SEJAK dirilis mulai pertengahan November silam di bioskop-bioskop seluruh dunia, “2012”, film tentang tibanya hari kiamat karya sutradara Roland Emmerich ini telah menyedot jutaan penonton. Bahkan dalam waktu hanya sepekan, modal pembuatan film senilai US$ 200 juta ini telah impas.
Di Indonesia, film ini justru men-dapat kecaman dari sejumlah pihak. Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat melarang film itu. Ten-tang alasan pelarangan ini, Ketua MUI Kabupaten Malang KH Mahmud Zubaidi, Senin (16/11), mengemu-kakan bahwa kapan terjadinya hari kiamat, itu merupakan kuasa dari Sang Pencipta. Menurutnya, jika ada orang yang menentukan tanggal-bulan-tahun terjadinya kiamat, itu bisa menyesatkan. Lain lagi aksi MUI Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang melakukan razia film “2012” di sejumlah warung internet (warnet). Pasalnya, film itu dinilai memengaruhi keberima-nan umat serta meresahkan masya-rakat setempat. Namun, kecaman serta larangan itu kelihatannya tidak efektif, sebab animo masya-rakat justru makin besar untuk menyaksikan film tersebut.
Sekilas film
Film tersebut diangkat dari penemuan arkeolog terkait pe-ninggalan sistem kalender suku Maya kuno di selatan Meksiko (sekarang Guatemala). Berdasar-kan penemuan itu, suku Maya memiliki sistem kalender berdasar-kan perbintangan yang berakhir pada 21 Desember 2012. Arti-nya, kehidupan di dunia akan berakhir pada tanggal dan tahun itu. Peristiwa kiamat berda-sarkan sistem kalender suku Maya itulah yang diangkat dalam film yang dibintangi oleh John Cussack dan Amanda Peet itu.
Dalam “2012”, dikisahkan ten-tang peneliti muda Amerika bernama Dr Adrian Helmsley, bersama seorang sahabatnya ahli geologi, menemukan bahwa pada 2009 inti Bumi mulai mencair dan hal itu diperkirakan akan memicu bencana alam mahadahsyat yang berpuncak pada 2012. Lalu Adrian pun memberitahukan fenomena alam itu kepada pemerintah.
Mendengar informasi ini, pemerintah Amerika secara diam-diam menggalang dana dari orang-orang kaya di dunia untuk membiayai pembuatan kapal rak-sasa untuk menyelamatkan per-adaban manusia dari kehancuran. Pihak pemerintah sangat menjaga kerahasiaan penemuan ini demi menghindari terjadinya keresahan luar biasa yang bisa melanda masyarakat di seluruh dunia.
Tentang pembuatan kapal ini, sang sutradara, Ronald Emmerich bisa jadi terinspirasi dengan kisah Nabi Nuh dalam Alkitab, yang dipe-rintahkan Tuhan membuat kapal besar di bukit. Tanpa mengerti sepenuhnya maksud dan rencana Tuhan, Nabi Nuh yang taat kepada Allah itu mulai membuat kapal besar, diiringi cemoohan orang-orang. Setelah kapal selesai, Nabi Nuh atas perintah Allah, memasukkan anak-anaknya, dan segala jenis hewan dan tumbuhan dan perbekalan ke dalam kapal itu, lalu ditutup rapat. Hujan deras pun turun membuat seluruh permukaan bumi bahkan gunung-gunung tenggelam. Sementara kapal atau bahtera Nabi Nuh terapung-apung di lautan yang luasnya tanpa batas itu selama beberapa hari atau minggu, hingga akhirnya terdampar di kawasan pegunungan Ararat. Era manusia baru pun dimulai lagi.
Presiden tolak dievakuasi
Dalam film “2012” ini digam-barkan pula dengan jelas bagai-mana kontrasnya perilaku orang-orang dalam menyikapi hari kiamat yang sedang menjelang itu. Ada yang cemas dan mulai mendekatkan diri pada Yang Kuasa dengan beribadah. Namun tidak sedikit yang tidak peduli dengan tetap larut dalam kehidupan yang penuh hura-hura dan glamour.
Namun, apa pun pendapat orang-orang, di berbagai bela-han Amerika berbagai fenomena alam yang luar biasa telah mulai terjadi: tanah-tanah mulai retak, bahkan banyak bangunan penca-kar langit beserta isinya yang jeblos ditelan tanah yang terbelah itu. Gempa bumi dan tsunami marak di mana-mana, bangunan hancur, meteor-meteor berapi pun meng-hunjam bumi, dan orang-orang panik. Dengan dramatis terpapar dalam film bagaimana situs-situs sakral di Amerika seperti Patung Liberty, Gedung Putih, Empire State Building. Bahkan Patung Yesus Sang Penebus di Rio Jenairo (Brasil), dan Basilika Santo Petrus di Vatikan pun tumbang.
Mengenai kapal selam raksasa yang sudah selesai dibuat, ternyata kapal itu diperuntukkan bagi orang-orang dari kalangan elite, termasuk untuk menyelamatkan Presiden Amerika Serikat. Memang ada kebi-jakan pemerintah Amerika untuk menyertakan orang-orang dari berbagai ras dan etnis untuk ikut diungsikan ke dalam kapal itu. Dalam hal ini Amerika tampaknya ingin memperlihatkan nilai-nilai keberagaman yang mereka anut dan junjung tinggi itu.
Ketika kondisi bumi sudah sema-kin parah dan kerusakan meluas, orang-orang berebut memasuki “bahtera Nabi Nuh” itu. Sementara, Presiden Amerika justru tidak bersedia dievakuasi ke dalam kapal tersebut. Dia memilih untuk tetap berada di tengah-tengah rakyatnya menyongsong kehancuran Bumi di hari kiamat itu.
Saat memasuki kapal selam ter-jadi banyak masalah yang menye-babkan ketegangan. Akhirnya ber-kat keberanian beberapa orang masalah yang mengganjal kelan-caran operasional kapal berhasil diatasi. Kapal yang mengangkut puluhan ribu orang itu pun berla-yar, hingga tiba saatnya alam sudah tenang. Tidak ada lagi gem-pa dan semburan-semburan api. Langit sudah cerah, matahari sudah bersinar kembali. Orang-orang yang di kapal keluar dengan senyum gembira, siap menyambut kehidupan baru di dunia yang baru. HPT/dbs