Reformata.com - PEREMPUAN itu terlihat manis dengan dandanan sederhana. Gerakannya cekatan saat melayani pembeli di warung kecil miliknya. Keringat mengucur di pipi karena panasnya udara siang itu. Namun senyumnya memberi kesejukan saat mengawali perbincangan yang cukup lama dengan REFORMATA.
Namanya Sandiana Purba, yang dengan tegar menjalani hari-harinya selama 17 tahun tanpa suami. Ketegarannya terlihat kala melakukan pekerjaannya. Selain mengelola tempat kos, dia juga pemilik warung kecil, melayani isi ulang air mineral, bahkan tugas-tugas rumah yang seolah tiada habisnya. Dengan segala kesibukannya itu dia telah mengantar anaknya menjadi sarjana. Di luar itu semua, ternyata dia memberi dukungan dana kepada keluarga di kampung. Berat memang, namun semua itu dia lakukan demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai anak sulung dari Martua Purba dan Saulina Saragih.
Air matanya menetes saat mengisahkan peristiwa yang pahit untuk dikenang. Ketika tiba di Jakarta, ditinggal pergi sang suami hingga dia tetap berjuang di Jakarta seorang diri membesarkan buah hatinya dan melewati masa-masa sulit dengan tetap bertahan.
Perpisahan yang menyedihkan
Sejak suami pergi, dia tinggal di tempat kos berukuran kecil yang menggunakan karton untuk alas tidur. Di ruangan sempit itu ada sebuah kompor kecil. Dengan alat masak sederhana itu pula dia memasak aneka kue khas Batak untuk dijual, seperti ombus-ombus, lampet, ketan beras. Sandiana menjajakan kue-kue itu di tempat ramai seperti terminal atau perkampungan. Di tempat mangkalnya dia juga menyediakan teh manis dan kopi. Rata-rata dia dapat untung Rp 5 ribu per hari, cukup untuk membeli beras, tempe, dan sayur untuk dimakan sehari.
Tak hanya itu, jika tidak sedang berjualan, Sandiana juga mau bekerja layaknya pekerja kasar, mulai dari membuat jalan aspal hingga buruh bangunan. Inilah saat-saat awal, Sandiana meninggalkan Medan dan bertarung hidup di Jakarta seorang diri. saat bekerja dia meninggalkan seorang anak lelaki yang masih berusia 5 tahun di tempat kos. Dia melatih sang anak pergi ke sekolah sendiri dan makan tanpa harus didampingi. Ibu dan anak itu bergelut dengan pahitnya Jakarta, sambil tetap mengharap untuk bertemu dengan sang suami.
Nasib baik mulai berpihak kepada wanita kelahiran Tanjungbalai, Sumatera Utara, 21 Desember 1965 ini. Dia ditawari menjadi penjaga rumah kos dengan tunjangan Rp 200 ribu per bulan. Dia juga dapat tempat tinggal gratis. Kesempatan dan kepercayaan ini diresponi baik oleh Sandiana. Dia tidak hanya sebagai penjaga kos, namun mencuci pakaian penghuni kos, membersihkan kos, dan memasak makanan bagi mereka. Semua itu dilakukan tanpa perasaan gengsi. Dari sinilah Sandiana mendapat tambahan pendapatan. Dia juga membuka warung kecil sambil menjadi penjaga air isi ulang. Kemauan untuk tetap bekerja serta kejujuran, menjadi modalnya untuk terus mengimbangi kesulitan hidup. Segala upaya untuk tetap bertahan dilakukannya tanpa henti.
Dalam perjuangan yang tak berakhir, Sandiana tetap memiliki harapan agar sang suami dapat kembali, namun harapan itu tetap nihil. Kesadaran menjadi sosok dominan, emosional, kasar, sombong serta berkarakter keras, disadari Sandiana sebagai pemicu perpisahan itu. Di balik itu intervensi keluarga suami, dan pudarnya rasa tanggung jawab sang suami, menyebabkan perpisahan itu terjadi. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan Sandiana, agar sang suami dapat kembali, namun tak kunjung terkabul. Doa dan harapan agar sang suami kembali bersatu dengan mereka, tetap dilakukan Sandiana dan anaknya.
Akhirnya harapan itu menipis setelah dating berita bahwa sang suami telah menikah lagi dan memiliki anak dari istri barunya. “Hanya Tuhan yang dapat menjawab dengan waktu, jika dia kembali dan tidak, biarlah kami tetap siap menghadapi kenyataan ini,” tutur Sandiana pasrah. Sandiana yang dulunya begitu keras dan kasar, berubah begitu lembut karena proses hidup yang panjang. “Kini saya dapat mengerti, Tuhan yang mengubah saya. Kehidupan masa lalu mengecewakan, namun Dia telah mengubah saya untuk lebih baik. Tak hanya karakter dan kepribadian, namun bagaimana menghadapi dan memandang hidup. Tuhan segala-galanya,” kata Sandiana berbinar.
Anak sebagai harapan
Bagi seorang ibu dari suku Batak, anak adalah harta yang tak ternilai. Begitu juga dengan Sandiana. Masa-masa membesarkan anak semata wayang mulai dari kecil hingga menggapai titel sarjana adalah hadiah terbesar baginya. Semangat dan harapan baru itu ditemukannya melalui sang anak. “Selama ini saya tidak ada apa-apanya. Karena Tuhan sayang saya dan anak saya, maka kami bisa seperti ini. Kasih Tuhan luar biasa, tidak terbatas, lebih dari segala-galanya. Anak saya dapat menyelesaikan kuliah dan kini dapat bekerja,” kata Sandiana menangis haru, mengingat lika-liku hidupnya yang dulu sulit, namun bahagia saat ini.
Warga jemaat Harvest ini tak lupa berbagi pesan, bagi sesama kaumnya yang mengalami pergumulan yang sama dengan dirinya. “Jangan merasa kita tidak bisa menghadapi sulitnya hidup. Dekat pada Tuhan adalah kuncinya. Tetap berjuang dan hadapi hidup ini dengan kejujuran”.
Dia juga merasa beruntung punya Tuhan Yesus, dan akan ikut Juru Selamat itu selama-lamanya. Itu adalah pujian yang selalu didengungkan Sandiana, ketika sedih dan menghadapi pergumulan. Bahkan selalu curhat dengan anaknya, bahkan meminta didoakan anaknya adalah komunikasi yang dibangunnya bersama. Anaknya adalah permata yang selalu memberi kerinduan baginya ketika tidak di rumah, dan selalu menjadi kebanggaan ketika bersama dalam keseharian.
Derai tangis Sandiana berakhir dalam senyum yang penuh harapan: “Tuhan segala-galanya. Apa yang harus ditakutkan lagi, karena Dia menyertai”. Ungkapan akhir menutup kisah panjangnya. Sandiana adalah sosok wanita tegar yang melewati hari-harinya dengan perjuangan tak henti. Impian bersatu dengan sang suami, tak pernah pupus darinya, membuktikan cinta dan kebesaran hatinya. Kekuatan dan penghiburan melalui anak yang dibesarkannya, menjadi upah kasih Tuhan kepadanya.
Lidya