Paus Benediktus XVI agaknya serius dengan permintaan maafnya terhadap korban pelanggaran seks oleh para pastor. Pemimpin Gereja Katolik Roma ini mengajak empat korban bersatu dalam sebuah misa, Senin (21/7) pagi.
Keempat orang yang dianggap mewakili korban-korban lain itu diajak beribadah di Kapel St Maria, Sydney, kurang dari satu jam sebelum Paus lepas landas kembali ke Roma, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald.
Menurut panitia Hari Pemuda Sedunia, Paus mendengarkan semua kisah mengerikan yang mereka alami. Paus tak lupa meyakinkan bahwa ia memberikan dukungan penuh dan doa kepada para korban beserta keluarganya.
Pertemuan itu tidak masuk jadwal acara, dan menurut keuskupan dirancang pada saat-saat terakhir. Bahkan, kabar soal pertemuan itu baru diterima korps wartawan Vatikan saat mereka berada di bus menuju pesawat Qantas yang akan membawa mereka kembali ke Roma.
Keempat korban, dua pria dan dua wanita, serta berapa pendukungnya bertemu secara khusus dengan Paus mulai pukul 07.00 waktu setempat. Hadir pula dalam acara itu Kardinal Australia George Pell dan Uskup Agung Fernando Filoni dan dua sekretaris Vatikan.
Di akhir misa, para korban diberi kesempatan untuk bicara secara pribadi dengan Paus, yang kemudian menenangkan mereka dengan kata-kata penuh kasih sayang.
Paus mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan para korban sebagai sebuah isyarat nyata dan untuk mengungkapkan kesedihan sekaligus permintaan maafnya secara langsung. Ia mengatakan, pertemuan itu dilakukan setelah seluruh perayaan Hari Pemuda Sedunia karena ia tidak ingin pertemuan itu menghantui acara inti.
Dalam pernyataannya, Keuskupan Sydney gembira Paus bersedia menerima tiga korban yang dipilihkan oleh Lembaga Standard Profesional Gereja Katolik. "Pertemuan Bapa Suci dengan para korban merefleksikan berlanjutnya komitmen seluruh gereja di Australia untuk memberi kesembuhan dan keadilan bagi mereka yang telah disakiti begitu rupa lewat pelanggaran seks," kata keuskupan.
Panitia Hari Pemuda Sedunia mengatakan, dengan pertemuan itu Paus ingin menunjukkan keprihatinan sekaligus dukungan terhadap semua korban pelanggaran seks para pastor Katolik di seluruh dunia. Pertemuan itu dianggap sebagai sukses kunjungan Paus ke Australia.
Namun, tindakan Paus itu dianggap belum cukup, setidaknya oleh Anthony Foster yang dua anak gadisnya yang diperkosa pastor saat duduk di sekolah dasar. "Saya senang sudah banyak orang yang bertemu dengannya, itu sangat membantu buat mereka. Namun, menurut saya (gereja) kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan orang-orang seperi kami dan Broken Rites (kelompok pendamping) yang benar-benar mewakili kebutuhan para korban," kata Foster.
Foster sengaja memangkas masa liburannya di Skotlandia hanya untuk bertemu dengan Paus dan membicarakan nasib anaknya. Namun, ia tidak diundang dalam misa pagi itu. Pagi-pagi sekali ia sudah sampai di bandara sebagai upaya terakhirnya bisa menemui Paus untuk menyampaikan sarannya agar gereja lebih peduli pada korban kenakalan para pemuka agama itu. Foster dan istrinya, Christine, yakin gereja menangani isu yang mendorong anaknya, Emma (26), bunuh diri pada Januari lalu.
Menurut Foster, pertemuan dengan para korban yang tidak disebutkan namanya pada jam terakhir Paus di Australia itu sama saja dengan menelikung, tidak ditangani dengan baik, dan mengecewakan. Ia juga menyebut acara itu sekadar memoles citra gereja yang sudah tercoreng.
"Mana kepedulian dan kasih sayang yang dia (Paus) omongkan Sabtu kemarin? Tentu saja mereka berdalih para korban ingin menjaga privasi," kata Foster menggerutu.
Sumber:Kompas