Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kredo

Berbagai Tanggapan Atas Keberadaan Tuhan

Posted : 01 Desember 2009
Berbagai Tanggapan Atas Keberadaan Tuhan.gif

Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*
(www.poltakypsibarani.com)

ISU atau pembicaraan atas keberadaan Tuhan masih menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Menurut hemat saya, seluruh umat manusia yang ada di dunia dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar jika dihubung-kan dengan tanggapan mereka atas keberadaan Tuhan. Kelompok pertama adalah mereka yang tidak percaya sama sekali akan kebera-daan Tuhan. Kelompok ini tidak percaya atas adanya Tuhan, baik sebagai Pencipta maupun sebagai Pengatur atas alam. Jumlah kelompok ini memang tidak terlalu banyak. Meskipun demikian, ke-lompok ini tidak boleh diremehkan karena mereka memiliki pengaruh dan kegiatan untuk mempertahan-kan pandangannya. Mereka lebih sering dijuluki sebagai atheis. Mereka pada umumnya terdiri dari orang-orang yang hanya mene-kankan logika atau rasionalitas dalam menjalani dan mengamati berbagai peristiwa. 


Salah satu alasan mereka untuk menolak keberadaan Tuhan adalah karena mereka merasa tidak pernah melihat Dia. Di samping itu, mereka merasa dapat melakukan segala sesuatu tanpa melibatkan Tuhan. Mereka merasa tidak memerlukan Tuhan karena mereka cukup mampu memenuhi kebutu-han hidup mereka; mampu me-nyelesaikan sendiri permasalahan. Mereka berkata bahwa mereka dapat meracik obat ketika sakit, mereka dapat menciptakan mesin untuk mempermudah aktivitas, mereka dapat menambah hasil pertanian dan peternakan baik melalui pestisida, rekayasa gene-tika, maupun cloning. Mereka dapat memilih sendiri pasangan hidup, dan lain sebagainya. Mereka juga merasa dapat mempelajari hal-hal yang tadinya dianggap dirahasiakan oleh seseorang dalam hatinya dengan menggunakan teori-teori analisis psikologis atau berbagai alat atau teknologi untuk mendeteksi perasaan.


Secara umum, kelompok atheis ini muncul ketika manusia hanya mempersoalkan kebutuhan materi atau ketika terfokus pada hal-hal yang bersifat jasmaniah saja. Mereka memiliki pemahaman bahwa hidup manusia adalah sementara; ia datang tanpa asal, lalu mati dan tiada lagi. Mereka hanya menghargai kehidupan sebatas manusia masih bernafas, setelah itu dianggap tidak pernah ada. Mereka hanya percaya dan menggunakan satu hukum saja yakni hukum alam, dengan demikian mereka tidak percaya atas berbagai peristiwa ajaib atau mukjizat. Bagi mereka segala sesuatu dapat terjadi karena memang perlu terjadi atau harus terjadi. Setiap kejadian selalu mereka pahami sebagai tindakan kesengajaan atau karena faktor sebab akibat. Di luar itu mereka sebut sebagai suatu kebetulan. Kelompok ini menekankan bahwa manusia makhluk yang tertinggi. Manusia adalah pengatur, bukan yang diatur. Meskipun mereka tidak menyebut manusia sebagai Tuhan, yang jelas mereka tidak percaya ada Tuhan, karena memang mereka tidak menganggap mem-butuhkan-Nya. Mereka suka meng-ejek atau menertawai orang-orang yang menekankan nilai-nilai keagamaan. Mereka tidak percaya akan adanya hal-hal yang bersifat keakanan, seperti kiamat atau akhir zaman atau pengadilan terakhir.    


Kelompok kedua adalah yang setengah percaya atau kadang-kadang percaya (ragu-ragu) atas keberadaan Tuhan. Meskipun kelompok ini bersifat terselubung atau tidak melembaga, namun harus diakui bahwa jumlahnya lebih banyak dan pengaruhnya lebih besar dari kelompok pertama. Kelompok ini adalah kumpulan dari orang-orang yang ada kalanya percaya ada Tuhan, ada kalanya tidak percaya. Kelompok ini dapat muncul di mana-mana dan tanpa disadari sangat mampu mempenga-ruhi yang lain untuk juga meragukan keberadaan Tuhan. Kelompok ini, misalnya, di satu sisi, merasa tidak dapat menyangkal keberadaan Tuhan karena mereka melihat alam semesta yang sangat indah, tersusun rapi, yang di dalamnya terdapat kehidupan, sehingga tidak mungkin dunia ini ada begitu saja tanpa ada yang menciptakannya, yakni Tuhan. Namun, di sisi lain, di dunia ini pula mereka melihat adanya berbagai penyimpangan, seakan-akan tidak lagi ada yang mengaturnya.
Keraguan kelompok ini atas keberadaan Tuhan dapat dipicu oleh beberapa hal, yaitu: Pertama, ketika mereka melihat adanya nilai-nilai kebaikan, namun aksi kejaha-tan juga muncul begitu kejamnya. Mereka juga melihat bahwa kebai-kan lebih sering kalah terhadap kejahatan. Kejahatan mereka anggap lebih berpengaruh daripada kebaikan.  Kedua, mereka melihat beberapa orang dapat mengalami mukjizat ketika berdoa kepada Tuhan, namun banyak juga yang tidak mengalaminya. Ketiga, mereka melihat adanya pihak-pihak yang menghujat Tuhan, namun pihak-pihak tersebut tidak meng-alami hal-hal yang buruk. Mereka menganggap Tuhan tidak ada karena tidak berusaha “membela” diri-Nya sendiri. Keempat, mereka melihat berbagai bentuk kematian manusia, termasuk yang disengaja oleh manusia itu sendiri, seakan-akan tidak lagi dijaga oleh Tuhan. Kelima, mereka melihat orang-orang yang begitu giat beribadah kepada Tuhan secara seremoni keagamaan, namun tetap menam-pilkan karakter dan perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilainya keagamaan itu sendiri.     


Kelompok ketiga adalah mereka yang sungguh-sungguh percaya atas keberadaan Tuhan. Mereka meyakini bahwa Tuhan merupakan pribadi yang hidup dan mulia. Me-reka percaya bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan secara sengaja dengan kuasa-Nya yang dahsyat. Meskipun demikian, kelompok ini tidak seragam dalam menjelaskan pemahaman mereka atas keberadaan Tuhan yang hidup itu. Selanjutnya, kelompok ketiga ini dapat dibagi menjadi enam sub, yaitu: Pertama, mereka yang percaya atas keberadaan Tuhan yang hidup dan tidak tergambar-kan. Kelompok ini percaya bahwa Tuhan adalah Pribadi yang tidak tergambarkan; tidak terlukiskan. Bahwa tidak ada satu pun pende-katan atau analogi atau ilustrasi yang mampu melukiskan kebera-daan Tuhan. Lagi pula, kebera-daan-Nya tidak perlu dibuktikan dengan cara apa pun, karena segala sesuatu yang kelihatan sudah cukup untuk mewakili kebe-radaan-Nya. Tuhan tidak terlihat oleh mata karena ia memang tidak terjangkau oleh pandangan dan pemikiran manusia yang terbatas.


Kedua, mereka yang percaya atas keberadaan Tuhan yang hidup namun masih harus diwakili dengan medium tertentu. Tuhan itu ada, namun karena Ia tidak dapat terlihat maka keberadaan-Nya harus ditunjukkan dengan berbagai hal yang relevan untuk itu. Simbol-simbol tersebut dapat berupa benda, tulisan, gambar, istilah atau ungkapan, dalam beragam bentuk dan variasinya. Ketiga, mereka yang percaya atas keberadan Tuhan yang hidup namun berada di dunia lain (di sorga) sekaligus tidak ada urusannya dengan dunia ini (di bumi). Menurut kelompok ini, Tuhan hanya cocok untuk berada di sorga, karena selain dianggap terlalu tinggi kedudukannya, juga karena “habitat” dan “berat jenisnya” yang tidak sama dengan makhluk dan benda-benda yang ada di dunia ini. Jadi, Tuhan itu nyata, namun ia tidak cocok dan tidak perlu ada di sini. Keempat, mereka yang percaya atas kebe-radaan Tuhan sebagai catatan sejarah. Mereka percaya ada Tuhan, namun itu adalah di masa lalu. Misalnya, ketika ia mencipta atau pada masa awal alam semesta. Setelah Ia membuat suatu sistem kehidupan yang alamiah (hukum alam), selanjutnya Ia menghilang. Kelima, mereka yang percaya atas keberadaan Tuhan sebagai Pribadi yang tunggal (monotheisme). Tuhan harus selalu satu. Ia tidak boleh digandakan atau dianggap kembar atau ada yang sejenisnya. Pokok-nya harus selalu satu adanya. Keenam, mereka yang percaya atas keberadaan Tuhan sebagai Pribadi yang majemuk (politheis-me). Tuhan tidak boleh satu atau tidak hanya satu saja. Ia adalah jamak, tergantung pada kehen-dak dan karya-Nya. Ia tidak boleh dibatasi. Lagi pula karena objek atau makhluk yang diurus Tuhan sangat banyak, maka dapat dimaklumi jika cara dan penampilan serta pribadi-Nya juga menjadi banyak. Ia dapat muncul berupa manusia atau batu atau suara atau sesuatu yang lain pada suatu masa atau zaman tertentu. Hal itu terserah pada-Nya.


Saya mengakui bahwa panda-ngan tentang keberadaan Tuhan yang sesungguhnya pasti lebih luas dari apa yang dapat diungkapkan dalam tulisan sederhana ini. Oleh sebab itu, pembaca yang budiman kiranya memaklumi keterbatasan ini secara proporsional. Mengenai sikap yang sepatutnya dipegang oleh warga gereja atas beberapa pandangan tentang keberadaan Tuhan ini akan saya singgung pada tulisan saya pada edisi selanjutnya dalam tabloid ini dengan artikel yang berjudul: “Cara Umum Mema-hami Keberadaan Tuhan”. v
* Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM)
, Ketua STT Lintas Budaya, dan
Gembala Sidang Jakarta Breakthrough Community (JBC).
 

63
25 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
Online Support :