Reformata.com - SIANG itu, seorang perempuan lansia duduk memojok di sekitar taman di pinggiran terminal bis Tangjungpriok, Jakarta Utara. Dia menjadi tontonan banyak orang. Sejak pagi, perempuan bernama Maisukaesih (42) itu dikerumuni orang lantaran dia sering merintih kesakitan. Menurut beberapa orang di sekitar taman, Mai—demikian perempuan tunawisma itu disapa—menderita penyakit pendarahan setiap kali buang air besar. Darah keluar begitu banyak setiap kali perutnya terasa mules. “Ibu ini sudah dua minggu sakit pendarahan. Dia sudah berobat tapi kondisinya belum membaik,” kata seorang tunawisma yang mengaku sudah lama kenal Mai.
Kondisi Mai memang sangat memprihatinkan. Hampir sekujur tubuhnya dikerumuni lalat lantaran dari dalam tubuhnya keluar bau tidak sedap. Menurut rekannya, Mai kesulitan membersihkan diri setiap kali buang air besar. Untungnya, seorang pria tua yang sehari-hari nongkrong di taman itu mau membantu membersihkan dan memberikan perhatian terhadap kondisi Mai. “Saya yang setiap hari merawat dia,” kata bapak itu.
Setiap hari Mai harus menahan sakit dan tak bisa berbuat apa-apa selain duduk-duduk dengan wajah pucat dan lesu. “Kalau berdiri rasanya sakit. Kalau dipaksa jalan harus pelan-pelan,” kata Mai kepada REFORMATA sambil merintih. Perempuan asal Bandung ini mengaku sudah dua minggu menderita diare disertai darah. Upaya mengobati sakitnya ke puskesmas tak juga memberikan perubahan berarti. Mai tidak bisa meminta pertolongan kepada keluarga atau pun saudara karena seluruh keluarganya berada di Bandung. Mai datang ke Jakarta beberapa tahun lalu untuk mengubah nasib. Dia meninggalkan kampung halaman dan dua anak yang masih kecil, setelah suaminya meninggal. Sekian lama di Ibu Kota, nasibnya malah tak karuan. Selama di Jakarta, tak ada yang dapat dia kerjakan selain mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual.
Kini, sejak dia sakit, segala kebutuhan makanannya sehari-hari didapat dari aksi solidaritas rekan-rekannya sesama tunawisma yang tinggal di taman itu. Namun, ketika Mai meminta uang Rp 50 ribu untuk ongkos pulang ke Bandung, semua rekannya pada membisu. “Di sini tidak ada yang punya uang sebesar itu. Kami cuma bisa bantu mengantar dia pulang jika dikasih ongkos,” kata seorang ibu muda. Namun, dalam kondisi masih lemah, sejumlah temannya mengimbau Mai tidak berangkat ke Bandung. Mereka khawatir sesuatu bakal terjadi di tengah jalan kalau dipaksakan berangkat.
Bertahan karena Yesus
Di sekitar pinggiran terminal Tanjungpriok terdapat sebuah taman kecil yang kini disulap oleh sekelompok tunawisma menjadi tempat tinggal. Mai salah satu tunawisma yang sehari-hari mangkal di taman tersebut. Sebelumnya, puluhan tunawisma yang beragama Kristen itu tinggal di areal stasiun Kereta Api (KA) Tanjungpriok. Mereka diusir lalu mengambil lahan taman tersebut sebagai tempat tinggal. Hal yang memprihatinkan di kala hujan datang turun. Serentak mereka bubar dan mencari tempat berteduh. Meski hidup dalam kemiskinan, mereka memiliki jadwal tetap untuk beribadah bersama. “Saya masih bisa bertahan hidup karena Yesus. Kalau saya tidak berdoa, saya tidak tahan hidup begini,” kata Mai.
? Herbert Aritonang