ADA banyak restoran dengan ciri khas dari daerah tertentu, bahkan tidak jarang dari negara tertentu. Kita sering mendengar restoran Jepang, restoran Korea, restoran Thailand, atau pun restoran daerah Reformata.com - seperti restoran Padang, retoran Makassar, Manado dan masih banyak lagi jenis restoran lainnya yang menawarkan cita rasa dari daerah tertentu.
Restoran Pondol, yang berarti Pondok Es Cendol, tidak hanya menyajikan masakan dari satu daerah tertentu saja, melainkan dari berbagai daerah di wilayah Jawa. Beraneka makanan seperti timlo solo, kupat tahu magelang, nasi terik, atau nasi gudeg dapat ditemui di restoran ini.
Menurut pemilik usaha rumah makan Pondol, Liliani Kuswadarni, usaha ini ia mulai rintis bersama suaminya pada 1990. Sebelumnya ia bekerja pada sebuah perusahaan swasta, namun karena pada tahun tersebut situasi ekonomi sudah mulai tidak stabil ia memutuskan untuk membuka sebuah usaha restoran. Ide awalnya, Liliani bersama suami, Agus Hartanto merasa bahwa cukup sulit untuk menemukan sebuah tempat santai yang menjajakan minuman murah di tengah panasnya kota Jakarta. Berbekal ide tersebut ia dan sang suami yang memiliki latar belakang perhotelan berinisiatif membuka usaha minuman. Memang ide awalnya adalah tempat menjual aneka minuman, namun seiring berjalannya waktu, usahanya berkembang dan juga menyediakan aneka makanan.
Memang awal memulai usaha ini ada sedikit kekhawatiran dari Liliani dan suami, mengingat bahwa mereka sama sekali tidak memiliki latar belakang kuliner. Namun mengingat ibunya memiliki kemampuan memasak dan suami yang berlatarbelakang perhotelan, dibulatkanlah tekad dengan tetap berdoa dan berserah pada Tuhan.
Modal awal yang kecil dimanfaatkan untuk membeli beraneka perleng-kapan usaha dan meminjam sebuah tempat kerabat di wilayah Grogol, Jakarta Barat. Tempat usaha mereka memang awalnya cukup terbatas, karena hanya menggunakan pelataran rumah saja. Awal membuka usaha ini jenis makanan memang sudah ada namun tidak banyak, lebih banyak jenis minuman atau es saja. Selain itu karyawan yang mereka pekerjakan pun hanya dua orang. Sejak awal, menu yang mereka tawarkan memang menu khas Jawa. Lebih unik lagi ternyata rumah makan Pondol ini menyediakan menu yang tidak ditemui di tempat lain, salah satunya adalah gempol pleret. Untuk meracik menu yang ditawarkan di tempat ini, mulai dari sirup, es, tahu, dan beraneka makanannya dibuat sendiri, jadi segala bahan bakunya dapat dipastikan tetap higienis. Serta gula yang dipergunakanpun adalah gula asli.
Kini minuman yang mereka tawarkan ada 60 jenis, sedangkan untuk makanan ada 30 jenis. Beraneka jenis makanan dan minuman yang mereka tawarkan tersebut pun adalah beraneka jenis makanan dan minuman khas dari berbagai daerah di Jawa. Kisaran harganya pun sangat variatif dan tergolong murah yakni berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 18.000. Dengan jadwal operasional mulai dari pukul 10.00 sampai pukul 20.00 malam pengunjung yang datang dapat mencapai seratus sampai dua ratus orang setiap harinya.
Ibu dari Tesa Ayuningtias Sugito dan Harun Resa Sugito ini merasa bahwa strategi dalam menjalankan usaha ini adalah dengan menyajikan menu makanan yang lebih ringan daripada makanan di tempat lain. Ia menambhakan bahwa sering kali para karyawan yang telah makan siang di tempat lain mampir ke tempatnya untuk makan atau pun minum. Ia biasa menyebutnya dengan “makan iseng”. Jadi bobot makanan yang ditawarkan lebih ringan dari kebanyakan rumah makan yang ada, dengan porsi yang lebih kecil tentunya harga dari makanan yang ia tawarkan pun dapat ditekan lebih murah. Dengan sendirinya harga murah ini menjadi daya tarik bagi siapa saja yang mencintai santapan kuliner dari Jawa ini. Makanan-makanan yang bobotnya lebih ringan tersebut antara lain, kupat tahu, tahu magelang, lotek, gimbal udang ataupun biasa disebut bakwan udang dan masih banyak jenis makanan lainnya.
Kini dia ini telah mempekerjakan sebanyak 30 karyawan. Aktivitas usahanya pun tidak hanya sebatas menunggu pembeli datang. Ia juga menerima pesanan untuk acara seminar-seminar dan acara-acara tertentu baik formal maupun nonformal. Di samping itu untuk acara gereja biasanya Liliani dapat memberikan harga dengan potongan khusus. Karena bagi Liliani untuk acara gereja tentunya uang yang dipakai adalah uang jemaat, karena itulah Liliani dapat memberikan negeosiasi harga yang berbeda dengan tarif harga menu biasanya. Di balik semua itu tentunya tidak lupa bahwa kualitas dan rasa dari makanan ataupun minuman yang ditawarkan harus tetap dijaga. Jenda