Search
only search from Reformata
Translate
English Japanese French German Dutch
Laporan Utama
123Laput1.jpg
Reformata.com - MELIHAT situasi massa yang menuntut penghentian perayaan Natal pada Jumat, 25 Desember 2009 ...
Laporan Khusus
gus-dur.jpg
Tak sedikit tokoh Kristen hadir dalam perjalanan “pulang” Gus Dur. Banyak kesan tersimpan dalam ...
YM Support
Redaksi Reformata
lidya

Laporan Utama

26 October 2009

Bukan Orang Biasa

Mari Elka Pangestu.jpg
Kehadiran mereka di kabinet diharapkan memberikan sum-bangsih bagi kemajuan bangsa. Mereka memang punya potensi untuk mela-kukan itu. Berikut sekilas profil mereka yang dirangkum dari berbagai sumber.
Mari Elka Pangestu
BANYAK kalangan melihat Mari Elka Pangestu sebagai wakil kaum profesional, bukan dari partai politik. Jabatannya sebagai menteri perdagangan di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ini merupakan  periode kedua. Putri ekonom kon-dang, Panglaykim, ini sebelumnya menjadi Direktur Eksekutif CSIS (Center for Strategic and International Studies). Ia dikenal sebagai pembicara, bukan hanya di Indonesia tapi juga di berbegai belahan dunia. Ia sering dimintai masukan oleh lembaga keuangan dunia seperti World Bank dan IMF.
Nama wanita penganut  Katolik ini sudah tidak asing bagi media berkelas dunia. Dia sering menjadi narasumber bagi Time, CNN, Asiaweek dan lain-lain. Bahkan ia sering dimintai masukan oleh berbagai lembaga keuangan dunia seperi World Bank, IMF dan ADB. Sudah sangat banyak karya tulisnya yang dipublikasikan di media dalam maupun luar negeri. Ia juga menjadi kontributor pada penulisan banyak buku.

Pendidikan dari wanita kelahiran Jakarta 23 Oktober 1956  ini terfokus dalam jalur ekonomi. Ia mulai belajar di luar negeri sejak jenjang SMA. Ia meraih gelar MA dalam bidang Microeconomics, Macroeconomics, International Trade, Economic Development & Accounting dari Australian National University, Canberra (1980) dengan judul disertasi “Direct Foreign Investment in the ASEAN Countries”. Sementara gelar Ph.D. diperolehnya dalam bidang International Trade, Finance & Monetary Economics dari Universitiy of California, Davis (1986) dengan judul disertasi “The Effect of Oil Shocks on a Small Oil Exporting Country: The Case of Indonesia”.
Berbagai penghargaan pun diraihnya, antara lain dari Australian National University Masters Scholarship (1979-1980), dari University of California Regents Fellowships (1983-1984), dan dari Eisenhower Exchange Fellow, Individual National Program (1990).

Freddy Numberi
SEBELUM menjadi menteri per-hubungan di KIB II, Freddy Num-beri adalah menteri kelautan dan perikanan di KIB  I. Karier mantan menteri pendayagunaan aparatur negara ini dikira akan berujung sebagai Duta Besar RI untuk Italia. Ternyata, ia masih dipercaya sebagai menteri kelautan dan kemudian menteri perhubungan. “Saya akan berusaha meminimalisir angka kecelakaan,” tekadnya.
Pria kelahiran Serui, Papua 15 Oktober 1947 ini menamatkan pendidikan menengahnya di Jaya-pura pada 1967 dan melanjutkan ke AKABRI (1968). Tahun 1969, ia masuk pendidikan khusus AAL di Surabaya dan lulus Desember 1971.
Suami dari Anna Antoinette ini dipercaya menjadi Komandan KRI IX di kawasan timur Indonesia, Komandan Satuan Tugas Proyek Pengadaan Kapal Parchim, Frosch, dan Kondor (1995 - 1996). Karier puncak di TNI AL yang disandang-nya adalah Komandan Pangkalan Utama TNI AL V Irian Jaya - Maluku sebelum dipilih menjadi Gubernur Irja, April 1998.

Purnomo Yusgiantoro
BANYAK orang menduga bila posisinya akan bergeser menjadi menko ekonomi atau tetap di posisi yang sudah dijabatnya selama 3 periode (kabinet) yaitu ESDM. Tapi nyatanya tidak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru me-nempatkannya sebagai menteri pertahanan. Jabatan barunya itu juga menimbulkan tanda tanya: Apakah dia cocok untuk jabatan itu?
Sebenarnya, di dunia pertahanan nasional, pria kelahiran Semarang 16 Juni 1951 itu bukanlah pendatang baru.
Ia lulus Lembaga Ketahanan Na-sional (Lemhanas), Kursus Reguler Angkatan (KRA) XXV,  dan meraih Penghargaan Wibawa Seroja Nugraha, 1992.  Dari tahun 1993-1998, ia masuk dalam tim ahli  PAH (Panitia AdHoc) I, Badan Pekerja MPR-RI dalam mempersiapkan GBHN PELITA VII. Tahun  1997-1998, ia menjadi anggota Kelom-pok Kerja Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhan-kamnas), dalam mempersiapkan GBHN PELITA VII. Ia juga juga menjadi pengajar berbagai kursus kepemimpinan: LEMHANNAS, SESKOGAB, SUSPIM Pertamina dan PLN, SESPANAS, Kursus Atase Pertahanan Dephankam. Dari September 1998 hingga Agustus 2000, ia menjabat Wakil Gubernur Lemhannas.
Selama menjabat Menteri ESDM, suami dari Sri Murniati dan telah dikaruniai empat orang anak ini di-anggap sangat kerap mengeluar-kan kebijakan yang tidak populis, terutama dalam kaitan dengan harga BBM. Selama kepemim-pinannya sebagai menteri ESDM se-jak jaman Gus Dur lalu ke Megawati dan SBY, ia  telah beberapa kali melakukan penaikan harga BBM secara bertahap agar persis men-dekati harga pasar internasional. Juga telah terjadi lebih dari 10 kali kenaikan TDL (tarif dasar listrik).
Banyak demo terjadi. Tapi Pur-nomo punya kiat meredamnya. Untuk setiap kenaikan harga BBM ia menganggarkan sejumlah dana kompensasi sosial BBM sebagai subsidi, semacam jaring pengaman sosial kepada rakyat kecil yang membutuhkan. Ia lebih suka bila subsidi BBM puluhan triliun rupiah diberikan dalam bentuk subsidi langsung kepada warga miskin, daripada menetapkan harga BBM murah namun artifisial saja.

Ia meraih gelar sarjana teknik dari ITB tahun 1974. Tahun 1986 ia menyelesaikan MA dalam bidang Ekonomi dari University of Colorado at Boulder Main Campus, Colorado, USA. Tahun 1988, ia menyelesai-kan PhD Ekonomi Mineral/Sumber Daya Alam di Colorado School of Mines, Golden, Colorado, USA.
 
E.E. Mangindaan
SEMULA orang mengira bila mantan Pangdam VIII/Trikora yang lahir di Solo, Jateng,  5 Januari 1943 ini akan menjabat sebagai mendagri pada KIB I. Tapi kesem-patan itu tertunda. Dalam KIB II, ia ditunjuk sebagai men-PAN. Jaba-tan yang juga jauh dari harapan banyak orang. Umum mengatakan, dia lebih cocok sebagai mendagri.  
Semasa menjabat Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) periode 1995-2000, ia dikenal sebagai pe-cinta sepak bola. Mantan pemain sepak bola PSM Makassar itu juga sukses menghantarkan Persiraja Banda Aceh menjuarai kompetisi Divisi Utama Perserikatan tahun 1977, Ketua Harian Persebaya Surabaya, menjabat  Manajer Tim-nas PSSI, dan anggota Dewan Kehormatan PSSI.
Tahun 2004-2009, ia menjabat Ketua Komisi II dari Partai Demokrat dan kini diangkat sebagai menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. Kiprahnya di bidang politik dimulai sejak 1995-2000 ketika menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Sulut.   Keterlibatan Mangindaan sebagai seorang wakil rakyat terutama di Komisi II yang membidangi Peme-rintahan Dalam Negeri sangat me-nonjol sehingga dirinya terpilih sebagai Ketua Komisi II DPR.

Comments

Post your comment
* Your Name :
* Your Email :
* Description :
Chars remaining :
Enter the Verification Code shown!

Others