Search
Translator
Laporan Utama
Selebaran-KristenisasiPicu-Penutupan-Rumah-Ibadah.jpg
Gara-gara selebaran “Kristenisasi”, GKBJ Pos Sepatan akhirnya ditutup. Masyarakat masih rentan ...
Login
User ID :
Kata Sandi :
Laporan Khusus
Menanti-Mayat-Hidup-Kembali.jpg
Reformata.com - Berharap mayat Eni bangkit lagi pada hari kelima, malah mayatnya terus membusuk. Apa alasan ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Kawula Muda

27 October 2009

Shisha Lebih Berbahaya Dari Rokok

Shisha Lebih Berbahaya Dari Rokok.jpg
ASAP mengepul di ruangan menyebar beraneka aroma   buah-buahan maupun bunga-bungaan. Itulah rokok khas Arab, atau lebih dikenal dengan istilah “shisha”. Trend ini mulai menjamur di beberapa kafe atau restoran di Jakarta. Peminatnya, siapa lagi kalau bukan anak muda yang selalu gandrung hal-hal baru, yang belum tentu baik bagi kese-hatan mereka.   
Seorang remaja putri yang se-dang asyik menikmati shisha, berujar, “Asapnya lebih banyak dan berasa. Ada sensasi seru pas ngisep, setahuku tidak bernikotin jadi tidak buruk bagi kesehatan”. Cewek itu bernama Amelya, penikmat shisha sejak kelas 3 SMP. Berbeda dengan Richal yang ber-wajah masem, seperti menahan sesuatu. Ketika ditanya ten-tang shisha, Richal berpendapat, “Saya tak tahan dengan asapnya, hanya karena diajak teman, maka-nya saya ada di sini”.
Apa itu shisha?
Shisha adalah kegia-tan mengisap temba-kau Arab dengan pe-rangkat yang terdiri dari pipa—biasa dise-but hookah atau bong—yang tersam-bung dengan selang panjang. Prinsip kerja-nya: tembakau dipa-naskan dan menghasilkan uap yang kemudian disaring sebelum dihirup. Selain hookah, bahan baku shisha terbuat dari tembakau.  
Kini ada sekitar 30 rasa temba-kau, mulai dari buah-buahan, coke-lat, vanila, dan masih banyak lagi. Tembakau shisha hanya me-ngandung maksimal 0,05 persen nikotin dan 0 persen tar. Shisha merupakan rokok tradisional di jazirah Timur Tengah, yang meng-gunakan ektrak buah pengganti tembakau yang dibakar menggu-nakan batu bara. Prosesnya meng-gunakan air sebagai filter hingga meminimalisir kadar nikotin yang masuk ke tubuh.
Menurut hasil penelitian, masya-rakat yang mengisap rokok shisha atau tembakau herbal berisiko mengalami peningkatan kadar kar-bon monoksida dalam tubuh. Hal itu disebabkan, dalam satu sesi mengisap rokok shisha memiliki kecenderungan 4-5 kali lebih tinggi kandungan karbon monoksida dalam tubuh ketimbang saat mengisap rokok tembakau.  
Tingginya kadar karbon monok-sida ini nantinya berpotensi menyebabkan kerusakan otak dan kondisi tidak sadar. Departemen Kesehatan Inggris mengatakan, begitu sulit untuk mengetahui seberapa besar karbon monoksida yang diproduksi dari sebatang rokok hingga dapat dibedakan dengan tembakau biasa. Akan tetapi alat pengukur kadar karbon monoksida dalam tarikan nafas menunjukan untuk non-perokok kadar monoksida dalam darah hanya berkisar kurang dari 1%, perokok pasif memiliki kadar monoksida dalam darah berkisar antara 20-40 ppm atau 2-4% dan untuk perokok berat, kadar monoksida dalam darah bisa men-capai 30-40 ppm, atau 5-7%.
Sementara menurut hasil pene-litian, para perokok shisha memiliki kadar karbon monoksida dalam darah mencapai 40-70 ppm atau 8-12%. Dr. Hilary Wareingm Direk-tur Pusat Kolaborasi Kontrol Tem-bakau mengatakan, dirinya begitu terkejut saat mendengar hasil penelitian. “Mulut kita begitu ter-buka terhadap level kerugian, tidak ada satu pun penelitian yang menunjukan hasil mengejutkan daripada shisha yang ternyata berbahaya bagi kesehatan,” tukasnya.
Dengan penelitian ini, maka anak muda yang sedang meng-gandrungi shisha sebagai gaya hidup, sesuatu yang nikmat, atau sekadar mengikuti trend, sudah waktunya berpikir ulang. Ternyata shisha tak lebih “baik” dari rokok, maka betapa penting setiap perkembangan yang sedang ngetrend di sekitar kita tidak harus diikuti namun perlu dicermati dan memiliki pertimbangan yang matang, apakah berguna atau tidak?
Selamat mengambil keputusan untuk bersikap yang tepat terha-dap shisha. Jika shisha dapat memberi kenikmatan tersendiri, dengan harga murah dan dapat dinikmati bersama, tapi memberi efek berbahaya di akhir kenik-matan itu. Mencintai kesehatan, berarti mencintai hidup. Selamat memberi hidup pada hidup Anda dengan melakukan yang berguna bukan sebaliknya.

                          ?Lidya

Others