Cimei, Pedagang Nasi Uduk
Reformata.com - KEBERADAAN sekolah taman kanak-kanak (TK) di pemukiman warga di Taman Satu, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, mendatangkan berkat bagi para pedagang makanan yang mangkal di sekitar sekolah tersebut. Cimei (53) misalnya. Pedagang yang biasa dipanggil dengan nama Mei ini tidak pernah sepi pembeli, terutama anak-anak TK yang setiap hari menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk menyantap nasi uduk Cimei. Dagangan Mei lainnya yang laris adalah nasi goreng dan kue-kue. Memang, di antara para pedagang makanan di taman itu hanya tempat Mei yang ramai pem-beli. Bahkan, warga yang rumahnya cukup jauh rela datang demi mencicipi nasi gorengnya.
Dagangan Mei memang enak dan renyah, terutama nasi uduk dan nasi goreng yang dia masak sendiri. Selain harganya murah, campuran lauk seperti sambel kacang ikut menggoda warga setempat mem-beli dagangannya. “Untuk orang dewasa dijual Rp 3.000 per piring. Kalau anak-anak cuma Rp 2.000,” kata Mei. Bermodalkan cita rasa itulah dagangan Mei bisa bertahan sampai 19 tahun. Hal lain yang disukai warga adalah sikap ramah dan pandai bergaul Mei dengan siapa saja.
Sebagai etnis Tionghoa, maka-nan nasi uduk dan nasi goreng jualannya beberapa kali dicurigai mengandung minyak babi. Bahkan, calon pembeli mencari tahu sumber makanan Mei kepada orang-orang yang mengenal baik Mei, termasuk salah seorang guru TK yang dihor-mati orang tua murid di sana. “Mereka semula curiga sekali kalau makanan-makanan ini ada cam-puran lain yang dianggap haram. Tapi guru murid TK itu membuat mereka percaya,” kata ibu tiga anak ini.
Demi anak
Kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan sejak ditinggal mati suaminya sepuluh tahun lalu tak membuat batin Mei miris. Modal semangat mencari uang demi keberlangsungan hidup ketiga anaknya begitu besar. “Setiap hari saya bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan dagangan ini,” ujarnya.
Kendati berpendidikan rendah, Mei masih memiliki keahlian khusus di bidang masak-memasak. Modal itulah membuat dia bisa bertahan hidup sampai sekarang. “Semua karena berkat Tuhan Yesus. Tanpa Dia hidup kami tak berarti apa-apa,” kata jemaat Bala Keselamatan, Kramat Raya, Jakarta Pusat ini. Dalam situasi ekonomi atau apa pun, Mei mengaku selalu meng-ucap syukur.
Tak sekadar syukur lewat ucapan saja. Meski penghasilan yang didapat dari jualan nasi sangat pas-pasan, Mei mencurahkan rangkaian syukur lewat pemberian perpulu-han yang rutin dilakukan dari hasil penjualan. “Tuhan itu teramat baik buat saya. Saya belajar taat untuk memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Anak-anak saya yang sudah bekerja juga saya nasihati agar tidak lupa memberikan perpuluhan juga,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 25 Mei 1956, ini yang tak pernah absen melakukan saat te-duh setiap mau tidur maupun setelah bangun pagi.
Soal kepatuhan memberikan perpuluhan, Mei memang sangat memahami hal itu. Pasalnya, sejak masih kanak-kanak hingga dewasa dia komitmen mencurahkan waktu dan tenaga melayani Tuhan. Saat remaja, Mei memutuskan sebagai guru sekolah minggu. Kini, dia masih giat menyibukkan diri aktif sebagai anggota paduan suara di Bala Keselamatan.
Sebagai orang Tionghoa yang lahir dan besar di Jakarta, perilaku diskriminasi oleh warga pribumi sering dialami jika sedang pergi ke luar rumah. Jika belanja kebutuhan pokok ke pasar, sang penjual langsung menaikkan harga. “Cuma belanja cabe rawit harganya dibikin tinggi,” cetusnya. Sementara, jika Mei menaiki angkutan umum, sang supir seenaknya memainkan harga tarif.
Herbert Aritonang