Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Muda Berprestasi

Stefanus, Kalkulator Berjalan

Posted : 18 Nopember 2009
Stefanus, Kalkulator Berjalan.jpg
STEFANUS, remaja imut dan periang. Pembawaannya terlihat santai, tapi siapa sangka kalau dia tergolong anak jenius. Dia memiliki potensi berpikir (menalar) dan menghitung yang luar biasa. Rumus-rumus hitungan yang diajarkan guru di sekolah, dengan cepat dipahaminya. Tak heran setiap soal-soal matematika atau hitungan dapat dia selesaikan dengan  mudah.
Kejeniusan siswa kelas 1 SMAK I BPK Penabur, Grogol, Jakarta Barat ini, tidak hanya karena kemam-puannya yang cepat menyelesai-kan soal matematika dengan rumusan baku sebagaimana diajar-kan guru, tapi terutama pada kemampuannya  menemukan me-tode-metode baru dalam menye-lesaikan masalah-masalah mate-matika. Metode yang ditemuinya akurat, efektif, cepat, dan tepat. “Hingga kini, metode atau rumusan baru itu belum dinamakan. Soalnya, terkadang konsep rumusannya bisa berubah meski harus menye-lesaikan satu bentuk soal  mate-matika yang sama,” tutur kelahiran Jakarta, 22 April 1994 ini.
Karena kemampuannya ini, anak tunggal dari Jimmy dan Sui Cien ini, dijuluki si “cabe rawit” karena postur tubuhnya kecil tapi otaknya sangat cerdas. Ada pula yang menyapanya sebagai “kalkulator hidup” karena sering menyele-saikan soal matematika tanpa kalkulator tapi kemampuan otak. Bahkan dia bisa lebih cepat dari kalkulator. Alasannya, “Karena kalau menggunakan kalkulator ber-arti kita harus mencari kalkulatornya dulu, melihat dan memencet  tombol angka yang diinginkan, dan seterusnya”.

Cerdas alami
Sejak bersekolah di taman kanak-kanak (TK), Stefanus tidak pernah ikut les privat. Sepulang dari sekolah, paling dia hanya baca-baca buku di rumah. Dia meng-ingat-ingat penjelasan gurunya di sekolah, lalu mencoba mengulangi lagi pengajaran itu. Kemampuan daya ingatnya memang tak dira-gukan. Setiap penjelasan materi pelajaran matematika, diingatnya terus. Itulah sebabnya dia tidak mengikuti bimbingan belajar lagi di luar waktu sekolah formil. “Yang paling penting tahu kemampuan diri dan mampu dikelolanya dengan baik, mengisi waktu dengan tepat,” tuturnya dan melanjutkan tanpa harus privat dan juga tak ada metode khusus dalam belajarnya selain hanya mengulang kembali materi pelajaran yang telah dijelaskan di sekolah.
Kejeniusan remaja yang juga hobi main catur ini bukan tanpa bukti. Sejak sekolah dasar (SD) dia sudah mengikuti pelbagai kom-petisi matematika, baik tingakat nasional maupun internasional. Gelar kejuaraan pun banyak diraihnya dari kompetisi itu. Tak heran jika di rumahnya menumpuk banyak piala dan piagam prestasi. Saat di kelas 4 SD misalnya (2004), dia merebut juara satu lomba matematika terbuka.
Sepanjang tahun 2005, Stefa-nus mendapat juara satu dalam perlombaan Matematika Olym-piade Orbit di TMII, juara satu lom-ba Matematika tingkat nasional, mendapat Distinction Award dalam World Mathematics Championship, Bronze Medal & Merit Award dalam Philipines Elementry Mathematics International Contest (PEMIC) dan Silver Medal dalam International Mathematics and Science Olympiad (IMSO).  Tahun berikutnya, 2006, dia memperoleh Gold Medal dalam Pasific Assosiation Mathematics, Asia Pacific Mathematics Olympiad juga mendapat Gold Medal, juara 2 lomba Matematika PASIAD nasional, dan juara dua Cerdas Cermat John Calvin School.  
Pada 2007, Stefanus mendapat juara 2 dalam lomba Smukiez Mathematics Competition.
Dan tahun 2008, beberapa prestasi kembali gencar diraih, antara lain Bronze Medal dalam mengikuti Olympiade Sains Nasional (OSN), Bronz Medal dalam International Mathematics Competition di Chiang Mai Thailand, Grand Prize to Japan and Gold Medal dalam Mathematics Japan Competition Suken, dan juara satu mengikuti lomba Kompetisi Matematika di Unpar (Universitas Parahyangan), Bandung. Kemudian pada awal tahun 2009 ini, dia mendapat juara satu dalam mengikuti Nasional Matematika Brilliant School, dan Silver Medal dalam Olympiade Sains Nasional (OSN).
Banyaknya piala dan piagam yang diperoleh Stefanus tak membuat-nya absen dari setiap kompetisi matematika. Dia bahkan menyadari kecerdasan itu akan makin terasah jika kerap mengikuti pelbagai lomba matematika. Kini, dia sedang mempersiapkan diri mengikuti International Mathematics Olympiade (IMO) di Kazakstan, Mei tahun depan. Karena itu, pada 13 Okto-ber hingga 13 November 2009 ini, Stefanus ikut karantina tahap pertama di Yogyakarta dalam rangka pelatihan dan penyeleksian menghadapi perlombaan tahun depan itu.
“Matematika adalah bidang keil-muan yang terus tumbuh. Mate-matilka tumbuh secara obyektif-dengan berbagai macam pene-muan teori-teori baru, implemen-tasi-implementasi baru, dan metode-metode baru. Saya ingin ikut berkontribusi untuk terus menemukan inovasi-inovasi baru khususnya dalam pembelajaran matematika dan inovasi baru yang bermanfaat untuk masyarakat dunia yang merupakan aplikasi dari matematika,” tandas Stefanus. Sebab itu, dia telah menegaskan  cita-citanya menjadi matematika-wan, ilmuwan khususnya periset.
Meski cerdas, Stefanus sadar bahwa apa yang dimilikinya adalah anugerah Tuhan terindah dalam hidupnya. “Itu kemampuan milik Tuhan yang ditetapkan-Nya pada saya. Tugas saya sekarang adalah selain mensyukuri anugerah terin-dah itu, juga berupaya menerap-kannya, ikut berkontribusi bagi masyarakat luas,” tuturnya merendah.                    ?Stevie Agas
64
10 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 3.7248 sec | TOP
Online Support :