Benarkah suku Maya mengartikan berakhirnya penanggalan sebagai kiamat?
KEYAKINAN bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012, berdasar pada kalender yang dibuat oleh suku Maya, yang ditemukan di reruntuhan di Mexico. Kebudayaan kuno ini dikenal atas kemampuan-nya dalam ilmu matematika dan astronomi. Masyarakat Maya Kuno, yang dikenal maju ilmu matematika dan astronominya, mengikuti “perhitungan panjang” kalender yang mencapai 5.126 tahun. Ke-tika peta astronomi mereka dipin-dahkan ke kalender Gregorian, yang digunakan secara standar sekarang, waktu perhitungan bangsa Maya berhenti pada 21 Desember 2012.
Pada saat itu, demikian keyakinan sementara orang, matahari akan terhubung lurus dengan pusat Tata Surya pertama kalinya semen-jak 26.000 tahun yang lalu, yang menandai puncak musim dingin. Hal ini akan mempengaruhi aliran energi ke bumi, atau karena adanya sunspot dan sunflare yang jumlahnya membengkak, menyebabkan ada-nya efek terhadap medan magnet bumi.
Kalender biasa
Penggambaran dramatis mena-kutkan tentang pergantian kalen-der Maya itu dibantah Stephen Houston. Profesor Antropologi di Brown University ini menegaskan bahwa bangsa Maya tidak pernah menggambarkan pergantian masa kalender mereka secara destruktif begitu. “Penggambaran bangsa Maya tidak pernah menyebut-nyebut hal itu,” kata ahli tulisan hieroglif Maya itu.
Menurut dia, bangsa Maya hanya melihat bahwa tanggal tersebut adalah tanggal kalender mereka, dan kemudian akan mengulang kalender mereka kembali tanpa adanya bencana sama sekali. “Hal ini cuma ungkapan kegelisahan manusia di jaman kita. Menemukan preseden kuno mengenai hal itu, mereka langsung menghubung-hubungkannya,” katanya sembari menambahkan bahwa orang cenderung percaya dengan kebi-jaksanaan kuno yang meramalkan kejadian di masa ini.
Gagasan Barat
Tetua Indian Maya Apolinario Chile Pixtun juga menepis gam-baran destruktif tentang 2012 itu sebagai berasal dari suku bang-sanya. Ia mengaku muak dengan pertanyaan-pertanyaan orang padanya tentang hal itu.
Chile Pixtun, warga Guetemala mengatakan bahwa teori-teori tentang hari kiamat itu merupakan gagasan Barat, bukan suku bangsa Maya. Baik arkeolog, astronom maupun keturunan suku Maya sama-sama yakin bahwa satu-satu-nya yang mungkin akan meng-hantam Bumi adalah hujan filsafat New Age dan kabar angin soal kiamat di internet.
Betapapun demi-kian, banyak orang masih mempercayai “ramalan” Maya itu. Apalagi, rumor beredar bahwa ramalan itu punya dasar arkeo-logis. Salah satunya adalah Monumen Enam yang ditemukan di Meksiko Selatan saat pembangunan jalan raya tahun 1960-an. Lapisan batu di monu-men itu nyaris mus-nah. Sebagian besar situs itu tertutup aspal dan bagian-bagian dari batu itu telah dijarah. Uniknya, ada bagian batu masih tersisa, yang mengandung padanan angka 2012.
Pesan yang tertang-kap pada lembar batu itu menyebutkan akan terjadi sesuatu pada tahun 2012. Perkiraan itu melibatkan Bolon Yokte, salah satu dewa Maya yang misterius yang dihubungkan de-ngan perang dan penciptaan. Ahli arkeologi Guillermo Bernal dari Universitas Otonomi Nasional Meksiko mengar-tikan bagian akhir tulisan yang su-dah terkikis itu mungkin menyebut-kan, “Dia akan turun dari langit”.
Kalender hitungan panjang milik Maya dimulai tahun 3114 SM. Kalender ini menandai siklus 394 tahunan sebagai Baktun. Angka 13 adalah angka penting dan sakral bagi Indian Maya. Suku ini memercayai Baktun ke-13 berakhir sekitar 21 Desember 2012. Tapi, sekali lagi, para ahli menolak bila hal itu dihubungkan dengan kiamat. “Itu merupakan ulang tahun khu-sus soal penciptaan,” kata David Stuart, seorang spesialis epigrafi Maya dari Universitas Texas di Austin, AS. “Orang Maya tidak pernah mengatakan dunia akan berakhir, tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Mereka hanya mencatat peringatan masa depan di Monumen Enam.”
Arkeolog Guillermo Bernal dari Universitas Otonomi Nasional Meksiko menegaskan bahwa kia-mat merupakan sebuah konsep yang sangat Barat, Kristen yang diproyeksikan kepada orang Maya. ?P. Maku Goru/dbs.