Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*
(www.poltakypsibarani.com)
Reformata.com - BAGAIMANAKAH prosesnya sehingga Alkitab bisa seperti yang ada di tangan kita saat ini? Sebagai sebuah kumpulan tulisan yang sangat tebal oleh beberapa penulis, tentunya Alkitab ditulis dengan banyak bahan. Setelah saya membaca dan meng-amati seluruh materi dalam Alkitab, maka menurut hemat saya bahan-bahan dasar untuk penulisan Alki-tab dapat dibagi ke dalam tiga kategori sebagai bahan pokok, yakni: pewahyuan, ilham, dan inspirasi.
1. Alkitab Ditulis Berdasar-kan Pewahyuan
Pewahyuan ini diperoleh lang-sung oleh para penulis dari Tuhan dan yang sama sekali belum mereka miliki sebelumnya. Seluruh pewah-yuan berasal dari Tuhan. Bentuk pewahyuan ini dapat dibagi ke da-lam dua jenis: pewahyuan berupa suara dan pewahyuan berupa gambar atau penglihatan (vision). Pewahyuan berupa suara adalah suara Tuhan yang sangat jelas dan disuruh untuk dituliskan. Apabila di dalam Alkitab kita menemukan fir-man Tuhan yang berkata: “Berfir-manlah Allah kepada ..... atau Tuliskanlah .....”, seperti yang ter-dapat dalam kitab nabi-nabi, maka hal itu adalah contoh dari pewah-yuan berupa suara. Contoh pewahyuan yang diberikan Tuhan melalui gambar atau penglihatan adalah seperti yang diberikan-Nya kepada Yohanes di Patmos seba-gaimana terdapat dalam Wahyu 1: 9-20. Setelah penulis mendapat-kan gambar (vision) tersebut, mereka menafsirkan gambar itu melalui daya tangkapnya. Perlu diingat bahwa para penulis Alkitab belum tentu dapat secara lang-sung dan secara keseluruhan me-nangkap apa yang disampaikan Allah. Sekalipun demikian, Allah mengurapi dan memakai mereka semaksimal mungkin agar pesan-pesannya dapat disampaikan dan dimengerti umat-Nya.
2. Alkitab Ditulis Berdasar-kan Ilham
Ilham yang dimaksud di sini juga dapat berasal dari pewahyuan, namun yang sedemikian rupa diba-hasakan sendiri oleh penulis Alki-tab. Ilham lebih tepat diartikan sebagai keinginan penulis dengan pengalaman dan kedekatannya dengan Tuhan untuk menuliskan firman atau hikmat dari Tuhan yang pernah diterimanya. Sebagai contoh adalah berbagai materi da-lam tulisan Rasul Paulus, yang menurutnya tidak semuanya diterimanya secara langsung dari Tuhan melainkan ada yang merupakan pandangan-nya sendiri.
3. Alkitab Ditulis Berda-sarkan Inspirasi
Inspirasi ini memang lebih lemah sifatnya karena tidak diterima langsung dari Tuhan pada saat itu juga, namun dorongan untuk menuliskan-nya tetap berasal dari Tuhan. Tuhanlah yang memberikan beban atau kerinduan kepada mereka untuk menulis. Sete-lah Tuhan memberikan ide un-tuk dikembangkan oleh penu-lis Alkitab, mereka pun me-nuliskannya. Pada umumnya inspirasi bersifat mengulangi dan/atau menjelaskan pe-wahyuan. Misalnya, Kitab Ulangan adalah pengulangan dari kitab-kitab sebelumnya (Kejadian – Bilangan). Hal ini akan lebih jelas dipahami ketika kita membaca Kitab Ulangan 1:1-11, yang berbunyi: “Dengar-lah, hai orang Israel! Engkau akan menyeberangi sungai Yordan pada hari ini untuk memasuki serta menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu, yakni kota-kota besar yang kubu-kubunya sampai ke langit suatu bangsa yang besar dan tinggi, orang Enak, yang kaukenal dan yang tentangnya kaudengar orang berkata: Siapakah yang dapat bertahan menghadapi orang Enak? Maka ketahuilah pada hari ini, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan di depanmu laksana api yang menghanguskan; Dia akan memunahkan mereka dan Dia akan menundukkan mereka di hadapanmu ............ Di Horeb kamu sudah membuat TUHAN gusar, bahkan TUHAN begitu murka kepadamu, hingga Ia mau memunahkan kamu. Setelah aku mendaki gunung untuk menerima loh-loh batu, loh-loh perjanjian yang diikat TUHAN dengan kamu, maka aku tinggal empat puluh hari empat puluh malam lamanya di gunung itu; roti tidak kumakan dan air tidak kuminum. TUHAN mem-berikan kepadaku kedua loh batu, yang ditulisi jari Allah, di mana ada segala firman yang diucapkan TUHAN kepadamu di gunung itu dari tengah-tengah api, pada hari perkumpulan. Sesudah lewat empat puluh hari empat puluh malam itu, maka TUHAN memberi-kan kepadaku kedua loh batu, loh-loh perjanjian itu.”
Dalam nats ini kita melihat bagai-mana inspirasi muncul karena pe-ngalaman hidup pada masa lalu yang dirasa perlu untuk diulangi dalam bentuk tulisan, meskipun tidak secara langsung diperintah-kan Tuhan untuk menuliskannya. Inspirasi juga dapat berupa catatan sejarah atau epik kepahla-wanan dari tokoh-tokoh kena-maan Israel. Demikianlah, bahan-bahan penulisan Alkitab ada yang bersifat langsung dari Tuhan dan ada yang bersifat tidak langsung, misalnya me-lalui kisah-kisah, kepahlawanan tokoh-tokoh Alkitab dan pere-nungan mendalam para penulis Alkitab. Karena itulah, semua tulisan Alkitab memiliki tujuan dan makna rohaninya.
Mengenai keakuratan Alki-tab, pertama-tama perlu dite-kankan bahwa bahan untuk penulisan Alkitab yang awal tidak cacat. Kalau dikatakan bahwa ada bagian-bagian Alki-tab yang sepertinya bertenta-ngan satu dengan lainnya, sesungguhnya hal tersebut pada dasarnya tidaklah benar. Pengertian kitalah yang sangat minim atau kesabaran kita yang rendah dalam memahami isi dan pesan-pesan Alkitab tersebut. Bagian-bagian Alki-tab sesungguhnya saling meleng-kapi satu dengan yang lain.
Ada yang berpendapat bahwa tidak tertutup kemungkinan ada-nya kesalahan yang dilakukan dalam penulisan kembali (rewriting atau editing) naskah yang awal karena bahan atau kertas yang dipakai un-tuk menulisnya telah usang. Na-mun, dengan ketekunan para penyalin untuk memeriksa kembali naskah mereka, naskah yang ada pada kita saat ini dengan naskah sebelumnya terbukti sama setelah dengan penemuan arkeologi yang terbaru di Qumran (daerah sekitar Laut Mati). Dengan demikian, tidak ditemukan adanya kesalahan dalam penulisan ulang Alkitab, yang ada adalah perubahan dalam tulisan dan tanda-tanda baca. Ka-rena pada zaman dahulu, bahan-bahan untuk penulisan Alkitab sangatlah terbatas. Tulisan-tulisan terbuat dari papyrus, daun lontar dan lempengan batu, yang isi dan keawetannya sangat terbatas. Para Masoret (ahli-ahli kitab) me-lalui check and recheck dan quality control yang memadai, sehing-ga Alkitab ditemukan sesuai dengan naskah aslinya.
Berhubungan dengan proses penerjemahan Alkitab. Para ahli sudah terlebih dahulu mengkajinya secara maksimal. Misalnya, terje-mahan yang bagaimana yang lebih baik sesuai dengan konteks bu-daya dan latar belakang dan ke-pada siapa Alkitab itu diterjemah-kan. Namun pesan-pesannya tidak pernah diubah. Yang berubah adalah pola pendekatan masing-masing, karena kita tidak boleh pungkiri aspek sosio-kultural dan aspek lainnya yang melekat pada suatu komunitas tertentu, sehing-ga pesan-pesan Alkitab bisa dite-rima dengan jelas oleh alamat su-rat atau pembaca kitab tersebut. Dengan demikian, masalah kea-kuratan Alkitab yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Alkitab tidak pernah salah, bagian-bagian Alki-tab tidak bertentangan satu de-ngan yang lainnya. Karena itu kita perlu membacanya dengan seksama.v
Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM) , Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).