TAHUN 80-an, Kampung Sawah di Cakung-Cilincing, Jakarta Utara, pernah menjadi tempat pembuangan mayat tanpa identitas. Mayat yang dibuang ke sana umumnya korban “Petrus” (penembak misterius) yang memang marak ketika itu. Mayat bayi aborsi dan korban kriminalitas lain juga sering dibuang di sana.
Warga Kampung Sawah yang terdiri atas beraneka etnis tidak kaget lagi setiap kali ada mayat terdampar di kawasan yang banyak rawa itu. Tidak heran jika kampung itu dijuluki “kampung angker”. Julukan itu makin pas jika dihubungkan dengan kebiasaan banyak warga yang suka mabuk, main judi, preman, pelaku kriminal. Semua berbaur menjadi satu. Kebanyakan warga bermata pencaharian sebagai pemulung. Mendekati malam, suasana kampung makin menakutkan karena listrik belum masuk.
Karena tidak ada kegiatan, remaja putri biasanya hanya duduk sambil menyibak-nyibak rambut ibunya, mencari kutu. Sementara remaja lain dan anak-anak kecil hanya bermain dan berkeliaran sepanjang hari.
Suatu hari, seorang perempuan paruh baya melintas ke tengah perkampungan. Perempuan yang ternyata seorang pendeta dan bernama VS Backer itu menghampiri sejumlah remaja dan menanyakan alasan tidak sekolah. Jawaban mereka seragam: tidak ada uang. Tidak heran jika banyak anak-anak usia sekolah itu yang buta huruf. Perempuan kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, 16 Januari 1957 ini sangat prihatin, dan hatinya tergerak untuk berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Sambil berdoa kepada Tuhan, ia ingin membangun sekolah bagi anak-anak itu. Backer sempat ragu memulai “proyek” sosial tersebut karena dana terbatas. Namun, perkataan Tuhan terdengar jelas di telinganya agar rencana itu dikerjakan saja dan Tuhan sendiri akan menyelesaikan semua.
Pada 1993, janji iman Backer diawali dengan mendirikan sebuah gereja bernama GBI Kampung Sawah. Tanpa diduga, sejumlah donatur yang tidak dikenal Backer, baik dari dalam maupun luar negeri, menitipkan uang untuk membantu pelayanannya. “Tuhan Yesus menggerakkan hati orang-orang membantu pelayanan ini,” ungkapnya sumringah. Dari bantuan itu, Backer bersama jemaat rutin menebar kebajikan dengan membagikan sembako dan nasi bungkus setiap terjadi banjir.
Beberapa rumah warga yang tidak layak huni dibeli. Di bawah Yayasan Berkat Kasih Imanuel, Backer mendirikan poliklinik pada 1996. Dia sendirian menjadi tenaga medis. Backer pernah menyelesaikan pendidikan keperawatan di Bandung dan pendidikan guru di Jawa Tengah. Selanjutnya, gedung sekolah dia bangun bertahap dari TK dan SD. Sedangkan gedung SMP baru dibangun satu kelas. Kini, jumlah murid dari TK sampai SMP mencapai 300 siswa. Banyak warga memohon agar ada penambahan ruang sampai kelas tiga. “Saya kasihan melihat mereka tidak ada uang untuk melanjut ke sekolah lain,” tuturnya.
Dilandasi doa dan puasa
Jalan masuk ratusan meter ke lokasi Kampung Sawah terasa berbeda. Ribuan batu paving blok menjadi pijakan warga sejak Yayasan Berkat Kasih Imanuel menebar kasih di sana. Lewat Yayasan Berkat Kasih Imanuel, warga Kampung Sawah kini bisa menikmati pelayanan kesehatan dan sekolah gratis. Warga pun dipersilakan mengirimkan sanak keluarga yang manula dan yatim piatu untuk dititip di panti asuhan, panti jompo dan asrama. Semuanya tanpa dipungut biaya. Program sosial lainnya yang bisa dinikmati warga adalah fasilitas pelatihan menjahit sebagai modal kerja. Program ini vital mengingat Kampung Sawah tidak jauh dari lokasi industri Kawasan Berikat Nusantara (KBN) yang memiliki ribuan pekerja.
Dari sekian tindakan sosial yang dipersembahkan Backer telah membuat banyak perubahan nyata dari kampung yang semula kumuh dan angker menjadi indah dan damai. Warga mendukung apa pun yang dikerjakan Backer, tak terkecuali kegiatan berbau Injil. Sudah banyak orang mengambil keputusan menerima Yesus lantaran melihat bakti kasih Backer. Bahkan, warga beragama lain siap menjadi tameng jika gereja di sana diganggu. Satu hal lagi yang mengharukan hati Backer adalah ketika melihat seorang warga non-Kristen memajang gambar Tuhan Yesus di rumahnya.
Aksi Backer seyogianya menjadi acuan bagi gereja-gereja lain yang saling berlomba mendirikan gereja cabang di kawasan kota dan pusat bisnis tanpa mau turun ke kawasan kumuh. ¿ Herbert Aritonang