Hendrik Lim, MBA*
Reformata.com - BILA Anda merasa bahwa sebenarnya Anda memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dari yang diperlukan saat ini untuk menangani kinerja pelaya-nan sehari-hari, dan masih ada banyak kemampuan yang idle, tidak terpakai atau Anda seharus-nya bisa jauh lebih maju dari pada yang dicapai pada saat ini. Atau bila Anda sebagai pekerja atau executive, Anda merasa setiap hari telah bekerja keras, pergi pagi pulang malam, namun kinerjanya hanya itu-itu saja dan tidak ada terobosan besar yang meruntuh-kan batas kebuntuan dan kejenu-han, maka strategi berikut ini bisa membantu Anda mendapatkan terobosan. Saya sebut: strategi diam.
Saat Anda memutuskan untuk diam, Anda akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mela-kukan ‘mental detox’. Sama hal-nya seperti orang melakukan diet untuk detox fisik, dengan hanya mengonsumsi makanan yang sehat dan diperlukan dan meng-izinkan tubuh mengeluarkan zat toxic- racun yang tidak diperlukan, maka ‘mental detox‘ yang dilaku-kan dalam keadaan yang hening dan diam juga memiliki aplikasi yang sama untuk melepaskan kita dari mind set negatif – terlebih bagi Anda yang berjiwa extrovert dan outspoken.
Dalam keadaan diam, (bukan dalam arti melamun), tetapi sua-sana meditatif disertai perenu-ngan reflektif, kita bisa melakukan review, meninjau ulang konstruksi bangunan alam pikiran kita (mind set) sendiri, kemudian melepaskan ingatan memori buruk, sesuatu ba-gian yang negatif dan destruktif dari alam bawah sadar kita untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan diri kita ke depan. Dengan demikian kita bisa lebih mengendorkan tali pengencang trauma masa lampau yang selalu mengerem laju kemajuan Anda. Trauma atau memori buruk ini ber-sarang dalam alam bawah sadar, dan tanpa orang sadari, ia amat aktif berperan meskipun tersimpan dengan rapi di dalam rak alam bawah sadar.
Trauma tidak harus semata-mata diartikan abuse dan dramatik, trauma bisa kita artikan suatu hal yang nancap di memori kita pada masa lampau dan terjadi secara pelan-pelan dan berkala. Ia menimbulkan persepsi negatif saat ini, ketika ia bekerja kembali. Umumnya ia lahir dari akumulasi pengalaman dan cara kita bereaksi.
Dengan diam dan reflektif pula kita bisa punya kesempatan lebih besar untuk melakukan ‘detachment’, pelepasan modul negatif yang tidak kita inginkan ini dari badan pesawat diri, sehingga pengaruhnya bisa dihilangkan atau di-bonsai, dan Anda bisa terbang dengan lebih ringan.
Kaedah yang sama berlaku pula dalam kehidupan organisasi atau pelayanan Anda. Organisasi yang sanggup menghadirkan kultur yang tidak kalut dan terburu-buru, suasana yang tidak serba genting dan penting setiap hari, akan memi-liki lebih banyak waktu untuk memikirkan strategy secara efektif dan proaktif untuk menyongsong tantangan yang ada di depan mata
Dengan diam dan dalam suasana reflektif pula, orang bisa menjadi ‘pengamat’ bagi dirinya sendiri, melihat dengan tenang dan mera-sakan apa saja bagian dari sub-sub kepribadian yang tersimpan namun sering tampil dominan saat kita ber-sentuhan atau melakukan kontak dengan pihak luar melalui panca indra maupun dari impuls impuls pemikiran yang tidak pernah berhenti.
Demikian pula organisasi terma-suk pelayanan , ia akan bisa lebih trampil mendengarkan kebutuhan pelanggannya dan memiliki sensiti-vitas untuk memenuhinya. Dan pada saat orang sadar akan feno-mena tersebut, ia bisa melihat ke dalam dirinya sendiri dengan tenang, tanpa harus larut dalam tarian emosi yang hendak ditabuh kembali oleh memori yang tersim-pan sebelumnya. Sebuah nada ta-rian yang di akumulasi orang sepan-jang saat, dalam perjalanan hidup-nya. Dan bila memori yang tersim-pan tersebut adalah sesuatu yang negatif, merusak distruktif maka ia telah menang terhadap dirinya sendiri.
Ia kini bisa tersenyum dan menertawakan diri sendiri saat ada sebuah impuls pemikiran yang hendak muncul, terlebih lagi se-buah impuls yang merupakan kekonyolan sendainya sampai ia membiarkan itu terjadi dalam perbuatan. Menertawakan diri sen-diri adalah lambang orang sehat. Kesadaran yang terjadi pada level personal ini secara agregat juga dapat terjadi secara kolektif dalam kultur korporasi. Dan kalau itu ter-jadi, organisasi akan disibukkan dengan urusan strategis daripada hal-hal kecil yang menyita perhatian setiap saat. Dan Anda akan me-ngalami suatu breakthruogh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan awal dari perjumpaan kita hari ini.
Terlebih lagi, Anda memasukkan nilai rohani, dalam jeda diam terse-but, maka memori negatif manusia lama yang kita punya, yang kita tidak ingin hidup lagi dengannya, akan terlepas tak berkuasa. Anda bisa mengamatinya bergejolak tapi tidak membiarkannya bertindak. Dan sebagai gantinya nilai baru yang akan tampil. Kita menjadi ciptaan baru yang tidak lagi didaulat oleh ciptaan lama. v (getex@cbn.net.id)
Praktisi bisnis internasional dan konsultan bisnis perseroan besar