Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Abdi Panggabean, Bertahan dan Berkembang

Posted : 18 Nopember 2009
Bertahan dan Berkembang.jpg
Reformata.com - BAGI kalangan mahasiswa, pelajar, atau siapa saja warga Jabodetabek yang biasa membeli buku, Kwitang, tentu tidak asing lagi. Kwitang adalah nama tempat di wilayah Jakarta Pusat, yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Pusat Perbelanjaan Senen.

Di Kwitang memang banyak toko buku. Namun yang tak kalah menarik adalah sepanjang pinggir jalan depan toko-toko banyak mangkal pedagang kaki lima yang juga menjual buku. Begitu memasuki kawasan ini kita akan disuguhi pemandangan berupa lapak-lapak penuh buku yang dipajang. an buku yang sangat banyak dan beraneka ragam. Saking banyaknya, buku-buku itu sampai ke bahu jalan. Setelah Pemda menertibkan, jejeran buku mulai berkurang. Bahkan pedagang pun berkurang juga. Hanya pedagang buku yang memiliki modal untuk menyewa kioslah yang dapat terus bertahan di tempat ini. Karena memang umumnya yang ditertibkan adalah para pedagang buku yang menggunakan trotoar sebagai tempat berjualan. Sebagian besar dari mereka yang ditertibkan direlokasi ke tempat baru oleh Pemda.

Salah satu pedagang buku yang bertahan adalah Abdi Panggabean, yang membuka kios di kawasan tersebut. Menurutnya, usahanya berdagang buku di kawasan ini terbilang cukup lama dibanding pedagang buku lainnya. Bersama orang tuanya, puluhan tahun ia menjalankan usaha ini. Berbagai masalah dalam menjalankan bisnis ini telah ia lewati dengan berbagai cara dan penuh kesabaran. Toko bukunya di kawasan tersebut boleh dilakatakan salah satu yang cukup besar. Tampak ia sudah cukup mapan dalam menjalankan bisnis ini. Menurut pria yang biasa beribadah di HKBP Rawamangun ini, usaha menjual buku adalah usaha keluarga yang telah dijalani sejak tahun tujuh puluhan. Ia pun tampaknya sempat menikmati banyak keuntungan dengan sebutan “kawasan buku murah” di tempat ia berjualan. Namun tidak dipungkiri juga bahwa ia juga harus melewati masa-masa sulit ketika kondisi perekonomian negara sedang sulit, di mana harga buku melambung tinggi sedangkan daya beli masyarakat berkurang.

Menurutnya, untuk menyiasati hal itu, diperlukan pertimbangan yang matang dalam menyediakan stok buku. Setiap kali akan menyediakan buku yang dipasarkan, penjual buku yang baik harus jeli menilik buku mana yang kira-kira akan laku di pasaran dan mana buku yang kurang diminati pembeli. Cara ini tentu akan efektif dalam mengatur anggaran belanja yang maksimal. Agar nantinya buku yang telah dibeli tidak hanya akan menjadi pajangan dan pada akhirnya menjadi barang mati di toko tersebut. Ia juga mengakui bahwa bagaimanapun toko buku murah seperti yang dia kelola itu tetap saja memiliki saingan seperti toko-toko buku besar yang berada di pusat perbelanjaan. Untuk itu ia harus memiliki pangsa pasarnya sendiri, dan perlu benar mengetahui pangsa pasarnya tersebut seperti apa. Dengan mengetahui kriteria pembelinya tersebut ia lebih mengerti mana buku yang akan ia pesan dari percetakan dan mana buku yang tidak ia pesan sama sekali atau mungkin dipesan dengan jumlah terbatas.
Memang ia sangat selektif dalam memilih buku yang laris di pasaran. Akan tetapi ia juga berusaha untuk menyediakan banyak buku dari berbagai bidang ilmu, karena baginya kelengkapan sebuah toko buku adalah salah satu daya tarik yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Setiap kali pembeli datang akan merasa senang jika buku yang ia cari dapat ia temui di satu toko buku, walau mungkin ia akan mencoba ke toko lain sekadar untuk membandingkan harga. Jika banyak orang tahu tokonya adalah toko buku yang paling lengkap, maka seiring waktu para pembeli tanpa berpikir dua kali akan segera menuju ke toko bukunya. Karena itu di toko bukunya ia menyediakan ribuan buku dari berbagai bidang ilmu.

Banyaknya variasi buku yang ia tawarkan menjadi daya tarik sendiri bagi para pembeli. Menurutnya, dengan banyaknya jenis buku yang ia tawarkan menjadikan toko buku miliknya tersebut dikunjungi pembeli dari beraneka macam profesi. Mulai dari pelajar, wiraswasta, mahasiswa baik sarjana maupun pascasarjana. Tidak jarang pejabat tinggi pun datang ke tokonya untuk mencari buku-buku lama yang mungkin tidak lagi ada di toko buku besar. Harga yang ia tawarkan pun cukup variatif, mulai dari harga di bawah sepuluh ribu sampai ratusan ribu rupiah. Setiap hari ia bisa mendapat omset Rp 1 juta. Menurutnya jumlah itu terbilang kecil jika dibandingkan sebelum krisis.

Keadaan yang sulit dalam berusaha tidak membuat ia mundur. Bersama keluarganya ia bertahan dan giat mengembangkan usaha yang sudah lama digeluti ini. Bahkan saat diwawancarai ia sedang membuat daftar dari katalog bukunya yang menurutnya akan ia buatkan dalam bentuk online. Teknologi online ini nantinya akan ia gunakan untuk menjangkau siapa saja yang ingin melihat daftar buku di tokonya tanpa harus datang langsung ke tokonya. Kemauannya untuk mengem-bangkan usaha ini adalah salah satu cara untuk menghadapi ketetnya persaingan bisnis di era krisis saat ini.   Jenda
63
12 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 8.2152 sec | TOP
Online Support :