Reformata.com - BAYI mungil itu tertidur pulas. Tidak seperti bayi pada umumnya, bayi ini kepalanya besar, sementara tubuhnya kecil dan kurus. Dia putra ke-2 dari Charlie dan Winarni, yang hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur melewati hari-harinya. Sinai, itulah nama bayi yang dilahirkan pada 26 Maret 2007 itu. Sungguh mengenaskan jika pada usia yang masih dini itu Sinai harus mende-rita. Tapi, selang dan peralatan me-dis yang menempel di badan dan kepala, serta luka di bagian bela-kang kepalanya, tidak membuat-nya rewel menahan rasa sakit. Da-lam tidur pulasnya dia seolah ber-kata kalau dirinya kuat menang-gung segala derita itu. Kasih sayang kedua orang tua serta Rafaela, sang kakak, tentu telah menjadi semangat hidup bagi Sinai.
Kelahiran Sinai
Ketika Sinai masih dalam kandu-ngan, sebagaimana lazimnya, Winarni rutin memeriksakan kandu-ngannya ke rumah sakit. Menurut dokter, semua normal tidak ada masalah. Namun saat hendak melahirkan, rasa sakit tak terta-hankan pada kedua kaki ibu muda ini menyebabkan kakinya sulit diangkat. Itulah keanehan awal yang dirasakan Winarni. Akhirnya jabang bayi dilahirkan lewat operasi sesar. Meski demikian, Winarni tidak bisa langsung melihat dan menggendong buah hatinya itu. Tiga hari sang bayi harus diisolasi.
“Bumi bagai bergetar, mataku buram, tubuhku sangat lemah ketika menatap Sinai dilahirkan,” ungkap Charlie, sang ayah, berli-nang air mata. “Saya tidak pernah menduga akan seperti ini anakku. Apa gerangan kesalahan yang pernah kulakukan sehingga ini terjadi pada anakku?” Berdasarkan keterangan dokter, Sinai mende-rita hydrocepalus (kepala yang besar tidak seimbang dengan pos-tur tubuhnya). Charlie sempat dilanda kebingungan tentang bagaimana nanti dia memberitahu-kan keadaan Sinai kepada Winarni?
Saat Winarni melangkah menuju kamar bayi dan melihat dari kejau-han, perasaannya bercampur aduk menahan kepedihan yang tiada terperikan. “Mengapa anak yang tak berdosa ini harus menerima kenyataan ini? Kenapa bukan saya saja? Apa dosa saya dan suami saya?” jerit hati Winarni saat itu. Namun dia tetap menerima kenya-taan bahwa Sinai tetap anaknya. “Sinai tidak akan saya sia-siakan,” tegas Winarni. Kasih sayang tulus seorang ibu membuatnya rindu untuk memeluk dan menggendong Sinai. Dan itu membuatnya mampu menerima kekurangan anaknya.
Atas rujukan dok-ter, Sinai diperiksakan kembali ke rumah sakit. Namun karena terbatasnya tempat dan biaya, Sinai dibawa pulang ke rumah. Winarni bertam-bah sedih, ketika tidak dapat menggendong buah hatinya, lantaran kepalanya yang besar itu. Untuk memandikan Sinai dilakukan bersama Charlie. Sinai hanya dapat dipeluk, diberi makan di tempat tidur. Kepala Sinai terus bertambah besar. Ketika malam tiba dan Sinai tertidur, Winarni yang kini berusia 35 tahun ini hanya bisa meman-dang bayinya dan berdoa agar dia dapat tetap bertumbuh seperti layaknya anak-anak yang lain.
Secercah harapan sempat hadir tatkala Sinai berusia 4 bulan. Sinai dibawa ke sebuah yayasan untuk diperiksa. Namun harapan kembali kandas. “Sinai terlambat dibawa ke sini, kami tidak dapat menolong-nya. Kepalanya sudah terlalu besar untuk diobati,” demikian ketera-ngan pihak yayasan milik sebuah gereja itu. Charlie dan Winarni kembali terpukul. Pertolongan tak kunjung didapat, sementara kon-disi ekonomi yang minim membuat mereka putus asa mengupayakan kesembuhan bagi Sinai. Semua kini diserahkan kepada Tuhan lewat doa dan pengharapan.
Operasi Sinai
Menginjak usia 1 tahun, seorang ibu membantu meringankan penderitaan Sinai dengan membeli peralatan kepala bagi Sinai, seharga puluhan juta. Dengan adanya peralatan itu, operasi pun dilakukan. Setelah operasi itu, berat badan Sinai merosot dari 18 kg menjadi 14 kg. Pengobatan rutin yang tadinya dilakukan setiap dua minggu, kini menjadi sekali sebulan, lalu sekali tiga bulan. Namun Charlie yang hanya bekerja sebagai pemantau di sebuah perusahan swasta, tak mampu menanggulangi biaya. Pengobatan pun harus terhenti.
Ada yang membuat Charlie dan Winarni sedih. Usai menjalani operasi, di sebuah rumah sakit be-sar, dokter yang menangani ber-kata, “Jika suatu waktu ada kea-nehan pada anak ini, jangan bawa lagi ke sini.” Charlie dan Winarni mengartikan pesan ini sebagai isyarat kalau harapan hidup bagi Sinai sudah tertutup. Sekali-pun demikian, keluarga Charlie tetap menjalani hari demi hari penuh dengan pergumulan dan tetap memiliki harapan untuk Sinai.
Kesatuan dan kesaksian
Kesulitan dan pergumulan itu semakin meneguhkan Charlie dan Winarni dalam iman kepada Tuhan Yesus. “Tuhan menginginkan kami tak hanya bersatu menanggulangi kesulitan, namun bersatu untuk percaya kepada-Nya,” ungkap Winarni yang bersama keluarga adalah jemaat Gereja Bethel Indonesia Kenari.
Winarni tidak pernah malu dengan keadaan anaknya. Ketika ada ibu yang malu memiliki anak cacat, itu menjadi kesempatan bagi Winarni untuk membagi kesaksian. “Jangan pernah malu memiliki anak cacat. Mereka tetap anak kita yang tidak dapat disia-siakan,” ungkap Winarni dengan semangat. Hara-pan Winarni agar anaknya dapat sehat dan memiliki kelebihan, adalah pancaran semangat yang membuatnya tetap sabar merawat Sinai.
“Sinai tidak pernah rewel atau membuat kami kesulitan. Walau menanggung rasa sakit, dia tetap tenang dan menerima. Tuhan juga selalu memberi pertolongan de-ngan cara-Nya yang tidak terduga, ketika kami membutuhkan pertolo-ngan bagi Sinai. Dia menjadi anak yang lucu hari demi hari, bukan lagi menjadi beban,” tutur Charlie penuh syukur.
Kesedihan yang dulu membelit Charlie dan Winarni, kini berubah menjadi pengharapan besar ke-pada Tuhan. Sinai memberi makna besar dalam hidup rumah tangga mereka. Dalam kekurangan, cinta kasih mereka melimpah untuk Sinai, bocah yang lemah, namun kuat menghadapi kesakitan.
Doa yang sama selalu dipanjatkan sang kakak, Rafaela. “Tuhan tolong Dede (adik) biar lekas sembuh”. Putri pertama Charlie kelahiran 24 April 2005 ini bercita-cita menjadi dokter, agar kelak bisa merawat dan mengobati adiknya.
Lidya