium.
sumber:Ranesi






