Esther Gunawan, M.K.
Ibu Konselor yang terhormat, saat ini saya pacaran dengan pria seiman. Kami sama-sama berumur 35 tahun. Tahun depan kami merencanakan menikah dan sudah direstui orangtua kami. Rencananya kami mau ikut konseling pra-nikah di gereja. Delapan bulan lalu tahu-tahu pacar saya kena gejala gangguan kejiwaan. Sejak saat itu dia terpaksa berhenti kerja. Kata psikiater dia kena gejala skizoprenia, karena ia stres pernah dituduh korupsi. Dia menjadi orang yang lain sekali, tidak seperti dulu. Suka melamun, semua orang dia curigai dan katanya suka mendengar suara-suara di telinganya. Cuma pada saya dia bisa percaya. Orangtua saya belum tahu hal ini. Saya sendiri tidak berani memberitahu, takut mereka melarang kami menikah. Saya tidak tega memutuskan hubungan kami. Apalagi kami sudah cukup lama pacaran, usia kami pun tidak muda lagi. Apakah mungkin kita bisa membangun rumah tangga yang baik Bu, dengan seorang penderita skizoprenia? Apakah kondisi pacar saya bisa benar-benar sembuh?
Lusi,
Lampung
HAI Lusi, tentunya tidak mudah ya menerima keadaan pacar yang tahu-tahu mengalami gejala skizop-renia. Saya juga bisa memahami jika Lusi belum berani berterus terang pada orangtua, karena belum tentu orangtua mau menerima begitu saja keadaan pacar.
Dari surat Lusi saya mendapat kesan bahwa Lusi sendiri ingin tetap menikah apa pun keadaan pacar, dengan pertimbangan sudah lama pacaran, usia yang sudah matang dan tidak tega memutuskan hubungan. Tapi di sisi lain, Lusi juga ingin mendapat kepastian apakah mungkin menjalani hidup rumahtangga dengan keadaan pacar seperti ini.
Memang sebelum memutuskan untuk menikah pasangan sebaiknya lebih dahulu mempunyai informasi yang jelas tentang apa itu skizoprenia dan bagaimana hidup dengan orang yang mengalami hal itu.
Gejala utama skizoprenia biasanya ditandai dengan adanya halusinasi, yaitu melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan pikiran mengalami distorsi (pikiran yang menyimpang, aneh, dan tidak logis, walaupun bagi ybs logis). Skizoprenia termasuk gangguan kejiwaan berat atau psikotik. Seperti yang Lusi gambarkan tentang pacar, orang yang mengalami hal ini kemudian tampak menjadi orang yang berbeda sekali dari kepribadian sebelumnya. Yang tadinya bisa berpikir jernih dan bekerja atau produktif, kemudian tahu-tahu tidak bisa konsentrasi, merasa sangat cemas dan timbul ketakutan tanpa sebab, tidak jarang mempunyai sikap curiga yang berlebihan atau disebut paranoid, sulit tidur, kadang menolak makan, takut ketemu orang, kadang bersikap histeris, impulsive atau tidak bisa mengontrol perilaku, menangis dan tertawa tanpa sebab, sulit berkomunikasi dengan orang lain alias tidak nyambung. Ada juga penderita skizoprenia yang bercampur dengan depresi atau kadang obsesif-kompulsif. Hal ini berlangsung setiap hari dan jika tidak segera diobati gejalanya akan semakin parah.
Pengobatan yang diberikan lebih baik meliputi 2 macam, yaitu pertama, menggunakan obat dengan di bawah pengawasan seorang spikiater (sebaiknya jangan ganti-ganti psikiater agar psikiater tsb dapat mengikuti perkembangan pasien dengan lebih baik). Kedua, setelah pasien dapat diajak berkomunikasi kembali dengan baik atau nyambung maka sebaiknya dia menjalani konseling/psikoterapi yang intensif (bisa seminggu sekali) dalam beberapa waktu dengan seorang konselor Kristen yang mengerti masalah ini.
Jika Lusi memang sudah mantap untuk tetap menikah, ada beberapa masukan dari saya yang mungkin bisa menjadi pertimbangan :
1. Keputusan untuk menikah lebih baik menunggu sampai kondisi pacar stabil dalam arti ia sudah bisa mengontrol emosinya, sudah bisa berpikir dengan jernih, dan fungsi sehari-hari sudah bisa kembali dilakukan. Sebaiknya tidak mengambil keputusan yang terburu-buru yang hanya akan membuahkan penyesalan di kemudian hari. Begitu juga jika alasan menikah lebih banyak karena usia dan lamanya pacaran tampaknya tidak cukup kuat terutama ketika menghadapi tantangan dalam berumah tangga. Tentu saja keterbukaan dengan orangtua juga perlu dipertimbangkan karena dengan begitu mereka dapat memberikan dukungan yang mungkin Lusi butuhkan dengan menikahi orang yang mempunyai keadaan khusus.
2. Pacar tetap disarankan mengikuti pengobatan (seperti penjelasan di atas) sampai terlihat kemajuannya. Sayangnya Lusi tidak memberikan informasi apakah sampai saat ini pacar masih berobat dengan di bawah pengawasan seorang psikiater atau tidak, apakah sudah mengikuti konseling/ psikoterapi atau tidak.
3. Penderita skizoprenia tentu saja bisa diobati tetapi jika yang Lusi maksud adalah benar-benar sembuh total kembali seperti sebelumnya biasanya sulit terjadi. Kebanyakan mereka bisa “kambuh” terutama jika mengalami masalah atau tekanan/stres yang bagi mereka dirasakan berat. Itu sebabnya mereka perlu konseling yang intensif supaya daya tahan mereka dapat diperkuat terutama saat menghadapi kesulitan atau tekanan. Pasangan pun sebaiknya ikut sesi konseling agar dapat lebih mengerti bagaimana menghadapi ybs dan menyesuaikan diri dengan keadaannya.
4. Binalah terus hubungan yang akrab dengan Tuhan Yesus karena Dialah Sumber kekuatan yang utama. Penderita skizoprenia seringkali juga kurang punya rasa percaya diri dan cenderung mudah frustrasi. Hubungan yang akrab dengan Tuhan membuat mereka menyadari bahwa selalu ada pengharapan dan kekuatan dari Tuhan. Selain itu, jangan dilupakan persekutuan atau hubungan dengan saudara seiman karena hubungan sosial yang sehat juga memberi kontribusi positif.
Demikian Lusi, masukan dari saya. Tuhan Yesus kiranya selalu menjadi Sahabat Setia yang menyertai Lusi terutama di saat mengambil keputusan.v