Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Laporan Utama

Ramalan Kiamat dari Mimbar

Posted : 01 Desember 2009
120Laput4.jpg

Ramalan Kiamat pada 2012 bukan yang pertama. Dari gereja telah muncul banyak ramalan  tentang akhir jaman yang tak kunjung terealisir.

RAMALAN tentang akhir  jaman bukan cerita baru  dalam gereja. Seperti dicatat Ir. Herlianto M.Th., dari Yabina, nubuatan tentang akhir jaman itu lumrah dalam perjalanan kekristenan. Seabad lalu, kelom-pok Adventisme meramalkan bahwa kiamat akan datang pada 1843 (lalu direvisi menjadi Oktober 1844).
Tahun 1994 dinobatkan oleh Saksi-Saksi Yehuva sebagai hari kiamat.  Karena ternyata dunia tak kiamat juga pada saat itu, mereka pun terus berubah-ubah menentukan hari datangnya kiamat, mulai dari tahun 1915, lalu 1918 dan 1975. Karena terus-menerus gagal, mereka akhirnya menetapkan tahun 1914 sebagai hari kiamat, tapi dalam pengertian yang baru. Menurut mereka, kiamat sebenarnya terjadi setelah 1.000 tahun berakhir. “Ada pergeseran konsep dari ‘akhir jaman’ ke ‘jaman akhir’,”  tulis Herlianto.
Gema ramalan itu kemudian dite-ruskan oleh kalangan tertentu di Indonesia. Setidaknya tahun 1988 diramalkan oleh Reff Jeff Hamond (Peta Zaman) sebagai hari keda-tangan Tuhan Yesus (40 tahun taf-siran satu angkatan sesudah Israel merdeka dalam Matius 24: 32-34). Dalam bukunya, Hamond meng-atakan bahwa sekalipun Tuhan melarang orang mengetahui masa dan ketika, anak-anak terang yang dikaruniai Roh dan Kuasa tahu me-ngenai waktunya (Kisah Para Rasul 1: 6-8 dan I Tesalonika 5: 4-5).


Tahun 1992, fenomena serupa marak lagi karena dipopulerkan oleh Jonggi Cho dari Korea Selatan melalui bukunya “Pengangkatan” (Peniup Sangkakala). Cerita di sini dianut “satu angkatan” sama dengan 50 tahun yang jatuh pada tahun 1998 dan dikurangi minggu terakhir (nubuat Daniel 9: 24-27), maka jatuhlah hari itu pada tanggal 28 Oktober 1992. Di Indonesia, tahun itu banyak Seminar Akhir Jaman digelar dan semuanya kemudian dilupa-kan, menunggu nubuatan baru.
Tahun 1998 (satu angka-tan 50 tahun) kembali dibi-carakan dengan diadakan-nya Seminar Akhir Jaman di Senayan, Jakarta (Maret 1998), dengan pembicara antara lain Jeff Hamond yang saat itu mengeluarkan nubuatan baru lagi. Tahun ini juga ramai dinubuatkan oleh Samuel Doctorian yang mengaku bahwa pada tahun itu, di Pulau Patmos ia menerima penglihatan dari empat malaikat tentang kehancuran dunia melalui berbagai bencana, tapi umat Tuhan akan diselamatkan. Tahun itu ternyata berlalu begitu saja.
Tahun 2000 cukup ramai diisi dengan sensasi Nubuatan Akhir Jaman karena tahun itu berte-patan dengan ramalan kekacauan komputer dengan bala “The Year 2K-nya”. Morris Cerullo sendiri tak mau membuat rencana pelayanan pada tahun itu untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kali.


Ronald Weinland, melalui buku-nya “2008: God’s Final Witness” di tahun 2006 menyatakan bahwa akhir jaman akan terjadi di tahun 2008. Menurut dia, akhir jaman akan segera tiba, tinggal dua tahun lagi. Ia menyatakan, ratusan juta orang  akan meninggal  dan di akhir tahun 2006, “paling lama 2 tahun tersisa sebelum dunia mengalami waktu terburuk sepanjang seja-rah manusia. Pada musim gugur 2008, Amerika akan tumbang sebagai negara adikuasa, dan tak akan menjadi negara merdeka lagi,” dan buku itu juga mencatat, “Ronald Wein-land mempertaruhkan reputasinya sebagai nabi akhir jaman Tuhan.”
Bila peramal akhir jaman lainnya tak dijebloskan dalam penjara, lain halnya dengan Pdt. Mangapin Sibuea. Ramalannya bahwa kiamat akan singgah di Baleendah, Bandung pada pukul 09.00-15.00 tanggal 10 November 2003, ternyata tak terbukti. Hari itu juga, dia dan para pengikutnya bukan-nya diangkat ke sorga seperti diramalkannya, tapi dievakuasi dari rumah penantian mereka. Semen-tara para pengikutnya dievakuasi dan kemudian dibina, pendeta Gereha Rhema Pentakosta Filedelfia ini malah dijebloskan dalam penjara.

Manipulasi Ketakutan
Menurut Pdt. Guruh Jatmiko Septavianus STh., ramalan ten-tang akhir zaman itu lebih banyak merupakan manipulasi atas data-data yang ada dalam Kitab Suci. “Itu penafsiran yang keliru dan cenderung hanya untuk polularitas murahan,” kata Pendeta GKI Kwitang ini. Apalagi, lanjut dia, Tuhan Yesus sendiri telah menya-takan bahwa waktunya tak seorang pun yang tahu. Hari keda-tangan Tuhan, lanjut alumnus Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta ini, nis-caya akan datang. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyambut kedatangan-Nya setiap hari dalam hidup kita. “Yang perlu kita perhitungkan adalah menghayati kedatangan-Nya setiap hari dalam kehidupan kita, bukan memusingkan kapan Dia datang di akhir jaman,” tukasnya sembari menambahkan bahwa mengajak orang bertobat dengan cara menebarkan ketakutan akan kiamat merupakan suatu langkah pastoral yang salah. “Orang harus bertobat karena disentuh oleh Yesus dan kerinduannya pada persekutuan dengan Yesus, bukan karena ancaman dan ketakutan,” tandasnya.  Stevie Agas/dbs.
 

65
26 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201220112010200920082007
Online Support :