Maraknya kasus tawuran di kalangan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) menjadi momok bagi masya-rakat DKI. Tak hanya mahasiswa kampus lain dijadikan lawan bertarung, antar-fakultas di UKI pun saling bentrok. Ironis memang lantaran mayoritas mahasiswanya beragama Kristen yang sepatutnya lebih memahami tentang nilai-nilai kasih Kristus itu dan dituntut menjadi teladan dalam banyak hal.
Akibat seringnya insiden tawuran, stempel jelek pun bertebaran. Masyarakat banyak memplesetkan singkatan UKI menjadi “Universitas Karate Indonesia”, atau “Universitas-Kah Itu?”. Tentu kesan buruk tersebut menuai keprihatian banyak pihak, terutama kalangan umat Kristen, mengingat kampus UKI dapat dikatakan sebagai representasi atau simbol kekristenan di bidang pendidikan.
Persoalan klasik itu diangkat dalam diskusi panel yang diselenggarakan oleh Serikat Karyawan (Sekar) UKI di gedung LPMI, Jumat (16/19). Hadir sebagai pembicara, antara lain: DR. Victor Silaen (dosen UKI), Prof. HAR Tilaar (pakar pendidikan Kristen), Prof. Tunggul Sirait (mantan rektor UKI dan pemerhati pendidikan), dan Bonar Simanungkalit (alumni UKI).
Menurut Victor Silaen, imbas dari tradisi tawuran itu makin menurunnya minat para pelajar Kristen masuk UKI. “Sampai-sampai karena hal itu, UKI kerap melakukan dua hal yang melanggar ketetapannya sendiri. Antara lain, persyaratan minimal indeks prestasi calon mahasiswa baru yang diturunkan ke angka yang lebih rendah. Se-lain itu, batas akhir waktu pendaf-taran yang selalu diperpanjang,” cetus Victor ke-pada undangan dalam membuka sesi diskusi.
Yang disayang-kan, UKI terkenal justru dalam hal yang negatif saja, kendati kampus yang memiliki semboyan “Melayani Bukan Dilayani” itu memiliki cukup banyak hal yang positif atas beragam prestasi yang dibanggakan. Masalah-masalah yang mencuat di media semakin membuat citra UKI terpuruk dari waktu ke waktu. “Kalau masalah ini tidak diatasi secara serius, maka kehancuran UKI agaknya tinggal menunggu waktu saja,” kata dosen fisipol UKI ini.
Suasana diskusi yang berjalan molor sampai malam itu dihentakkan oleh komentar mantan ketua umum PGI Natan Setiabudi yang mengusulkan agar UKI dibubarkan saja.
Herbert Aritonang