Sementara rakyat Indonesia berlomba-lomba untuk menggunakan bahasa Inggris, di Malaysia tidak lagi.
Harian Belanda De Pers menulis rakyat Malaysia berubah menjadi nasionalis sejati dengan tidak menggunakan bahasa yang dianggap peninggalan penjajah Inggris. Akibatnya bisa ditebak, rakyat Malaysia kini kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang asing.
Dikurangi porsinya
Bahasa Inggris yang merupakan bahasa nasional kedua di Malaysia dikurangi porsinya di sekolah-sekolah.
Menurut harian De Pers, sejak tahun 2012, pelajaran matematika dan fisika di sekolah-sekolah harus menggunakan pengantar bahasa Malaysia menggantikan bahasa Inggris. Keputusan itu diperkuat dengan kelompok nasionalis yang berpengaruh untuk menggunakan bahasa Malaysia lebih banyak di sektor pendidikan dibanding bahasa Inggris.
Semakin baik
Hal itu tentu saja ada sisi negatifnya. Sementara itu di Vietnam dan Thailand penggunaan bahasa Inggris rakyatnya semakin baik maka di Malaysia justru kebalikannya.
Para orang tua berbicara Inggris lebih baik dibanding generasi muda. Contohnya seorang karyawan perusahaan tidak bisa mengerti apa yang diungkapkan rekan baratnya. Keputusan pemerintah untuk mengurangi bahasa Inggris di sektor pendidikan mempengaruhi sektor perekonomian.
Dilema
Pemerintah Malaysia sepakat untuk lebih banyak menarik minat perusahaan multinasional. Namun di sisi lain mengurangi penggunaan bahasa Inggris. Itu adalah dua dilema yang tidak akan mudah dicari penyelesaiannya. Demikian menurut salah seorang manajer Tan Aikh Sengh dalam harian De Pers.
sumber:Ranesi